penyebaran dan penyebab malaria

             MENGENAL MALARIA SECARA UMUM


DEFENISI

Malaria merupakan suatu penyakit infeksi akut maupun kronik yang disebabkan  oleh parasit jenis plasmodium  dari genus protozoa  yang ditularkan ke manusia oleh gigitan nyamuk malaria yang dikenal dengan nyamuk Anopheles sp (betina, sedangkan yang jantan tidak karena yang betina saja yang mengisap darah manusia).  Plasmodium ini dalam salah satu tahap perkembang biakannya akan memasuki dan menghancurkan sel-sel darah merah (eritrosit), dan ditandai dengan ditemukannya bentuk aseksual dalam darah, dengan gejala demam naik turun dan teratur, menggigil, anemia, dan pembesaran limpa. Infeksi malaria dapat berlangsung tanpa komplikasi atau bdengan komplikasi sistemik yang disebut malaria berat.


ETIOLOGI ATAU PENYEBAB
  • Penyebab infeksi malaria ialah plasmodium, yang selain menginfeksi manusia juga menginfeksi binatang seperti golongan burung, reptile dan mamalia.  Plasmodium ini pada manusia menginfeksi eritrosit. 
  • Vektor atau hewan yang menularkan parasit plasmodium adalah nyamuk anapheles sp. tepatnya nyamuk anaopeles yang betina, sedangkan anopheles yang jantan tidak menularkan plasmodium karena nyamuk anapeles yang jantan tidak mengisap darah, melainkan makanannya berupa buah-buahan ataupun mengisap darah hewan.
  • Selain dari gigitan nyamuk, malaria dapat ditularkan secara langsung melalui transfuse darah atau jarum suntik yang tercemar ataupun dari ibu hamil kepada bayinya
Penyebab Malaria di Indonesia sampai saat ini dikarenakan oleh empat macam parasit plasmodium, diantaranya yang paling dikenal yaitu :
  • Plasmodium vivax, penyebab penyakit malaria tertiana atau malaria vivax
  • Plasmodium malariae, penyebab penyakit malaria kuartana atau malaria malariae
  • Plasmodium ovale, jenis ini jarang dijumpai di Indonesia, umumnya banyak ditemukan di benua Afrika,  Plasmodium ovale yang menyebabkan malaria ovale.
  • Plasmodium falciparum, penyebab penyakit malaria tropika atau falcifarum, parasit ini paling berbahaya, karena malaria yang ditimbulkannya dapat menjadi berat sebab dalam waktu singkat dapat menyerang eritrosit dalam jumlah besar, sehingga menimbulkan berbagai komplikasi di dalam organ-organ tubuh
Seorang penderita dapat ditulari oleh lebih dari satu jenis parasit Plasmodium, biasanya penularan ini disebut sebagai infeksi campuran.Tapi umumnya paling banyak hanya 2 (dua) jenis parasit yang menyerang tubuh manusia secara bersamaan, yaitu campuran antara Plasmodium falciparum dengan Plasmodium malariae. Campuran dengan tiga jenis parasit secara bersamaan jarang sekali dapat terjadi.

Pada P. Falciparum serangan dapat meluas ke berbagai organ tubuh lain dan menimbulkan kerusakan seperti di otak, ginjal, paru, hati dan jantung, yang mengakibatkan terjadinya malaria berat atau komplikasi. Plasmodium Falciparum dalam jaringan yang mengandung parasit tua
dan bila jaringan tersebut berada di dalam otak-peristiwa ini disebut sekustrasi.

Parasit malaria (plasmodium) memiliki siklus hidup yang kompleks, untuk kelangsungan hidupnya parasit tersebut membutuhkan host (tempatnya menumpang hidup) baik pada manusia maupun nyamuk, yaitu nyamuk anopheles. Pembiakan seksual terjadi pada tubuh nyamuk yaitu anopeles betina, sedang fase perkembangan aseksualnya terjadi di dalam tubuh manusia.

