TRANSFUSI TUKAR dan TERAPI SINAR pada ikhterus

TRANSFUSI TUKAR
dan
TERAPI SINAR

Definisi

Transfusi tukar adalah suatu rangkaian tindakan mengeluarkan darah pasien dan memasukkan darah donor untuk mengurangi kadar serum bilirubin atau kadar hematokrit yang tinggi atau mengurangi konsentrasi toksin-toksin dalam aliran darah pasien. Pada hiperbilirubinemia, transfusi tukar dilakukan untuk menghindari terjadinya kern icterus.
Terapi sinar adalah terapi untuk mengatasi keadaan hiperbilirubunemia dengan menggunakan sinar berenergi tinggi yang mendekati kemampuan maksimal untuk menyerap bilirubin. Yang biasanya sering digunakan dan paling efisien adalah sinar biru dengan panjang gelombang 425-475 nm.

Pendahuluan

    Kehidupan pada masa neonatus sangat rawan oleh karena memerlukan penyesuaian fisiologik agar bayi di luar kandungan dapat hidup sebaik-baiknya. Peralihan dari kehidupan intrauterine ke ekstrauterine memerlukan berbagai perubahan biokoimia dan faali. Dengan terpisahnya bayi dari ibu, maka terjadilah proses fisiologik sebagai berikut :
1)    Peredaran darah melalui plasenta digantikan oleh aktifnya fungsi paru untuk bernafas
2)    Saluran cerna berfungsi untuk menyerap makanan
3)    Ginjal berfungsi mengeluarkan bahan yang tidak terpakai oleh tubuh untuk mempertahankan homeostasis
4)    Hati berfungsi untuk menetralisasi dan mengekskresi bahan-bahan racun
5)    Sistem imunologik untuk mencegah infeksi
6)    Sistem kardiovaskular serta endokrin bayi menyesuaikan diri dengan perubahan fungsi organ tersebut

Banyak masalah yang ditemui pada bayi baru lahir yang berhubungan dengan gangguan atau kegagalan penyesuaian biokimia dan faali yang disebabkan prematuritas, kelainan anatomik, dan lingkungan yang kurang baik dalam kandungan, pada persalinan maupun sesudah lahir.

Salah satu kelainan yang dapat terjadi pada bayi yang baru lahir adalah ikterus.
Ikterus adalah warna kuning pada kulit, konjungtiva, dan mukosa akibat penumpukan bilirubin. Kadar bilirubin normal pada bayi yang lahir cukup bulan adalah 12,5 mg/dl dan untuk bayi yang kurang bulan adalah 10 mg/dl.  Pada likuor amnion yang normal terdapat bilirubin pada kehamilan 12 minggu, kemudian menghilang pada kehamilan 36-37 minggu. Pada inkompatibilitas darah Rh, kadar bilirubin dalam cairan amnion dapat dipakai untuk menduga beratnya hemolisis. Peningkatan bilirubin amnion juga terdapat pada obstruksi usus fetus. Produksi bilirubin pada fetus dan neonatus diduga sama besarnya tapi kesanggupan hepar untuk mengambil bilirubin dari sirkulasi sangat terbatas. Demikian kesanggupannya untuk menkonjugasi. Dengan demikian hampir semua bilirubin pada janin dalam bentuk bilirubin indirek dan mudah melalui plasenta ke sirkulasi ibu dan diekskresi oleh hepar ibunya. Pada bayi baru lahir karena fungsi hepar belum sempurna atau terdapat kekurangan enzim glukoronil transferase, kadar bilirubin indirek dalam darah akan meningkat. Bayi yang cukup bulan dapat terjadi ikterik mulai pada hari kedua yang disebabkan karena fungsi hati yang belum sempurna ( ikterus fisiologik ). Gejala ini dapat hilang dengan sendirinya mulai hari ketiga dan akan turun perlahan sampai hari ketujuh. Sedangkan ikterus dapat terjadi secara patologik yaitu gejala kuning yang muncul dalam 24 jam pertama atau kuning yang tidak menghilang setelah 10 hari. Gejala lain yang muncul yaitu bayi tampak tidak tampak aktif, tak mau menyusui, lebih banyak tidur, disertai suhu yang meningkat atau malah turun. Inilah yang mendasari kita memberikan terapi sinar terutama dengan sinar biru ( blue light ).  Pada hiperbilirubinemia terjadi peningkatan kadar bilirubin dalam darah yang  yang cenderung menjurus ke arah kern ikterus yaitu kerusakan otak karena perlengketan bilirubin indirek pada otak. Jika dengan terapi sinar kadar bilirubin tidak turun dan terjadi peningkatan kadar bilirubin sampai 20 mg/dl maka perlu dilakukan transfusi tukar. Peningkatan kadar bilirubin dapat juga terjadi karena inkompatibilitas golongan darah.

