KETERLAMBATAN BICARA PADA ANAK : PENYEBAB DAN PENGOBATAN

SPEECH DELAYED

PENDAHULUAN
Keterlambatan bicara adalah salah satu penyebab gangguan perkembangan yang paling sering ditemukan pada anak. Gangguan ini semakin hari tampak semakin meningkat pesat. Deteksi dini dan mengenali keterlambatan bicara pada anak sejak dini sangat penting. karena, kemampuan bicara dan bahasa adalah infestasi terbesar anak di masa depan untuk mencapai berbagai prestasi.
Keterlambatan bicara sering dialami anak dengan berbagai penyebab. Orangtua harus mewaspadai gangguan bicara bila disebabkan karena gangguan yang berat. Namun sebaliknya jangan meremehkan gangguan keterlambatan bicara yang ringan. Pada gangguan keterlambatan bicara yang ringanpun akan membuat kualitas kemampuan anak dalam berkomunkiasi di masa depan tidak optimal. Deteksi dini keterlambatan bicara pada anak sangat penting untuk bisa segera dilakukan intervensi dan stimulasi lebih dini.
Gangguan berbicara dan berbahasa merupakan gangguan perkembangan yang sering melibatkan anak-anak. Prevalensi keterlambatan berbicara dan berbahasa berkisar antara 1% sampai 32% pada populasi normal. Gangguan berbahasa merupakan keterlambatan atau ketidaknormalan berbahasa ekspresif atau reseptif, autisme, gangguan pendengaran atau gangguan neurologi atau psikiatri. Keterlambatan bicara mungkin disebabkan sekunder atau gangguan perkembangan atau bilingualism. Dokter dan tenaga kesehatan lainnya merupakan lini pertama untuk mengidentifikasikan problem keterlambatan bicara. Pengenalan secara dini dan intervensi merupakan langkah yang penting untuk kemungkinan outcome yang lebih baik
Berbicara tidak sama dengan berbahasa. Bahasa merupakan alat untuk menginterpretasikan dan mengekspresikan pikiran, perasaan, dan kemauan dari seseorang kepada orang lain baik secara langsung maupun tidak langsung, dengan mempergunakan sistem simbol yang telah disepakati dalam berkomunikasi. Bahasa yang dipergunakan seseorang pada dasarnya mempunyai dua fungsi. Fungsi pertama, bahasa dipergunakan untuk memahami atau menginterpretasikan berbagai rangsangan (simbol) yang diterima sehingga berbentuk suatu konsep pengertian. Fungsi ini disebut dengan fungsi reseptif. fungsi kedua, bahasa dipergunakan untuk mengekspresikan pikiran, perasaan dan kemauannya melalui simbol-simbol yang dapat dimengerti oleh orang lain, Fungsi ini disebut fungsi ekspresif. Jadi, seorang anak di dalam berbahasa memerlukan keterampilan reseptif, pemrosesan informasi dan ekspresif.
Sedangkan bicara adalah sebuah komunikasi yang dipakai untuk mengungkap dan mengerti proses berpikir yang mempergunakan simbol akustik. Sistem tersebut dihasilkan oleh getaran ataupun vibrasi dari pita suara dalam laring (fonasi), yang disebabkan oleh adanya aliran udara (respirasi) dan memberikan hasil akhir dalam bentuk gerakan bibir, lidah dan palatum (artikulasi). Dikatakan, bahwa ekspresi bahasa dapat disampaikan dalam bentuk bicara, mimik, bahasa simbol, tulisan dan bahasa tubuh. Jadi bicara adalah salah satu bentuk ekspresi bahasa.
Pada anak, kemampuan berbahasa dan atau berbicara dapat normal, terlambat atau mengalami penyimpangan. Kemampuan dianggap sebagai menyimpang bila pola berbahasa tidak sesuai dengan pola yang umum, misalnya anak autisme mengucapkan kata-kata yang didengarnya berulang-ulang. Bila ditanya “ Mana Mama ?”, ia menjawab “ Mama Mama “. Hal ini disebut sebagai ekolalia, yang tidak ditemukan pada anak dengan keterlambatan bicara atau berbahasa.
Prevalensi gangguan berbicara dan atau berbahasa di Amerika Serikat 1 - 32% dari populasi anak normal. Sebagai tambahan persentase tampaknya lebih tinggi laki-laki daripada wanita. Diperkirakan 5% anak usia sekolah (sampai umur 17 tahun) memperlihatkan kelainan bicara, meskipun perkiraan ini dianggap sangat konservatif oleh banyak ahli. Kebanyakan timbulnya gangguan bicara dan berbahasa meliputi gangguan fonologi (suara yang dapat dikeluarkan), gramatika (organisasi dalam dan antar kata), semantik (pengorganisasian konsep) atau pragmatik (penggunaan bahasa).