PROSES KEHIDUPAN PLASMODIUM
Sebagaimana makhluk hidup lainnya, plasmodium juga melakukan proses kehidupan yang meliputi:
  • Pertama, metabolisme (pertukaran zat). 
    • Untuk proses hidupnya, plasmodium mengambil oksigen dan zat makanan dari haemoglobin sel darah merah. Dari proses metabolisme meninggalkan sisa berupa pigmen yang terdapat dalam sitoplasma. Keberadaan pigmen ini bisa dijadikan salah satu indikator dalam identifikasi
  • Kedua, pertumbuhan. 
    • Yang dimaksud dengan pertumbuhan ini adalah perubahan morfologi yang meliputi perubahan bentuk, ukuran, warna, dan sifat dari bagian-bagian sel. 
    • Perubahan ini mengakibatkan sifat morfologi dari suatu stadium parasit pada berbagai spesies, menjadi bervariasi. 
    • setiap proses membutuhkan waktu, sehingga morfologi stadium parasit yang ada pada sediaan darah dipengaruhi waktu dilakukan pengambilan darah. Ini berkaitan dengan jam siklus perkembangan stadium parasit. Akibatnya tidak ada gambar morfologi parasit yang sama pada lapang pandang atau sediaan darah yang berbeda.
  • Ketiga, gerakan. 
    • Plasmodium bergerak dengan cara menyebarkan sitoplasmanya yang berbentuk kaki-kaki palsu (pseudopodia). Pada plasmodium vivax, penyebaran sitoplasma ini lebih jelas terlihat yang berupa kepingan-kepingan sitoplasma. Bentuk penyebaran ini dikenal sebagai bentuk sitoplasma amuboit (tanpa bentuk).
  • Keempat, berkembang biak. 
    • Berkembang biak artinya berubah dari satu atau sepasang sel menjadi beberapa sel baru. Ada dua macam perkembang biakan sel pada plasmodium, yaitu: secara seksual dan aseksual yang akan saya jelaskan pada daur hidup plasmodium dibawah ini.

DAUR HIDUP PLASMODIUM
Untuk dapat menjelaskan bagaimana sampai parasit plasmodium masuk ke sel darah merah penderita, ada baiknya jika kita memperhatikan siklus hidup plasmodium.

Siklus hidup semua spesies parasit malaria pada manusia adalah sama, yaitu mengalami stadium-stadium yang berpindah dari vektor nyamuk ke manusia dan kembali ke nyamuk lagi. Siklus hidup tersebut terdiri dari siklus seksual (sporogoni) yang berlangsung pada nyamuk Anopheles spp. betina, dan siklus aseksual yang berlangsung pada manusia yang terdiri dari fase eritrosit (erythrocytic schizogony) dan fase yang berlangsung di dalam parenkim sel hepar (exo- erythrocytic schizogony).
  • Siklus pada manusia (siklus aseksual)
    • Siklus dimulai ketika anopheles betina (yang mengandung parasit malaria)  menggigit manusia dan memasukkan sporozit yang terdapat pada air liurnya kedalam aliran darah manusia.  
    • Setelah itu sporozoid yang ada dalam peredaran darah manusia tersebut, akan menuju kedalam sel hepar (sel sinosoid hati)  kurang lebih 30-60 menit.
    • Didalam sel hepar (hati), sporozoid tersebut ada yang membentuk:
      • hipnozoid (hipnozoid berarti setelah masuk kedalam sel hati parasit ini akan diam  atau dormant dan jika daya tahan tubuh menurun, maka akan timbul relaps atau kambuh), hipnozoid ini biasanya di jumpai pada P. vivak dan P. ovale.
      • Selain membentuk hipnozoid, sporozoid yang ada di dalam sel hepar akan mengalami Pertumbuhan dan pembelahan sel cepat, dan terbentuk kista miroskopik (Schizont) yang mengandung merozoit, ini disebut juga fase pre eritosit atau siklus eksoeritrositer yang berlangsung selama kurang lebih dua minggu.
    • Selanjutnya kurang lebih sekitar 2 minggu, skizon yang berisi merozoit pada sel hati akan pecah dan mengeluarkan merozit. Merozoit yang berasal dari skizon hati yang pecah akan masuk ke dalam peredaran darah dan menginfeksi sel darah merah. 
    • Kemudian Di dalam sel darah merah, parasit tersebut berkembang lagi menjadi  stadium tropozoit
    • Selanjutnya trofozoid ini akan berkembang menjadi  skizon darah (skinzon yang ada dalam darah), skizon ini mengandung merozoit juga dan apabila jumlahnya banyak, maka skizont akan pecah dan mengeluarkan merozoid. Proses perkembangan aseksual ini disebut skizogoni darah
    • Selanjutnya Merozoit- merozoit tersebut  lolos dari inaktivasi oleh imunoglobulin atau fagositosis dari sistim imun kita, masuk ke dalam sel darah merah segar (masih belum terinfeksi merozoid) untuk selanjutnya menginfeksi sel darah merah yang sehat tersebut.   Siklus ini dikenal sebagai silkus eritrositer
    • Dengan demikian, siklus aseksual dimulai setiap saat kelompok baru merozoit menginvasi sel darah merah. Siklus ini yang lamanya sangat penting secara klinis, berakhir 48 jam pada malaria falsiparum, vivax dan ovale serta 72 jam pada malaria kuartana. 
    • Setelah 2 – 3 siklus skizogoni darah, sebagian merozoit yang menginfeksi sel darah merah akan membentuk stadium seksual (gametosit jantan dan betina). Dengan demikian maka siklus aseksual akan berakhir dan selanjutnya akan di teruskan ke siklus seksual yang terjadi di dalam tubuh nyamuk.
                       

