Perjalanan penyakit bisinosis

                                         PATOFISIOLOGI BISINOSIS

           Sesudah debu anorganik dan bahan pertikel terinhalasi akan melekat pada permukaan mukosa saluran napas (bronkiolus respiratorius, duktus alveolaris dan alveolus) karena tempat tersebut basah sehingga mudah ditempeli debu.
          Pada awalnya paru-paru  memberikan respons berupa inflamasi dan fagositosis terhadap debu yang masuk oleh makrofag alveolus. Makrofag memfagositosis debu dan membawa partikel debu ke bronkiolus terminalis. Di situ dengan gerak mukosiliar debu diusahakan keluar dari paru. sebagian partikel debu diangkut ke pembuluh limfe sampai limfonodi regional di hilus paru. Bila paparan debu banyak, di mana gerak mukosiliar sudah tidak mampu bekerja, maka debu/partikel akan tertumpuk di permukaan mukosa saluran napas, akibatnya partikel debu akan tersusun membentuk anyaman kolagen dan fibrin dan akibatnya paru (saluran napas) menjadi kaku sehingga compliance paru menurun. Penyakit paru akibat tertimbunnya debu/partikel di paru atau saluran napas disebut pneumoconiosis. Sesudah terjadi pneumokoniosis, misalnya paparan debu sudah berhenti, maka fibrosis paru yang telah terjadi tidak dapat hilang.
           Kelainan pernapasan pada pasien bissinosis berupa bronkitis kronis, yang kadang-kadang disertai wheezing, diduga erat hubungannya dengan adanya endotoksin (suatu lipopolisakarida) yang dikeluarkan oleh bakteri yang mengkontaminasi partikel debu dan kapas. Endotoksin inilah yang diduga sebagai penyebab timbulnya kelainan paru tadi. Para ahli telah yakin bahwa endotoksin ini adalah sebagai penyebabnya dikuatkan oleh percobaan-percobaan simulasi yang telah dikerjakan pada pekerja atau hewan coba di laboratorium
   

PENGOBATAN PENYAKIT BISINOSIS
  • Medika mentosa
 Jika gejala sedang kambuh, gunakan obat asma seperti β2-agonis, steroid aerosol, disodium chormoglicate, dan antihistamin        
  • Nonmedika mentosa 
-  Pasien dengan gejala khas yang menunjukkan penurunan FEV1 10 % atau lebih harus dipindahkan ke daerah yang tidak terpajan.
-   Pasien dengan penyumbatan jalan nafas sedang atau berat, misalnya FEV1 lebih rendah dari 60% dari nilai yang diperkirakan, juga harus lebih baik tidak terpajan lebih lanjut.
-     Edukasi perubahan cara kerja

Pengobatan terpenting bagi pasien bisinosis adalah menyingkirkannya dari lingkungan kerja 
yang potensial risiko tinggi. Dalam pelaksanaannya biasanya para pekerja dilakukan putar 
kerja.

BRONKODILATOR INHALASI



PENCEGAHAN
·         Primer :
-          Penyuluhan
-          Perubahan perilaku
-          Pembersihan mesin carding sebaiknya dengan pompa hampa udara
-          Membersihkan lantai dengan sapu tidak baik.

·         Sekunder :
-  Kontrol kadar debu dalam lingkungan kerja. Pemeliharaan rumah tangga yang baik di perusahaan tekstil sehingga debu kapas sangat sedikit di udara.
-    Memakai alat pelindung diri (APD)
-    Meningkatkan mutu sistem ventilasi di ruangan kerja. . Ventilasi umum dengan sistim hisap

-   Rotasi pekerja yang telah terpapar debu kapas ke tempat yang tidak berbahaya.

·         Tersier :
-       Pemantaun medis agar bisinosis dan obstruksi saluran napas dapat ditemukan dan dicegah sedini mungkin
-     Pre-employment medical check-up. Pemeriksaan kesehatan pekerja sebelum bekerja dan pemeriksaan kesehatan secara berkala.