Metabolisme Bilirubin

    Haemoglobin yang dipecah dalam RES menghasilkan heme dan globin. Globin akan dipecah menjadi asam amino dan heme akan diikat oleh protein dalam jaringan dan heme akan membentuk senyawa biliverdin. Biliverdin akan dioksidasi menjadi bilirubin tak terkonjugasi ( bilirubin indirek ) yang sukar larut dalam air, larut dalam lemak, sulit diekskresi, mudah melalui plasenta dan membran pelindung otak (toksik ). Bilribin indirek akan dibawa ke hati dengan bantuan albumin. Dalam hati bilirubin bersenyawa dengan asam glukoronat dan dengan bantuan enzim glukoronil transferase akan menghasilkan bilirubin direk. Bilirubin direk ini akan dibawa ke traktus bilier untuk diekskresi ke saluran pencernaan. Oleh bakteri yang terdapat di usus kemudian akan diubah menjadi urobilinogen. Selanjutnya urobilinogen akan dioksidasi menjadi urobilin yang akan dikeluarkan bersama-sama tinja. Pada bayi yang baru lahir, aktifitas enzim B glukoronidase yang meningkat, bilirubin direk banyak yang tidak diubah menjadi urobilin. Jumlah bilirubin yang terhidrolisa menjadi bilirubin indirek meningkat sehingga sirkulasi enterohepatik pun meningkat.

Derajat ikterus menurut Kramer

Zona   
Bagian tubuh yang kuning
    Rata-rata serum bilirubin indirek (umol/L)
1    Kepala dan leher    100
2    Pusat dan leher    150
3    Pusat dan paha    200
4    Lengan dan tungkai    250
5    Tangan dan kaki    >250

   

Terapi Sinar   
Definisi
    Terapi sinar adalah terapi untuk mengatasi keadaan hiperbilirubunemia dengan menggunakan sinar berenergi tinggi yang mendekati kemampuan maksimal untuk menyerap bilirubin. Yang biasanya sering digunakan dan paling efisien adalah sinar biru dengan panjang gelombang 425-475 nm. Terapi sinar dilakukan selama 24 jam atau setidaknya sampai kadar bilirubin dalam darah kembali ke ambang batas normal. Dengan fototerapi, bilirubin dalam tubuh bayi dapat dipecahkan dan menjadi mudah larut dalam air tanpa harus diubah dulu oleh organ hati. Terapi sinar juga berupaya menjaga kadar bilirubin agar tak terus meningkat sehingga menimbulkan risiko yang lebih fatal.

Cara kerja terapi sinar

    Pada penelitian terdahulu dilaporkan bahwa terapi sinar dengan mempergunakan kekuatan 400-500 nm secara invitro dapat menimbulkan dekomposisi bilirubin dari suatu senyawa tetrapirol yang sukar larut dalam air menjadi senyawa dipirol yang larut dalam air. Perubahan kimiawi yang terjadi dianggap karena adanya oksidasi dari bilirubin indirek sehingga pada terapi sinar perubahan yang terjadi pada ikterus tersebut adalah akibat foto oksidasi. Tetapi kenyataan yang terjadi ialah dengan ditemukan penurunan kadar  bilirubin darah yang tidak sebanding dengan jumlah dipirol yang terjadi. Selain itu juga ditemukannya peninggian kadar bilirubin indirek dalam cairan empedu duodenum.
Mc Donagh dkk. melaporkan bahwa baik secara invitro maupun invivo terapi sinar menyebabkan terjadinya isomerisasi bilirubin indirek yang mudah larut dalam plasma dan lebih mudah diekskresi oleh hati ke dalam saluran empedu. Isomer dari bilirubin indirek ( 4Z, 15 Z ) akan secara cepat diubah menjadi senyawa polar yang tidak toksik lagi ( 4Z, 15 E ) yang masuk ke dalam darah dan diekskresi ke empedu tanpa dikonjugasi terlebih dahulu. Meningkatnya fotobilirubin di dalam empedu menyebabkan bertambahnya pengeluaran cairan empedu ke dalam usus sehingga peristaltik usus meningkat dan bilirubin akan cepat meninggalkan usus. Melihat betapa besar peranan terapi sinar untuk hiperbilirubinemia maka penggunaannya telah dilakukan secara luas tetapi tetap saja tidak bisa menggantikan indikasi utama untuk transfusi tukar. Paling tidak terapi sinar bisa untuk mengurangi kemungkinan dilakukannya transfusi tukar pada hiperbilirubinemia.