  • Siklus pada nyamuk Anopheles spp. betina.
    • Siklus ini di mulai Apabila nyamuk Anopheles spp betina menghisap darah manusia yang mengandung gametosit jantan dan betina.
    • selanjutnya  Didalam lambung nyamuk, terjadi perkawinan antara sel gamet jantan (mikro gamet) dan sel gamet betina (makro gamet) yang kemudian menjadi  zigot.
    • Kemudian zigot akan berkembang menjadi  menjadi ookinet, kemudian ookinet masuk ke dinding lambung nyamuk berubah menjadi ookista
    • Setelah ookista matang kemudian pecah, keluar sporozoit yang berpindah ke kelenjar liur nyamuk dan siap untuk ditularkan ke manusia. 
                         
  • Demikianlah siklus ini akan berputar dari  vektor nyamuk ke manusia dan kembali ke nyamuk lagi
gambar daur hidup plasmodium

Keterangan :
  • Siklus eritrosit sama dengan siklus aseksual
  • Siklus eksoeritrosit berarti berada di luar erirosit, dan jika parasit malaria ini ada pada siklus eksoeritrosit, maka orangnya tidak menunjukan gejala klinik, gejala klinik akan timbul pada saat sel darah merah pecah dan mengeluarkan merozoid dari skizon darah.
  • Fase seksual (yang ada gametosid) tidak menunjukan gejala, tetapi gametosit ini penting untuk penyebaran malaria

    Kenapa bisa terjadi relaps pada malaria?
    • Pada plasmodium  vivax dan P. ovale,
      • Seperti yang telah di jelaskan diatas, bahwa Pada Plasmodium vivax dan P. ovale, sebagian tropozoit hati tidak langsung berkembang menjadi skizon, tetapi ada yang memjadi bentuk dorman yang disebut hipnozoit. Hipnozoit tersebut dapat tinggal di dalam sel hati selama berbulan-bulan sampai bertahun-tahun.
      • Pada penderita yang mengandung hipnosoit, apabila suatu saat dalam keadaan daya tahan tubuh menurun misalnya akibat terlalu lelah, sibuk, stress atau perubahan iklim (musim hujan), hipnosoit dalam tubuhnya akan terangsang untuk melanjutkan siklus parasit dari sel hati ke eritrosit. Setelah eritrosit yang berparasit pecah akan timbul kembali gejala penyakit.Misalnya 1 - 2 tahun sebelumnya pernah menderita plasmodium vivax / ovale dan sembuh setelah diobati, bila kemudia mengalami kelelahan atau stress, gejala malaria akan muncul kembali sekalipun yang bersangkutan tidak digigit oleh nyamuk anopheles. Bila dilakukan pemeriksaan, akan didapati stadium positif plasmodium vivax / plasmodium ovale.


    EPIDEMOLOGI ATAU PENYEBARAN

    Malaria merupakan penyakit endemis atau hiperendemis di daerah tropis maupunsubtropis dan menyerang negara dengan penduduk padat. Hanya pada daerah dimana orang-orang mempunyai gametosit dalam darahnya dapat menjadikan nyamuk anopeles terinfeksi. Distribusi geografis dari daerah rendah kurang lebih 400m di bawah permukaan laut sampai 2600m diatas permukaan laut.

    Di Indonesia, malaria tersebar di seluruh pulau dengan derajat endemisitas yang berbeda- beda dan dapat berjangkit di daerah dengan ketinggian sampai 1800 meter di atas permukaan laut. Di lndonesia kawasan Timur mulai darikalimantan, sulawesi tengah sampai utara, maluku, nusa tenggara timor serta timor leste merupakan daerah endemi malaria dan paling banyak di jumpai plasmodium falciparum dan plasmodium vivax

    Perbedaan prevalensi menurut umur dan jenis kelamin lebih berkaitan dengan perbedaan derajat kekebalan tubuh. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa perempuan mempunyai respon imun yang lebih kuat dibandingkan dengan laki-laki, namun kehamilan dapat maningkatkan resiko malaria.


