LOW BACK PAIN (LBP) E KAUSA SPONDILOSIS

                    NYERI PUNGGUNG BAWAH AKIBAT SPONDILOSIS

PENDAHULUAN
      Sakit pinggang atau biasa dikenal dengan sebutan ‘low back pain’ merupakan suatu keadaan yang ditandai dengan gejala utama berupa rasa nyeri atau perasaan lain yang tidak enak didaerah tulang punggung bagian bawah dan sekitarnya.
       Low back pain merupakan suatu keadaan yang sering terjadi di masyarakat dimana 60% - 80% orang dewasa pernah mengalami keadaan seperti ini. Pada tahun 1995 tercatat bahwa tiap 2 orang dari 100 orang pekerja di Amerika menderita low back pain.3 Banyak hal yang dapat menyebabkan terjadinya sakit pinggang ( low back pain ) antara lain adalah akibat proses degeneratif yaitu spondilosis.
         Spondilosis ( spinal osteoarthritis )adalah penyakit inflamasi kronis dengan etiologi yang belum/tidak diketahui. Penyakit ini terutama menyerang kerangka axial, akan tetapi dapat juga menyerang sendi perifer yang kadang-kadang merupakan gambaran yang cukup penting bagi spondylitis . Pada kasus yang berat, terjadi kalsifikasi perivertebrae yang akan memberikan gambaran seperti ruas bambu (bamboo spine)
.
           Low back pain yang diakibatkan oleh spondilosis di Amerika merupakan angka terbanyak kedua sesudah gangguan pernapasan yang menyebabkan orang datang ke dokter untuk diperiksa dan di obati. Dalam mengatasi masalah ini maka diperlukan kerjasama yang baik dari semua unsur yaitu pasien dan dokter dalam hal ini dikhususkan peranan dari rehabilitasi medik didalam upaya mengatasi nyeri yang berdampak langsung terhadap kualitas hidup, pekerjaan / aktivitas sehari-hari.


KLASIFIKASI
Didalam diagnosa dan pemeriksaan klinik, low back pain ( LBP ) dibagi sebagai berikut :

  • LBP traumatik.
    • LBP akibat trauma pada unsur miofasial.
    • LBP akibat trauma pada komponen keras pada susunan neuromuskuloskeletal.
  • LBP degeneratif.
    • Spondilosis.
    • HNP ( hernia nukleus pulposus ).
    • Stenosis spinalis.
    • Osteoartritis.
  • LBP inflamasi.
    • Artritis rematoid.
    • Spondilitis angkilopoetika.
  • LBP osteroporotik.
  • LBP akibat neoplasma.
  • LBP akibat kelainan congenital.
  • LBP sebagai referred pain.
  • LBP akibat gangguan sirkulatorik.
  • LBP psikoneurogenik.

GAMBARAN KLINIK

Gejala klinis LBP akibat spodylositis adalah, sebagai berikut :

  • Nyeri dan kaku pada pinggang Nyeri pinggang (low back pain) merupakan keluhan yang sering pula dijumpai pada masyarakat yang bukan penderita penyakit ini. Oleh karena itu perlu diketahui bahwa nyeri pinggang pada ankylosing spondylitis ditandai oleh : 
  • dimulai dengan adanya rasa nyaman di pinggang dan penderita sebelum berumur 40 tahun;
  • Permulaannya insidious (perlahan-lahan). 
  • nyeri menetap paling sedikit selama 3 bulan; 
  • berhubungan dengan kaku pada pinggang waktu pagi hari; 
  • nyeri berkurang/membaik dengan olah raga. 


Rasa sakit mula-mula dirasakan pada daerah gluteus bagian dalam, sulit untuk menentukan titik asal sakitnya dengan permulaan yang insidious. Kadang-kadang pada stadium awal nyeri dirasakan hebat di sendi sacroiliacs, dapat menjalar sampai kista, iliaca atau daerah trochanter mayor, atau ke paha bagian belakang. Nyeri menjalar ini sangat menyerupai nyeri akibat kompresei nervus ischiadicus. Rasa sakit bertambah pada waktu batuk, bersin atau melakukan gerakan memutar punggung secara tiba-tiba.

Pada awalnya rasa sakit tidak menetap dan hanya menyerang satu sisi (unilateral); sesudah beberapa bulan nyeri biasanya akan menetap dan menyerang secara bilateral disertai rasa kaku dan sakit pada bagian di bawah lumbal. Rasa sakit dan kaku ini dirasakan lebih berat pada pagi hari yang kadang- kadarig sampai membangunkan penderita dari tidurnya. Sakit/ kaku pagi hari ini biasanya menghilang sesudah 3 jam.