Indikasi penggunaan terapi sinar

Saat ini tindakan terapi sinar dilakukan terhadap penderita :
1.    Setiap saat kadar bilirubin indirek lebih dari 10 mg%
2.    Berat badan lahir yang sangat rendah, penyakit hemolitik pada neonatus
3.    Pra transfusi tukar
4.    Pasca transfusi tukar

Terapi sinar mempunyai komplikasi relatif kecil sehingga hendaknya perlu diperhatikan tata laksananya sehingga tidak terjadi kesalahan.
Terapi sinar tidak boleh dilakukan pada penderita hiperbilirubin direk yang disebabkan adanya gangguan hati atau obstructive jaundice karena pada keadaan ini biasanya kadar bilirubin tidak terlalu tinggi dan biasanya menyebabkan bayi ”bronze baby syndrome”.  Terapi sinar juga tidak boleh dilakukan pada pasien dengan ikterus hemolisis, gangguan motilitas usus dan obstruksi usus atau saluran cerna.

Tata cara penggunaan terapi sinar

    Letak yang pasti terjadinya isomerisasi bilirubin sampai saat ini masih belum jelas tapi diduga di banyak terjadi di bagian perifer yaitu di kulit atau kapiler jaringan subkutan. Oleh karena itu penyinaran yang optimal dari bagian kulit penderita ikterus merupakan salah satu syarat berhasil tidaknya terapi sinar pada penderita. Di samping itu efek penyinaran yang terpenting bukanlah penyinaran dari beberapa arah melainkan jumlah energi cahaya yang dapat menyinari kulit penderita. Pada penelitian terbukti bahwa energi cahaya yang optimal dapat diperoleh dari bermacam-macam lampu neon yang ada di pasaran mempunyai gelombang sinar berkisar 350-470 nm.

Tata cara perawatan bayi dengan terapi sinar

    Dalam perawatan bayi dengan terapi sinar yng perlu diperhatikan tidak saja bayinya tetapi juga perlu diperhatikan perangkat yang digunakan. Hendaknya diperiksa apakah semua lampu terpasang dengan baik dan lampu yang digunakan sebaiknya tidak lebih dari 500 jam untuk menghindari turunnya energi yang dihasilkan oleh lampu.
Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam perawatan bayi yaitu :
1.    Usahakan agar seluruh tubuh bayi terkena sinar dengan membuka baju bayi.
2.    kedua mata dan gonad ditutup dengan penutup yang dapat memantulkan cahaya.
3.    bayi diletakkan 8 inci di bawah sinar lampu. Jarak ini dianggap jarak terbaik untuk mendapat energi optimal
4.    posisi bayi sebaiknya diubah-ubah setiap 18 jam
5.    suhu bayi diukur secara berkala tiap 4-6 jam
6.    kadar bilirubin diperiksa setiap 8 jam atau sekurang-kurangnya samanya sekali dalam 24 jam
7.    haemoglobin juga diperiksa berkala terutama pada penderita dengan hemolisis
8.    perhatikan hidrasi bayi, bila perlu konsumsi cairan dinaikkan
9.    lamanya terapi sinar dicatat
bila dalam pemantauan bayi tidak terlihat banyak perubahan dalam konsentrasi bilirubin, kemungkinan lampu tidak efektif atau adanya komplikasi pada bayi seperti dehidrasi, hipoksia, infeksi dan gangguan metabolik. Terapi dihentikan jika kadar bilirubin telah normal.