    CARA PENULARAN MALARIA
    • Melalui gigitan nyamuk anopeles betina yang pada air liurnya mengandung spororoid, jika tidak mengandung sporozoid maka tidak akan menyebarkan plasmodium
    • Transfusi darah dari penderita yang mengidap malaria ataupun yang mengandung hipnozoid pada darahnya.
    • Melalui jarum suntik yang tercemar parasit plasmodium
    • Dari ibu hamil penderita malaria ke janin ini jarang sebab janin biasanya mendapatkan perlindungan antibody lewat transplasenta.
    • Dari transplantasi organ.

    FAKTOR PENYEBAB PENYEBARAN PENYAKIT MALARIA


    Kemampuan bertambahnya penyakit malaria disuatu daerah  ditentukan oleh beberapa faktor, antara lain oleh faktor parasit plasmodium (agent), host (manusia),faktor linkungan dan faktor vektor penyebarannya (nyamuk)
    • Faktor Parasit malaria
      • Penyakit malaria disebabkan oleh parasit malaria (yaitu suatu protozoa daun yang termasuk genus plasmodium) yang dibawa oleh nyamuk anopheles. 
      • Agar dapat hidup, parasit plasmodium harus ada di dalam tubuh manusia, untuk menghasilkan gametosit jantan dan betina untuk penularannya.
      • Parasit plasmodium juga harus menyesuaikan diri dengan sifat-sifat spesies nyamuk anopheles yang antropofili, agar sporogoni di mungkinkan dan menghasilkan sporozoit yang infektif, sehingga jika parasit ini masuk ke dalam sel darah merah, maka akan merusak sel darah merah, sehingga menimbulkan manifestasi klinis.
      • Sifat-sifat spesifik parasitnya berbeda untuk setiap spesies Plasmodium dan hal ini mempengaruhi terjadinya manifestasi klinis dan penularan. 
      • P.falciparum mempunyai masa infeksi yang paling pendek, akan tetapi menghasilkan parasitemia (parasit dalam darah) yang paling tinggi. Gametosit P.falciparum baru berkembang setelah 8- 15 hari sesudah masuknya parasit kedalam darah.
      • P.vivax dan P.ovale pada umumnya menghasilkan parasitemia yang rendah, gejala yang lebih ringan dan mempunyai masa inkubasi yang lebih lama dari pada P.falciparum. Walaupun begitu, sporozoit P.vivax dan P.ovale di dalam hati dapat berkembang menjadi skizon jaringan primer dan hipnozoit. Hipnozoit ini menjadi sumber terjadinya relaps
    Tabel Karakteristik Spesies Plasmodium
    • Faktor Individu manusia
      • Semua orang bisa terkena malaria, namun ada ras tertentu yang kebal terhadap penyakit malaria yaitu :
        • Pada Individu, khususnya yang mengandung hemoglobin tipe s  (HbS), dikatakan memiliki kekebalan terhadap plasmodium falciparum  karena HbS dapat menghambat perkembangbiakan P. falciparum
        • Pada individu yang memounyai golongan darah duffi negatif juga di katakan kebal terhadap penyakit malaria.
        • Penderita thalasemia alfa dan beta
        • Penderita defesiensi enzim G-6-PD (glukosa enam phosfat), Defisiensi terhadap enzim ini merupakan penyakit genetik dengan manifestasi utama pada wanita
      • Tingkat imunitas seseorang sangatlah menentukan penyebaran penyakit ini, jika sistim kekebalan tubuh menurun, maka akan mudah terkena malaria, pada bayi di daerah endemik malaria sebenarnya mendapat perlindungan antibody maternal yang di peroleh secara transplasenta.
      • Individu yang kurang menjaga penyebaran penyakit malaria, misalnya tidak memakai kelambu ataupun lation pengusir nyamuk memiliki resiko digigit nyamuk, sehingga akan menyebabkan resiko terkena malaria.
      • Beberapa Penelitian menunjukan bahwa perempuan mempunyai respon imun yang lebih kuat di bandingkan dengan laki- laki, namun kehamilan menambah resiko malaria.
      • Malaria pada kehamilan mempunyai dampak yang buruk terhadap kesehatan ibu dan anak, antara lain :
        • Berat badan lahir bayi yang rendah
        • Abortus
        • Prematur
        • Kematian janin intra uterin (dalam kandungan)
      • Kelompok individu yang memilki resiko tinggi terkena malaria
        • Pelancong dari daerah bebas malaria tanpa atau sedikit kekebalan terhadap malaria yang pergi ke daerah endemis malaria
        • Wanita hamil tanpa kekebalan tubuh (resiko abortus dan kematian maternal)
        • Wanita hamil yang terinfeksi HIV
        • Wanita hamil yang semi -imun beresiko anemia berat dan pertumbuhan janin akan terganggu walau tanpa gejala pada saat terserang infeksi.
    • Faktor nyamuk atau vektor.
      • Penyakit malaria pada manusia hanya dapat ditularkan oleh nyamuk anopheles betina. Diseluruh dunia terdapat sekitar 2.000 species anopheles, 60 species diataranya diketahui sebagai penular malaria. Di Indonesia ada sekitar 80 jenis anopheles, 24 species diantaranya tidak terbukti penular malaria, spesies anopeles yang sering di temukan di indonesia antara lain Anopeles sundaikus, A. hyrcanus, A. barbirostris, A.minimus, A. aconitus, A. supticus, A.minimus, A.letifer dan lain nya.
      • Nyamuk anopeles terutama hidup di daerah tropik dan subtropik, namun bisa juga di daerah beriklim sedang dan bahkan di daerah afrika, anopeles jarang di temukan pada ketinggia lebih dari 2600m, sebagian besar nyamuk anapeles di temukan pada daerah  yang rendah.
      • Efektifitas vektor (nyamuk anopheles) tergantung pada ;
        • Kepadatan vektor biasanya dekat pemukiman manusia