Di samping itu kaku/sakit pagi hari ini akan berkurang sampai hilang dengan kompres panas, olah raga atau aktivitas jasmani lain . Pada penyakit yang ringan biasanya gejala timbul hanya di pinggang saja dan apabila penyakitnya bertambah berat, maka gejala berawal dari daerah lumbal, kemudian thorakal akan akhirnya sampai pada daerah servikal : untuk mencapai daerah servikal penyakit ini memerlukan waktu selama 12-25 tahun.

Penyakit ini kadang-kadang dirasakan sembuh sementara atau untuk selamanya, akan tetapi kadang-kadang akan berjalan terus dan mengakibatkan terserangnya seluruh tebrae. Selama perjalanan penyakitnya dapat terjadi nyeri radi- kuler karena terserangnya vertebra thorakal atau servikal dan apabila telah terjadi ankylose sempurna, keluhan nyeri akan menghilang.




DIAGNOSA

Dalam menegakkan diagnosa perlu diperhatikan hal – hal seperti derajat nyeri, stadium penyakit, lokasi nyeri dan faktor mekanik, derajat disfungsi, faktor resiko dan pekerjaan, ada tidaknya trauma dan hasil pemeriksaan penunjang.

  • ANAMNESA
    • Dalam menghadapi setiap sindroma nyeri, pemeriksa harus mengingat betapa pentingnya membiarkan pasien menjelaskan penderitaannya secara bebas. Pada wawancara penting untuk ditanyakan mengenai lamanya; saat dan keadaan mulai timbulnya, lokasi, sifat nyeri dan gejala pengiringnya, bagaimana hubungannya dengan gerakan, faktor – faktor apa yang menyebabkan nyeri semakin bertambah atau berkurang, obat apa yang telah diberikan
    • pada kasus LBP akibat spodilitis, yang wajib di tanyakan adalah penyakit ini dimulai pada waktu dewasa dan sedikit sekali yang dimulai sesudah umur 40 tahun, oleh karena itu riwayat perjalanan penyakit penting untuk di tanyakan pada anamnesis, selain itu  riwayat keluarga yang menderita penyakit yang sama serta bagaimana status psikologik pasien dan apakah adanya kaku dan nyeri pinggang inflamasi
  • PEMERIKSAAN FISIK
    • Pemeriksaan dimulai pada saat pasien masuk ke dalam ruang periksa. Gaya berjalannya (gait) diperhatikan. Cara pasien hendak duduk diobservasi dan juga sikap duduk yang disukainya harus diketahui. Pada pemeriksaan fisik harus diperhatikan hal – hal pokok pada sususnan neuromuskuloskeletal yaitu : penentuan lokasi dan nyeri tekan, penyelidikan terhadap nyeri gerak, penyelidikan terhadap nyeri pada kontraksi isometrik, penyelidikan terhadap pembatasan lingkup gerakan.
  • PEMERIKSAAN RADIOLOGIS DAN LABORATORIUM
    • Foto polos tulang belakang khususnya daerah lumbosakral bermanfaat untuk diagnosis faktor osteogenik dan sebagian diskogenik. 
    • Pemeriksaan laboratorium, biasanya laju endap darahnya tinggi, tanpa kelainan biokimia yang lain, dan sering ditemukan HLA-B27 positif. Untuk memudahkan menegakkan diagnosis telah dibuat kriteria-kriteria tertentu; umumnya berdasarkan atas gejala klinis dan pemeriksaan radiologis. 
Pada low back pai yang di sebabkan oleh  spondylitis mempunyai ciri-ciri yang khas yaitu : 
  1. Permulaan rasa tidak nyaman pada punggung dimulai sebelum umur 40 tahun. 
  2. Permulaan timbulnya secara perlahan-lahan. 
  3. Menetap paling sedikit selama 3 bulan. 
  4. Disertai dengan rasa kaku pagi hari. 
  5. Membaik dengan latihan/olah raga. 
Adanya riwayat nyeri punggung inflamasi dan adanya riwayat keluarga dapat dipakai sebagai alat/sarana diagnostik. Nyeri pinggang inflamasi telah dilaporkan mempunyai sensitivitas 95%, dan spesifisitas antara 85-90% untuk diagnosis ankylosing spondylitis.