Komplikasi

Kelainan yang mungkin timbul pada terapi sinar, antara lain :

1.    Peningkatan insensible water loss pada bayi
Terutama terlihat pada bayi kurang bulan. Kehilangan ini dapat meningkat 2-3 kali dari keadaan biasa
2.    Frekuensi defekasi yang meningkat
Banyak teori yang menjelaskan keadaan ini antara lain karena meningkatnya peristaltik usus.
3.    Kelainan kulit yang disebut ‘ flea bite rash’ di muka, badan dan ekstremitas.
Akan hilang jika terapi dihentikan. Beberapa bayi dilaporkan adanya ‘ bronze baby syndrome’. Hal ini terjadi karena tubuh tidak mampu mengeluarkan hasil terapi sinar dengan segera
4.    Gangguan retina
5.    Kenaikan suhu
6.    Gangguan minum, letargi, iritabilitas   


Transfusi Tukar

Definisi
    Transfusi tukar adalah suatu rangkaian tindakan mengeluarkan darah pasien dan memasukkan darah donor untuk mengurangi kadar serum bilirubin atau kadar hematokrit yang tinggi atau mengurangi konsentrasi toksin-toksin dalam aliran darah pasien. Pada hiperbilirubinemia, transfusi tukar dilakukan untuk menghindari terjadinya kern icterus.

Indikasi Transfusi Tukar

Jika setelah menjalani fototerapi tak ada perbaikan dan kadar bilirubin terus meningkat hingga mencapai 20 mg/dl atau lebih, maka perlu dilakukan terapi transfusi darah. Dikhawatirkan kelebihan bilirubin dapat menimbulkan kerusakan sel saraf otak (kern ikterus). Efek inilah yang harus diwaspadai karena anak bisa mengalami beberapa gangguan perkembangan. Misalnya keterbelakangan mental, cerebral palsy, gangguan motorik dan bicara, serta gangguan penglihatan dan pendengaran. Untuk itu, darah bayi yang sudah teracuni akan dibuang dan ditukar dengan darah lain. Berbagai klinik menganut indikasi transfusi tukar yang berbeda-beda, tetapi pada garis besarnya dapat disimpulkan sebagai berikut :
1.    Semua keadaan dengan bilirubin indirek dalam serum lebih dari 20 mg% dengan albumin kurang dari 3,5mg%, misalnya pada inkompatibilitas golongan darah ( Rh, ABO, MNS ), sepsis, hepatitis, ikterus fisiologis yang berlebihan, kelainan enzim (defisiensi G6PD, piruvat kinase, glukoronil transverase), penyakit anemia hemolitik auto imun (pada anak besar)
2.    Kenaikan kadar bilirubin indirek dalam serum yang sangat cepat pada hari-hari pertama bayi baru lahir (0,3 – 1 mg%/jam)
3.    Polisitemia ( hematokrit 68% pada bayi yang baru lahir)
Biasanya terjadi pada bayi yang sebelumnya telah terjadi malnutrisi atau mengalami hipoksia intrauterin kronis, pada kembar identik dan pada bayi dengan ibu diabetes.
4.    Anemia sangat berat dangan gagal jantung pada pasien hydrops fetalis
5.    Kadar Hb tali pusat lebih rendah dari 14 g% dengan uji coombs direk yang positif
6.    Semua kelainan yang membutuhkan komplemen, opsonin / gamma globulin
7.    pada prematuritas atau dismaturitas, indikasi tersebut harus lebih diperketat



   
Indikasi Transfusi Tukar pada penyakit hemolisis ( TT segera )
•    Kadar bilirubin tali pusat > 4,5 g/dl dan kadar Hb tali pusat < 11 g/dl
•    Kadar bilirubin meningkat > 1 mg/dl/jam meskipun sudah difototerapi
•    Kadar Hb antara 11-13 g/dl dan bilirubin meningkat > 0,5 g/dl/jam meskipun sudah difototerapi
•    Kadar bilirubin = 20 g/dl atau tampaknya akan mencapai 20 dalam peningkatannya
•    Ada anemia yang progresif meskipun sudah difototerapi