        • Kesukaan mengisap darah manusia atau antropofilia
        • Frekuensi mengisap darah (ini tergantung dari suhu)
        • Lamanya sporogoni , (Berkembanganya parasit dalam tubuh nyamuk sehingga menjadi infeksi, yaitu waktu yang dibutuhkan untuk matangnya telur )
        • Lamanya hidup nyamuk harus cukup untuk sporogoni,   semakin panjang umur nyamuk semakin besar kemungkinannya untuk menjadi penular atau vektor manusia.
      • Sifat nyamuk anopeles.
        • Nyamuk anaopeles menggigit antara waktu senja dan subuh, dengan jumlah yang berbeda- beda menurut spesiesnya.
        • Kebiasaan makan dan istirahat nyamuk anopeles dapat di kelompokan sebagai berikut:
          • Tempat hinggap atau istirahat
            • Eksofilik: nyamuk lebih suka hinggap atau istirahat di luar rumah.
            • Endofilik: nyamuk lebih suka hinggap atau istirahat di dalam rumah.
          • Tempat menggigit
            • Eksofagik: lebih suka menggigit di luar rumah.
            • Endofagik: lebih suka menggigit dalam rumah
          • Obyek yang digigit
            • Antrofilik: lebih suka menggigit manusia
            • Zoofilik: lebih suka menggigit hewan.
          • Anopeles aconitus merupakan vektor utama di daerah persawahan di jawa dan bali.
          • A.sundaicus dan A. subticus merupakan vektor utama malaria di daerah pantai
      • Faktor lingkungan 
        • Keadaan lingkungan berpengaruh besar terhadap ada tidaknya malaria disuatu daerah. 
        • Lingkungan fisik yang berpengaruh terhadap kejadian malaria
          • Faktor geografik dan meterologi di indonesia sangat menguntungkan trasmisi malaria di indonesia
          • Suhu
            • Pengaruh suhu dapat berperan pada kejadian malaria, pada suhu 26 derajat celcius, masa inkubasi ekstrinsik
              • 10-12 hari untuk plasmodium falcipafarum
              • 8-12 hari untuk p.vivax
              • 14-15 hari untuk p.malariae dan p.ovale
            • Suhu yang optimum untuk perkembangan plasmodium sekitara 20-30 derajat celcius, makin tinggi suhu maka makin pendek masa inkubasi ekstrinsik (sporogoni), sehingga perkembangan plasmodium tidak optimum sebaliknya makin rendah suhu, maka makin baik perkembangan plasmodium.
          • Kelembapan 
            • kelembapan yang rendah memperpendek umur nyamuk, meskipun tidak berpengaruh pada parasitnya.
            • Tingkat kelembapan 60% merupakan batas paling rendah untuk kehidupan nyamuk
            • Pada kelembapan lebih tinggi, nyamuk menjadi aktif dan sering menggigit, sehingga meningkatkan penularan malaria.
          • Hujan
            • Pada umumnya hujan akan memudahkan perkembangan nyamuk dan jadi endemi malaria.
            • Besar kecilnya pengaruh tergantung pada jenis dan deras hujan, jenis vektor dan jenis tempat perindukan
            • Hujan yang di selingi panas, akan memperbesar kemungkinan berkembang biaknya nyamuk anopeles.
          • Ketinggian
            • Ketinggaian yang maih memungkinkan penyebaran malaria adalah sampai 2500 diatas permukaan laut.
          • Angin
            • Kecepatan dan arah angin, dapat mempengaruhi jarak terbang nyamuk dan ikut menentukan jumlah kontak antara nyamuk dan manusia.
          • Sinar matahari
            • Pengaruh sinar matahari terhadap pertumbuhan larva nyamuk berbeda-beda.
            • Pada A.sundaikus lebih suka di tempat yang teduh, sedangkan pada A.hyrcanus dan A.pinculatus, lebih suka di tempat terbuka, sedangkan A.barbirosis dapat hidup baik di tempat yang teduh maupun terang
          • arus air
            • Pada A.barbirostris menyukai perindukan yang airnya statis atau lambat
            • A.minimus menyukai aliran air yang deras
            • A.letifer lebih menyukai air yang tergenang.
          • Kadar garam
            • pada anopeles sundaikus tumbuh optimal pada air payau yang kadar garamnya 12-18% dan tidak berkembang pada kadar garam 40% keatas
            • Namun di sumatera utara di temukan pula perindukan A.sundaicus di air tawar.
        • Lingkungan biologi yang berperan pada kejadian malaria
          • Tumbuhan bakau, lumut, gangang dan lainnya dapat mempengaruhi kehidupan larva nyamuk, karena dapat menghalangi sinar matahari atau melindungi larva dari serangan makluk hidup yang lain
          • Ikan pemakan larva seperti ikan kepala timah (panchax spp), gambusia, nila, mujair dll, dapat mempengaruhi populasi nyamuk di suatu daerah
          • Ternak seperti sapi, kerbau dan babi dapat mengurangi jumlah gigitan nyamuk pada manusia, apabila ternak tersebut di kandangjan tidak jauh dari tempat perindukan nyamuk.
        • Lingkungan sosial Budaya yang berperan pada kejadian malaria
          • Kebiasaan untuk berada di luar rumah sampai larut malam, di tempat yang vektornya bersifat eksofili dan eksofagi akan memudahkan seseorang terkena gigitan nyamuk.
          • Tingkat kesadaran masyarakat tentang bahaya malaria akan mempengaruhi kesediaan masyarakat untuk memberantas malaria, antara lain dengan
            • Menyehatkan lingkungan
            • menggunakan kelambu
            • memasang kawat kasa pada rumah
            • menggunakan obat nyamuk