DEFENISI
           Keterlambatan bicara [speech delay] adalah apabila kemampuan bicara seorang anak kurang dibandingkan populasi normal. Berbagai keadaan dapat menyebabkan keterlambatan (dapat dilihat pada tabel 1). Keterlambatan bicara dapat disertai atau tanpa disertai gangguan kognitif. Keterlambatan bicara dapat berupa gangguan bicara ekspresif atau campuran gangguan berbicara ekspresif dan reseptif.

            Tabel 1. Penyebab keterlambatan bicara  :
       ¨ Retardasi mental
       ¨ Gangguan pendengaran [Hearing loos]
       ¨ Gangguan maturitas [Developmental language delay]
       ¨ Afasia perkembangan ekspresif [Expressive language disorder, developmental
           expressive aphasia]
       ¨ Bicara dua bahasa [Bilingualism]
       ¨ Autisme
       ¨ Aphasia reseptif
       ¨ Cerebral palsy.
    
            Dari tabel 1., dikatakan bahwa tiga penyebab yang paling sering didapati/ dijumpai dalam keterlambatan bicara pada seorang anak yakni retardasi mental, gangguan pendengaran dan gangguan maturitas.
           
STRUKTUR ANATOMI
            Berbahasa dan berbicara merupakan aktivitas yang paling kompleks dalam kehidupan manusia, khususnya seorang anak. Mulai dari kehidupan bayi sampai dewasa muda perkembangan seorang anak berdasarkan umur,perkembangan motorik kasar maupun halus untuk berkomunikasi dengan sekitarnya memerlukan kemampuan berbahasa dan berbicara. Untuk berbahasa dan berbicara dibutuhkan beberapa fungsi yang saling bekerja sama dan terkoordinasi, yang membutuhkan berfungsinya dengan baik beberapa area pada korteks serebral dan struktur lain di otak. Korteks serebral adalah permukaan serebrum yang terdiri dari substansia grisea dan merupakan pusat dari fungsi motorik dan sensorik. Secara konvensional dikenal empat area berbahasa utama yang pada sebagian besar orang terletak di hemisfer kiri. Dua diantaranya merupakan area reseptif berbahasa dan dua lainnya memerankan fungsi ekspresif berbahasa. Kedua area reseptif berhubungan erat satu sama lain dan dianggap sebagai central language zones. Salah satunya berfungsi sebagai area persepsi berbahasa terletak di daerah temporalis posterior-superior (bagian posteriort area 22; dikenal dengan area Wernicke, dan girus Heschl (area 41 dan 42). Area kedua berfungsi membantu persepsi bahasa tertulis, dan terletak di girus angularis ( area 39) pada bagian inferior lobus parietalis, disebelah anterior area visual reseptif. Area ketiga terletak di ujung posterior dari konvolusi frontalis inferior (area Brodmann 44 dan 45) yang disebut area Broca dan berfungsi dalam aspek motorik berbicara. Area keempat berfungsi dalam mengekspresikan masukan kata-kata yang diperoleh secara visuil menjadi dalam bentuk tulisan. Area ini terletak di bagian inferior lobus frontalis, disebut the Exner writing area.
           Berikut ini dibicarakan dengan singkat beberapa struktur anatomis lainnya yang berperan dalam berbahasa.
Lobus Frontalis  : Daerah perbatasan lobus frontalis dengan lobus temporalis dan lobus parietalis di hemisfer kiri, terutama di bagian paling belakang konvolusi frontalis yang paling bawah, beserta operkulum, merupakan daerah penting untuk berbicara dan berbahasa. Lobus frontalis berfungsi sebagai pusat koordinasi motorik yang berhubungan dengan aktivitas intelektual. Disamping itu juga berpengaruh terhadap kepribadian, tempramen, kontrol emosi dan tingkah laku. Lesi di korteks frontalis dapat menimbulkan kelumpuhan kontralateral sesuai penataan somatotopisnya. Selain itu dapat juga menimbulkan apraksia.