Kontra Indikasi
1.    Kontra indikasi melalui arteri atau vena umbilikalis :
•    Gagal memasang akses arteri atau vena umbilikalis dengan tepat
•    Omfalitis
•    Omfalokel / Gastroskisis
•    Necrotizing Enterocolitis
2.    Kontra indikasi melalui arteri atau vena perifer :
•    Gangguan perdarahan ( Bleeding Diathesis )
•    Infeksi pada tempat tusukan
•    Aliran pembuluh darah kolateral dari a. Ulnaris / a.Dorsalis Pedis kurang baik
•    Ketidakmampuan memasang akses arteri dan vena perifer

Pemeriksaan Laboratorium
Sebelum dilakukan transfusi tukar, harus dilakukan pemeriksaan laboratorium yaitu :
•    Darah tepi lengkap ( DTL ) dan hitung jenis
•    Golongan darah ( ABO, Rhesus ) bayi dan donor
•    Coombs test
•    Bilirubin total Direk dan Indirek
•    Elektrolit dan Gula Darah Sewaktu ( GDS )
•    PT dan APTT
•    Albumin

Penentuan Golongan Darah dan Cross Match

Sebaiknya dipakai darah segar dari donor dengan golongan darah yang sesuai dengan menggunakan antikoagulan citrate phosphate dextrose (CPD) bila tidak ada darah segar, maksimal yang berumur < 72 jam. Untuk gangguan-gangguan yang berhubungan dengan hidrops fetalis/ asfiksia fetal, sebaiknya menggunakan darah segar atau maksimal yang berumur < 24 jam. Hematokrit darah donor yang diinginkan sebaiknya minimal 45-50%
•    Bayi-bayi dengan Rhesus inkompatibilitas.
Darah harus golongan O, rhesus negatif, dengan titer anti A dan anti B yang rendah. Harus di crossmatch dengan darah ibu.
•    Bayi-bayi ABO inkompatibilitas harus tipe O, rhesus yang sesuai dengan ibu dan bayi atau rhesus negatif, dengan titer anti A dan anti B yang rendah. Harus di cross match baik dengan darah ibu maupun darah bayi.
•    Group inkompatibilitas darah lainnya
•    Untuk penyakit-penyakit hemolitik lainnya, darah harus di crossmatch dengan darah ibu untuk menghindari antigen-antigen yang mengganggu
•    Hiperbilirubinemia, gangguan keseimbangan metabolik atau hemolisis tidak disebabkan oleh gangguan isoimun. Darah harus di cross match terhadap plasma dan eritrosit bayi.

Pelaksanaan Transfusi Tukar

 Persiapan yang diperlukan

•    Menentukan dan memesan jumlah darah donor yang diperlukan untuk TT. Volume darah normal pada neonatus cukup bulan 80 ml/kg BB, sedangkan pada BBLR / BBLSR bisa sampai 95 ml/kg BB
•    Misalnya pada bayi dengan berat badan 3 kg, volume darah bayi tersebut 240 cc. Dua kali dari volume tersebut ditransfusi tukar pada prosedur 2 volume TT. Maka jumlah darah yang diperlukan adalah 480 cc.
•    Kompres kulit yang kering selama 30 menit dengan kasa yang dibasahkan dengan Nacl o.9% supaya lebih lunak dan memudahkan mencari vena serta memasukkan kateter
•    Pada polisitemia dilakukan Partial exchange dengan menggunakan Nacl 0,9% atau untuk anemia yang sangat berat dengan Packed Red Cells (PRC)

Formula untuk menentukan jumlah volume transfusi tukar pada polisitemia :
Perkiraan vol darah (ml)/ BB (kg) X (Ht pasien – Ht yang diinginkan)
 Ht pasien

•    Menentukan jumlah volume setiap aliquots (jumlah darah yang akan dikeluarkan / dimasukkan kedalam semprit setiap kali sewaktu melalukukan TT). Aliquots yang biasanya digunakan pada transfusi tukar pada neonatus Sebaiknya tidak melebihi 5 ml/kg,

BB bayi    Alquots (ml)
> 3 kg    10
2-3 kg    15
1-2 kg    10
850 gr – 1 kg    5
< 850 gr    1-3


•    Memilih salah satu metode TT yang bisa dilakukan dengan beberapa cara sebagai berikut :
a.    Metoda yang paling disenagi adalah isovolumetric exchange yaitu mengeluarkan dan memasukkan darah dilakukan bersamaan
b.    Kateter A. Umbilikalis digunakan untuk mengeluarkan darah pasien dan keteter V. Umbilikalis dipakai untuk memasukkan darah donor.