      SEKILAS TENTANG NYAMUK ANOPELES SP.
      Nyamuk anopheles sp (speises anopeles) merupakan vektor penyebab malaria, vektor adalah hewan atau serangga yang dapat menularkan parasit (khususnya plasmodium pada malaria) pada manusia atau hewan.

      Spesies anopeles termasuk dalam famili culicidae, kelas insecta. Vektor penyebab malaria ini banyak sekali ada 430 spesies, namun hanya 30-45 spesies saja yang di katakan sebagai vektor penyebaran malaria dan tiap- tiap daerah berbeda- beda, misalnya anopeles sundaicus yang terdapat di pantai, anoples barbirotris dapat berkembang biak di rumput dan hidup baik di tempat yang teduh maupun terang, anopeles acotinus terutama di daerah persawahan dan lain sebagainya.

      Pada nyamuk spesies anopeles ada 4 tingkatan stadium hidupnya, yaitu telur, larva, pulpa dan dewasa. Daur hidupnya mengalami metamorfosis sempurna, dimana dari stadium telur hingga dewasa membutuhkan waktu 2-5 minggu. Nyamuk dewasa betina tidak membentuk telur, dia membentuk telur apabila dia mengisap darah manusia yang mengandung makro dan mikrogamet.
      Prosesnya nyamuk menusuk dahulu tubuh kita, lalu mengeluarkan air liur yang mengandung  sporozit lalu mengisap darah manusia. sporozoid inilah yang akan berkembang dalam tahap aseksual di tubuh manusai seperti yang telah saya jelaskan diatas.
      gambar daur hidup nyamuk
      • Morfologi atau bentuknya :
        • Telur
          • Jumlah telur, biasanya sekitar20-200 telur diatas permukaan air. sehingga dalam perkembang biaknnya nyamuk membutuhkan air.
          • Telur ini tidak tahan dengan kekeringan, jadi jika tidak ada air maka telur akan mati.
          • Pada bagian kanan dan kiri telur, terdapat semacam pelampung sehingga telur tersebut mengapung diatas permukaan air.
          • Telur biasanya akan menetas 2-3 hari menjadi larva
        • Larva
        • stadium larva
          • Dapat di jumpai sejajar pada permukaan air.
          • Larva mempunyai spirakel (alat pernapasan) pada posterior abdomennya
          • Pada stadiu larva ini, makanannya berasal dari algae dan bacteri