PENATALAKSANAAN
Pada prinsipnya penanganan LBP terdiri dari :

  • Tanpa Pembedahan :
    • Bed rest
    • Obat – obatan untuk mengurangi rasa nyeri, biasa digunakan obat – obatan jenis
      • NSAID.
      • Sulfasalazin 
        • Pemakaian sulfasalazin pada ankylosing spondylitis ber- dasarkan atas hubungan yang erat antara inflammatory bowel disease dengan spondyloarthropathy, dan sulfasalazine terbukti cukup efektif untuk pengobatan inflammatory bowel disease. Sulfasalazin telah dicoba untuk mengobati penderita ankylosing spondylitis dan ternyata cukup berhasil dalam mengurangi/ menghilangkan kaku pagi hari, rasa sakit dan menurunkan kadar lgA dalam darah serta dapat mencegah terjadinya uveitis yang berulang
    • Rehabilitasi medik. 
      • Rehabilitasi medik pada penderita LBP haruslah dilakukan secepat mungkin setelah pasien datang untuk memeriksakan diri. Rehabilitasi medik dalam hal ini berfungsi untuk meningkatkan kekuatan otot, fleksibilitas, mobilitas, koordinasi, stabilitas, keseimbangan, dan membantu relaksasi. Dalam hal ini pasien LBP juga mendapat terapi tambahan dirumah seperti back therapy serta properback mechanism.
  • Dengan pembedahan.


LAPORAN KASUS PENYAKIT NYERI SENDI BAWAH AKIBAT SPODILOSIS


  • Identitas pasien
    • Nama : Ny. Sp
    • Umur : 52 Tahun
    • Alamat : Ranoyapo
    • Agama : Kristen protestan
    • Pekerjaan : Ibu rumah tangga
    • Jenis kelamin : Perempuan
    • Suku bangsa : Minahasa/Indonesia
    • Tanggal periksa : 4 Desember 2007
  • Anamnesa
    • Keluhan utama : Timbul nyeri didaerah pinggang.
    • Riwayat penyakit sekarang : Nyeri pinggang dialami oleh pasien sejak 1 tahun yang lalu. Awalnya pasien hanya merasa pegal – pegal pada daerah pinggang yang kemudian lama  kelamaan berubah menjadi rasa nyeri. Nyeri bersifat hilang timbul, nyeri paling terasa pada waktu pasien melakukan pekerjaan seperti mencuci pakaian, menyetrika, menimba air, mengangkat barang yang berat atau ketika pasien berjalan lama. Nyeri yang menjalar sampai ke daerah tungkai disangkal oleh pasien. Pasien juga pernah jatuh dari motor 2 tahun yang lalu dengan posisi terlentang, dan dibawah ke RSU Prof Kandou untuk diperiksa juga di rontgen dan menurut dokter pada waktu itu pasien tidak apa – apa. Pasien sudah berobat di poli Interna dan di beri obat Meloxicam dan Ranitidin, tetapi pasien tetap merasakan nyeri di daerah pinggang. Pasien juga mengeluh bahwa pasien tidak mampu lagi melakukan pekerjaan rumah tangga seperti biasanya, seperti mencuci, menyetrika dan membersihkan rumah akibat sakit pinggang yang dialaminya. BAB / BAK tidak ada keluhan apapun.
    • Riwayat penyakit dahulu :
      • Pasien tidak pernah mengalami penyakit ini sebelumnya. Asam urat, kencing manis, darah tinggi, belum pernah diperiksakan oleh pasien.
    • Riwayat penyakit keluarga :
      • Hanya pasien sendiri yang mengalami penyakit seperti ini di dalam keluarga.
    • Riwayat kebiasaan :
      • Pasien sering duduk lama di depan televisi, pasien sering mengangkat barang yang berat, pasien sering berdiri lama untuk menyetrika pakaian.
    • Riwayat sosial medik :
      • Pasien tinggal dirumah permanen, tidak bertingkat, atap seng, dinding beton, WC jongkok letak di dalam rumah, dihuni oleh 4 orang dewasa.
      • Visual analoque scale ( VAS ).  0 5 10