Teknik teknik alternatif :
-    mengeluarkan melalui kateter A. Umbilikalis dan memasukkan melalui Arteri perifer
-    Metode ” Push - Pull ” melalui kateter A. Umbilikalis
-    Metode ” Push – Pull ” melui kateter V. Umbilikalis. Bila tidak memungkinkan memasukkan kateter ke dalam V.Umbilikalis, TT bisa dilakukan melalui vena sentral pada fossa antecubiti atau ke dalam V.Femoralis melalui V. Saphenous. Lokasinya 1 cm di bawah ligamentum inguinalis dan medial dari A.Femoralis masukkan kateter sedalam 5 cm
-    Mengeluarkan melaui arteri perifer ( radialis/ tibialis posterior ) dengan memakai 24 angiocath dan memasukkannya melalui vena perifer pada ekstremitas sisi yang lain
-    Jangan menggunakan A. Brachialis dan A. Femoralis karena adanya resiko kehilangan sirkulasi ke ekstremitas.

•    Membuat beberapa kolom pada selembar kertas untuk mencatat identitas pasien waktu mulai dan setelah melakukan TT serta jumlah darah dan nomor nomor frekuensi Aliquot darah yang dikeluarkan dan dimasukkan, serta waktu dan kapan rencana diberikan larutan Ca glukonat dan heparin encer selama TT

Alat-alat yang diperlukan :
1.    Radiant warmer
2.    Peralatan untuk bantuan pernapasan dan resusitasi serta obat-obatan
3.    peralatan monitor untuk denyut jantung, tekanan darah, kecepatan pernapasan, suhu, PaO2, PaCo2, SaO2
4.    Monitor EKG bila ada
5.    Peralatan untuk pemasangan kateter arteri dan vena umbilikalis
6.    Nampan ( sterille / disposeable ) untuk TT
7.    Selang lambung 5F/6F untuk mengosongkan lambung sebelum memulai TT
8.    Ca glukonat 10%
9.    Heparin encer ( 5u/ml yaitu dengan mencampurkan 500 unit heparin ke dalam 100 cc Nacl 0,9% )
10.    Semprit steril 20 ml, dua buah ( untuk mengeluarkan dan memasukkan darah )
11.    Three way stopcock yang steril dua buah
12.    Sarung tangan steril 2 buah
13.    Semprit 5 ml/10 ml dua buah untuk Ca glukonat 10% dan heparin encer
14.    Kateter umbilikalis satu buah. Sediakan dua buah jika memakai teknik isovolumetric 2 volume exchange, satu dimasukkan vena dan satu lagi untuk arteri umbilikalis
15.    “ Nie bekken” dua buah, serta botol plastic bekas infuse untuk menampung darah yang dibuang
16.    Infus set, dua buah
17.    Darah harus dihangatkan dulu ke suhu 37°C. Penggunaan pemanas air tidak dianjurkan sebab darah yang terlalu hangat menjadi hemolisis
18.    polisitemia, diperlukan Nacl 0,9% 500 cc / 5% albumin dalam 0,9% Nacl sebagai pengganti cairan untuk mengobati hiperviskositas