          • Pulpa
            • gambar stadium pulpa 
            • Pada stdium ini, mempunyai alat pernapasan yang lebar dan pendek untuk mengambil oksigen.
            • Dewasa
              • Pada anopeles dewasa, dibagi atas 3 bagian, yaitu 
                • Kepala
                  • Pada kepala terdapat mata, antena, probocis dan palpus
                  • Mata disebut juga hensen
                  • Antena pada anopeles berfungsi sebagai deteksi bau pad hospes yaitu pada manusia ataupun pada binatang
                  • Probocis merupakan moncong yang terdapat pada mulut nyamuk yang pada nyamuk betina berfungsi untuk mengisap darah akrena probocisnya tajam dan kuat, ini berbeda dengan yang jantan, sehingga yang jantan hanya mengisap bahan-bahan cair.
                  • Palpus terdpat pada kanan dan kiri probocis, yang berfungsi sebagai sensory
                • Torak
                  • Bentuk torak pada nyamuk anopeles seperti lokomotif
                  • mempunyai tiga pasang kaki
                  • mempunyai dua pasang sayap
                  • Antara torak dan abdomen terdapat alat keseimbangan yang di sebut halte, yang berfungsi sebagai alat keseimbangan padaa waktu nyamuk terbang.
                • Abdomen
                  • Berfungsi sebagai organ pencernaan dan tempat pembentukan telur nyamuk.
          TABEL PERBEDAAN NYAMUK DEWASA PADA ANOPELES, AEDES DAN CULEX




          PROSES PERJALANAN PENYAKIT MALARIA
          Proses perjalanan penyakit malaria, selalu berhubungan dengan daur hidup parasit malaria, jadi penting sekali kita memahami bagaimana daur hidup plasmodium seperti yang telah di jelaskan diatas, sehingga kita dapt memahami proses perjalanan penyakitnya.

          Menurut pendapat ahli lain, patogenesis malaria adalah multifaktorial dan berhubungan dengan hal-hal sebagai berikut :
          • Penghancuran eritrosit
            • Fagositosis tidak hanya pada eritrosit yang mengandung parasit tetapi juga terhadap eritrosit yang tidak mengandung parasit sehingga menimbulkan anemia dan hipoksemia jaringan. Pada hemolisis intravascular yang berat dapat terjadi hemoglobinuria (black white fever) dan dapat menyebabkan gagal ginjal
          • Mediator endotoksin-makrofag. 
            • Pada saat skizogoni, eritrosit yang mengandung parasit memicu makrofag yang sensitif endotoksin untuk melepaskan berbagai mediator yang berperan dalam perubahan patofisiologi malaria. Endotoksin, mungkin berasal dari rongga saluran cerna. Parasit malaria itu sendiri dapat melepaskan faktor neksoris tumor (TNF). 
            • TNF adalah suatu monokin, ditemukan dalam darah hewan dan manusia yang terjangkit parasit malaria. TNF dan sitokin lain yang berhubungan, menimbulkan demam, hipoglimeia dan sindrom penyakit pernafasan pada orang dewasa (ARDS = adult respiratory distress syndrome) dengan sekuestrasi sel neutrofil dalam pembuluh darah paru. 
            • TNF dapat juga menghancurkan plasmodium falciparum in vitro dan dapat meningkatkan perlekatan eritrosit yang dihinggapi parasit pada endotelium kapiler. Konsentrasi TNF dalam serum pada anak dengan malaria falciparum akut berhubungan langsung dengan mortalitas, hipoglikemia, hiperparasitemia dan beratnya penyakit
          • Sekuestrasi eritrosit yang terinfeksi. 
            • Eritrosit yang terinfeksi plasmodium falciparum stadium lanjut dapat membentuk tonjolan-tonjolan (knobs) pada permukaannya. 
            • Tonjolan tersebut mengandung antigen malaria dan bereaksi dengan antibodi malaria dan berhubungan dengan afinitas eritrosit yang mengandung plasmodium falciparum terhadap endotelium kapiler darah dalam alat dalam, sehingga skizogoni berlangsung di sirkulasi alat dalam, bukan di sirkulasi perifer. 
            • Eritrosit yang terinfeksi, menempel pada endotelium kapiler darah dan membentuk gumpalan (sludge) yang membendung kapiler dalam alat-alat dalam. Protein dan cairan merembes melalui membran kapiler yang bocor (menjadi permeabel) dan menimbulkan anoksia dan edema jaringan. Anoksia jaringan yang cukup meluas dapat menyebabkan kematian.