Lobus Parietalis  : Lobus ini bekerja untuk sistem sensorik dan juga berfungsi untuk menginterpretasikan rangsangan (gnosis), gnosis taktil, orientasi visual ruang, citra tubuh dan sensai muskuler (praksi). Lesi di korteks lobus ini dapat menimbulkan hemianestesi, disorientasi, gangguan pada citra tubuh, agnosia dan apraksia.
Lobus Temporalis  : Daerah terpenting untuk pengolahan bahasa lisan terletak di lobus temporalis hemisfer kiri, dibelakang daerah audutif primer, yang disebut daerah Wernicke. Lesi didaerah ini akan menyebabkan penderitanya tidak dapat mengenali musik melalui pendengaran. Lesi korteks temporalis bilateral dapat menyebabkan ketulian.
Lobus oksipitalis  : Lobus ini berfungsi dalam sensasi, persepsi dan terpretasi rangsangan-rangsangan visuil. Lesi pada lobus oksipitalis dapat menyebabkan hemianopsia, agnosia visuil, aleksia oksipital dan gangguan visuil lainnya yang bervariasi, tergantung letak lesinya.
          Brodmann menggambarkan lokalisasi korteks serebri yang berhubungan dengan fungsi bahasa dan bicara, sebagai berikut :
a. Area 1,2, dan 3:  berfungsi  sebagai   pusat  sensorik,  yang  meliputi   sensasi  dan
                        persepsi raba, nyeri, tekan, suhu, kinestetik dan proprioseptik.
b. Area 4      :  berfungsi sebagai pusat motorik untuk gerakan volunter dan praksi
c. Area 7a.   :  berfungsi sebagai pusat pembentukan pola gerak bicara.
d. Area 7c.   :  berfungsi  sebagai  pengendali  gerak  bicara yang berhubungan dengan 
                        emosi.
e. Area 8,9,10,11:  berfungsi   sebagai   pusat  pengendali  pembentukan  konsep  yang
                       diperlukan dalam proses berpikir dan simbolisasi.
f.  Area 22    : berfungsi sebagai pusat persepsi auditorius.
g. Area 41 dan 42 : berfungsi  sebagai   pusat  pengenalan   atau  interpretasi  terhadap
                       rangsangan auditorius (area Wernicke).
h.  Area 44   : berfungsi sebagai pusat pengatur pola gerak organ bicara (area Broca).

         Sedangkan Glassman (1978), membuat suatu lokalisasi pusat bahasa, hal ini penting sekali sebagai acuan terjadinya lesi pada area di korteks tersebut akan menyebabkan terjadinya kelainan fungsi berbahasa.

Tabel 2. Lokalisasi pusat bahasa menurut Glassman
      -----------------------------------------------------------------------------------------
          Lokalisasi                                                  Fungsi  
      -----------------------------------------------------------------------------------------
          Hemisfer kiri (hki)                      Verbal               lebih dari    Nonverbal
          Hemisfer kanan (hka)                  Nonverbal        lebih dari   Verbal
          Temporal hki                               Bahasa              lebih dari    Musik
          Temporal hka                              Musik                lebih dari    Bahasa
          Anterior hki                                 Kelancaran        lebih dari    Perbendaharaan
          Anterior hka                                Perbendaharaan lebih dari   Kelancaran
          Anterior hki                                 Sintaksis            lebih dari   Semantik
          Posterior hka                               Semantik            lebih dari   Sintaksis
       ----------------------------------------------------------------------------------------
          hki, hemisfer kiri ; hka, hemisfer kanan ; lebih dari , lebih dominan daripada. 