PEMERIKSAAN FISIK

  • a. Status generalis
    • Keadaan umum : Cukup
    • Kesadaran : Compos mentis
    • Tekanan darah : 120/80 mmhg
    • Nadi : 72 kali/menit
    • Respirasi : 22 kali/menit
    • Suhu : 36,5ºC
    • Kepala : Konjungtiva anemis (-), sklera ikterik (-).
    • Leher : Pembesaran KGB (-)
    • Thoraks : Bunyi jantung I dan II normal, bising (-), suara pernapasan vesikuler, ronki -/-, wheezing -/-
    • Abdomen : Datar, lemas, timpanis, bising usus (+) normal, hepar dan lien tidak teraba.
    • Ekstremitas : Akral hangat, edema (-)
  • b. Status motorik





  • c. Status lokalis
    • Pada regio lumbosakral :
      • Tes penekanan pada regio lumbal : Terdapat nyeri tekan (+) pada vertebrae lumbal 3 – 5
      • Tes melipat kulit : Spasme (+) pada lumbal 3 – 5
  • d. Tes provokasi
    • Patrick : +/-
    • Kontra Patrick : +/-
    • Laseque : -/-
    • Bragard : -/-
    • O’connell : -/-
    • FNST : -/-
    • Valsava : -
    • Nafziger : -
  • e. Pemeriksaan radiologis
    • X – foto lumbal AP/lateral : Spondilosis Lumbalis.

  • DIAGNOSA
    •  Klinis : Low back pain.
    • Etiologis : Spondilosis lumbalis.
    • Topis : Vertebrae lumbal 3 – 5.
    • Fungsional : Disabiitas.
  • PENATALAKSANAAN
    • Medikamentosa :
      • Analgetik : meloxicam 2 × 7,5 gr
      • Roborantia : Kalsium, B – kompleks.
    • Rehabilitasi medik :
      • Fisioterapi
      • Evaluasi :
        • Nyeri pinggang
      • Program :
        • MWD regio lumbosakral
        • Back exercise
        • Properback mechanism.


    •  Okupasi dan terapi
      • Evaluasi :
        • Gangguan aktivitas sehari – hari.
      • Program :
        • Memberikan penjelasan untuk menghindari kegiatan membungkuk dan mengangkat beban berat.
        • Latihan cara duduk, cara tidur, dan cara berdiri yang benar ( sesuai dengan properback mechanism ).
    • Ortotik prostetik.
      • Evaluasi :
        • Pasien masih mampu melakukan tugas sebagai ibu rumah menggunakan ekstremitas superior seperti mencuci dan menyetrika walaupun tidak sama sebelum pasien mendapat nyeri pinggang, penderita masih dapat berjalan tanpa alat bantu.
      • Program : Saat ini belum diperlukan.
    • Psilokogi
      • Evaluasi :
        • Kontak, pengertian serta komunikasi yang baik, motivasi berobat baik, tidak ada masalah dengan anggota keluarga yang lain
      • Program : Saat ini belum diperlukan.
    • Sosial medik.
      • Evaluasi :
        • Biaya pengobatan ditanggung oleh ASKES maskin
      • Program :
        • Memberikan motivasi ( support mental ) pada penderita agar terus melanjutkan terapi dan tetap terus berusaha menjalani kehidupan sehari – hari walaupun banyak tugas sebagai ibu rumah tangga tidak dapat dilakukan sepenuhnya.
    • Home program
      • Tidur ditempat tidur yang memiliki alas yang keras dan rata.
      • Menghindari mengangkat beban yang berat
      • Back exercise.
      • Properback mechanism

PROGNOSA
Dubia ed bonam


DAFTAR PUSTAKA
1. Sengkey, Angliadi, Gessal, Mogi. 2006. Low back pain Ilmu kedokteran fisik dan
rehabilitasi. Fakultas kedokteran universitas Sam Ratulangi. Hal 79. Manado.
2. Anonymous. 2007. Low back pain. www.onemedicine.com/lowbackpain/index.
Diakses pada tanggal 8 Desember 2007, pk.16.00.
3. Andersson. 2007. Epidemiologic features of chronic low back pain.
www.clevelandclinic.com/epidemiology/index4432. Diakses 8 Desember
2007,pk.16.00.
4. Anonymous. 2007. Spondylosisis. www.emedicine.com. Diakses pada tanggal 8
Desember 2007, pk.16.00
5. Regan. 2007. Spondylosis or Spinal Osteoarthritis. www.yahoohealth.com.
Diakses pada tanggal 8 Desember 2007, pk 16.00
6. Sidharta. 1984. Daerah pinggang dan sakit pinggang. Sakit
Neuromuskuloskeletal dalam praktek umum. Hal 183 – 212. Dian rakyat.