          • Demam
            • Akibat ruptur atau pecahnya eritrosit → merozoit dilepas ke sirkulasi
            • Pelepasan merozoit pada tempat dimana sirkulasi melambat mempermudah infasi sel darah yang berdekatan, sehingga parasitemia falsifarum mungkin lebih besar dari pada parasitemia spesies lain, dimana robekan skizon terjadi pada sirkulasi yang aktif. Sedangkan plasmodium falsifarum menginvasi semua eritrosit tanpa memandang umur,plasmodium vivax menyerang terutama retikulosit, dan plasmodium malariae menginvasi sel darah merah matang, sifat-sifat ini yang cenderung membatasi parasitemia dari dua bentuk terakhir diatas sampai kurang dari 20.000 sel darah merah /mm3. Infeksi falsifarum pada anak non imun dapat mencapai kepadatan hingga 500.000 parasit/mm3.
          • Anemia
            • Akibat hemolisis (penghancuran eritrosit), sekuestrasi eritrosit di limpa dan organ lain, dan depresi sumsumtulang
            • Hemolisis sering menyebabkan kenaikan dalam billirubin serum, dan pada malaria falsifarum ia dapat cukup kuat untuk mengakibatkan hemoglobinuria (blackwater fever). Perubahan autoantigen yang dihasilkan dalam sel darah merah oleh parasit mungkin turut menyebabkan hemolisis, perubahan-perubahan ini dan peningkatan fragilitas osmotic terjadi pada semua eritrosit, apakah terinfeksi apa tidak. 
            • Hemolisis dapat juga diinduksi oleh kuinin atau primakuin pada orang-orang dengan defisiensi glukosa-6-fosfatdehidrogenase herediter. Pigmen yang keluar kedalam sirkulasi pada penghancuran sel darah merah berakumulasi dalam sel retikuloendotelial limfa, dimana folikelnya menjadi hiperplastik dan kadang-kadang nekrotik, dalam sel kupffer hati dan dalam sumsum tulang, otak, dan   organ lain. Pengendapan pigmen dan hemosiderin yang cukup mengakibatkan warna abu-abu kebiruan pada organ
          • Pada infeksi malaria, limpa akan membesar, mengalami pembendungan dan pigmentasi sehingga mudah pecah. 
            • Dalam limpa dijumpai banyak parasit dalam makrofag dan sering terjadi fagositosis dari eritrosit yang terinfeksi maupun yang tidak terinfeksi. Pada malaria kronis terjadi hiperplasi dari retikulum disertai peningkatan makrofag. 
            • Pada sindrom pembesaran limpa di daerah tropis atau penyakit pembesaran limpa pada malaria kronis biasanya dijumpai bersama dengan peningkatan kadar IgM. Peningkatan antibodi terhadap malaria ini mungkin menimbulkan respon imunologis yang tidak lazim pada malaria kronis
          • Pada malaria juga terjadi pembesaran hepar, sel Kupffer- seperti sel dalam sistem retikuloendotelial- terlibat dalam respon fagositosis. Sebagai akibatnya hati menjadi berwarna kecoklatan agak kelabu atau kehitaman. Pada malaria kronis terjadi infiltrasi difus oleh sel mononukleus pada periportal yang meningkat sejalan dengan berulangnya serangan malaria. Hepatomegali dengan infiltrasi sel mononukleus merupakan bagian dari sindrom pembesaran hati di daerah tropis. Nekrosis sentrilobulus terjadi syok.
          • Organ lain yang sering diserang oleh malaria adalah otak dan ginjal. 
            • Pada malaria serebral, otak berwarna kelabu akibat pigmen malaria, sering disertai dengan edema dan hiperemis. Terserangnya pembuluh darah oleh malaria tidak saja terbatas pada otak tetapi juga dapat dijumpai pada jantung atau saluran cerna atau di tempat lain dari tubuh, yang berakibat pada berbagai manifestasi klinik.
            • Pada ginjal selain terjadi pewarnaan oleh pigmen malaria juga di jumpai salah satu atau dua proses patologis yaitu nekrosis tubulus akut dan atau membranoproliverative glomerulonephritis. Nekrosis tubulus akut dapat terjadi bersama dengan hemolisis masif dan hemoglobinuria pada black water fever tetapi dapat juga terjadi tanpa hemolisis, akibatnya berkurangnya aliran darah karena hipovolemia dan hiperviskositas darah. Plasmodium falciparum menyebabkan nefritis sedangkan Plasmodium malariae menyebabkan glomerulonefritis kronik dan sindrom nefrotik.

          DEMIKIAN DAHULU POSTING SAYA KALI INI, UNTUK SELANJUTNYA SAYA AKAN MEMBAHAS GEJALA KLINIS MALARIA DAN CARA MENDIAGNOSANYA.... DISINI