Cara melakukan transfusi tukar
•    Bayi dipuasakan 3-4 jam sebelumnya dan selang lambung diaspirasi sebelum TT
•    Bila mungkin 4 jam sebelum TT bayi diberi infus albumin 1 g/kg BB
•    Awasi tanda vital, jika perlu berikan oksigen
•    Tubuh anak jangan sampai kedinginan
•    Bila tali pusat masih segar, potong dan sisakan 3-5 cm di atas dinding perut. Bila telah kering, potong rata setinggi dinding perut
•    Salah satu ujung kateter polietilen dihubungkan dengan semprit 3 cabang dan ujung yang satu lagi dimasukkan ke vena umbilikalis dengan hati-hati sampai terasa tahanan lalu tarik lagi sepanjang 1 cm. Dengan cara tersebut biasanya darah sudah keluar sendiri. Ambilah 20 cc untuk pemeriksaan laboratorium yang diperlukan.
•    Periksa tekanan vena umbilikalis dengan mencabut kateter dari semprit dan mengangkat ke atas. Tekanan ini biasanya positif ( darah akan naik setinggi 6 cm di atas dinding perut ). Bila ada gangguan pernapasan biasanya terdapat tekanan negatif.
•    Keluarkan lagi sebanyak 20 ml, kemudian baru masukkan 20 ml darah donor dan seterusnya. Measukkan dan mengeluarkan darah dilakukan dalam waktu 20 detik. Pada bayi prematuritas cukup dengan 10-15 ml. Jumlah darah yang dikeluarkan adalah 190 ml/kg BB dan yang dimasukkan adalah 170 ml/kg BB.
•    Semprit harus sering dibilas dengan heparin encer ( 2 ml heparin @ 1000 U dalam 250 ml Nacl fisiologis )
•    Setelah 140-150 ml darah dimasukkan, kateter dibilas dengan 1 ml heparin encer dan dimasukkan pula 1,5 ml glukonas kalsikus 10% dengan perlahan-lahan, kemudian bilas lagi dengan 1 ml heparin encer. Bila bunyi jantung bayi kurang dari 100/menit, waspada terjadinya henti jantung
•    Jika tidak bisa pada vena umbilikalis maka bisa dipakai vena sefena, cabang vena femoralis.

Prosedur Tambahan sesudah TT
•    Pemeriksaan laboratorium
•    Pasien dipuasakan minimal 24 jam untuk memonitor bayi yang mempunyai kemungkinan ileus sesudah TT
•    Fototerapi, untuk gangguan dengan kadar bilirubin yang tinggi

•    Remedication
-    Antibiotik dan antikonvulsan
-    Antibiotik profilaksis : diberikan sesudah transfusi


 Indikasi Transfusi Tukar Ulangan
•    Setelah Transfusi tukar yang pertama selesai, kadar bilirubin masih juga menunjukkan kecepatan kenaikan lebih dari 1 mg/dl/jam.
•    Terdapat anemia hemolitik berat yang menetap
Apabila kadar awal bilirubin melebihi 25 mg/dl, mungkin biasanya kadar bilirubin setelah transfusi tukar pertama akan masih tinggi dan perlu dilakukan transfusi ulangan dalam 8-12 jam berikutnya.

Komplikasi
1.    Infeksi
Bakteriemia, hepatitis, CMV, malaria, AIDS
2.    Komplikasi vaskular
Bekuan atau emboli udara, spasme arteri pada ekstremitas bawah, thrombosis
3.    Koagulopati
Hasil dari thrombositopenia, turun sampai > 50% sesudah 2 volume exchange transfusion
4.    Gangguan elektrolit
Hiperkalemia dan hipokalsemia  aritmia dan tetani
5.    Hipoglikemia
Pada bayi dengan ibu DM dan erythroblastosis fetalis
6.    Metabolik asidosis
Dari darah donor yang disimpan


7.    Metabolik alkalosis
Terlambatnya pembersihan pengawet sitrat dari darah donor oleh hati
8.    Hemolisis
9.    Perdarahan intrakranial
10.    Hipovolemia
11.    Necrotizing Enterocolitis

Kesimpulan

Pedoman pengelolaan ikterus menurut waktu timbulnya dan kadar bilirubin







Pemberian fototerapi pada bayi prematur adalah sebagai berikut :
1.    BB < 1000 gr ; dimulai dalam 24 jam dan transfusi tukar jika kadar bilirubin 10-12 mg/dl
2.    BB 1000-1500 gr ; fototerapi jika kadar bilirubin 7 – 9 mg / dl dan transfusi tukar jika kadar bilirubin 12 -15 mg/dl
3.    BB 1500 – 2000 gr ; fototerapi jika kadar bilirubin 10 – 12 mg / dl dan transfusi tukar jika kadar bilirubin 15 – 18 mg/dl
4.    BB 2000 – 2500 gr ; fototerapi jika kadar bilirubin 13 – 15 mg / dl dan transfusi tukar jika kadar bilirubin 18 – 20 mg/dl

Terdapat perbedaan tatalaksana ikterus pada neonatus cukup bulan dan neonatus kurang bulan.

Tatalaksana ikterus pada neonatus cukup bulan berdasarkan kadar bilirubin indirek ( mg/dl )