PERKEMBANGAN BICARA NORMAL
           Seorang bayi (infant) belumlah dapat berbicara kira-kira sampai umur 2 tahun. Biasanya seorang anak mengikuti tahap-tahap perkembangan berbicara dari skala milestone yang meliputi komponen auditory reseptif dan ekspresif serta komponen visual.  Pada masa bayi, perkembangan berlangsung secara murni dan tidak terlalu kompleks. Hal ini memudahkan evalusi perkembangan menurut bidangnya masing-masing, misalnya perkembangan motorik kasar, motorik halus, bicara dan lain-lain. Setelah berumur 2-3 tahun, perkembangan menjadi makin kompleks dan saling berinteraksi, ditambah lagi dengan munculnya perkembangan prilaku dan psikologis. Menurut Pusponegoro HD, perkembangan 2 tahun pertama kehidupan adalah perkembangan neurologis, setelah itu mulai bercampur dengan perkembangan psikologis.  Berikut ini pada tabel 3. digambarkan perkembangan bicara normal menurut umur yang diambil dari Leung AKC, Kao CP (1999).

           Tabel 3. Perkembangan Bicara Normal
    -------------------------------------------------------------------------------------------------
         Umur                     Kemampuan
    -------------------------------------------------------------------------------------------------
        1 – 6 bulan             membuat suara “ koo”, tangisan
        6 -  9 bulan             sudah mengeluarkan kombinasi huruf mati dan hidup
                                       (consonant and vowel), misalnya “ bababa, dadada”.
                                       Hal ini disebut sebagai Babbling.
        10 – 11 bulan         mengucapkan “ mama/ dada “
        12   bulan               mengucapkan “ mama/ dada” dengan arti, sering dengan dua
                                       atau tiga kata yang berarti
        13 – 15 bulan         Pengucapan 4 sampai 7 kata; kurang dari 20% kata-kata yang
                                       diucapkan sudah dapat dimengerti
        16 – 18 bulan         Pengucapan 10 kata; menggunakan ekolalia dan jargon,
                                       20-25% kata-kata yang diucapkan sudah dapat dimengerti.
        19 – 21 bulan         Pengucapan 20 kata; 50% kata-kata yang diucapkan sudah da
                                       pat dimengerti
        22 – 24 bulan         Pengucapan > 50 kata; dua kata phrase; 60-70% kata-kata –
                                       yang sudah dapat dimengerti.
        2 – 21/2 tahun        Pengucapan 400 kata; 2-3 kata phrase; menggunakan kata
                                       benda ; Bicara 60 – 70% dapat dimengerti.
        21/2 – 3 tahun       Menggunakan plural dan past tense, mengenal umur dan jenis
                                       kelamin, dapat menghitung 3 objek dengan benar, Bicara 80 –
                                       90% dapat dimengerti.
        3 – 4 tahun             3 – 6 kata per kalimat, sering menanya dan meminta jawaban
                                       yang terperinci, dapat mengatakan sebuah cerita, seluruh kata
                                       katanya sudah dapat dimengerti.
        4 – 5 tahun             6 – 8 kata per kalimat; mengenali warna, menghitung sampai
                                       10 secara tepat.
      -------------------------------------------------------------------------------------------------

            Menurut Pusponegoro HD, perkembangan bicara yang dini berlangsung dalam 3 (tiga) tahapan, yakni : Fase pra bicara (0 – 10 bulan), Fase naming (10-18 bulan), serta masa kombinasi huruf (18-24 bulan).
A.      Fase Pra Bicara (0-10 bulan).
               Kemampuan reseptif ditandai dengan berkembangnya kemampuan mengenal bunyi. Pada fase dini, anak telah bereaksi, kemudian menunjukkan orientasi pada suara bel. Kemampuan ekspresif awalnya adalah suara guttural saat bayi mengeluarkan suara tenggorok dan berbagai respons fisiologis seperti menguap, batuk, menangis, gelegakan. Kemudian berkembang dalam bentuk suara cooing, anak dapat mengeluarkan huruf hidup (vowel) seperti: “ aaa-aaa”.Umur 3 bulan ia dapat menunjukkan perhatian terhadap suara ibu. Umur 6 bulan sudah mengeluarkan kombinasi huruf mati dan hidup, misalnya :” bababa. Dadada”. Hal ini dikenal dengan babbling.      
      B.  Fase Naming (10-18 bulan).
               Pada fase ini bayi sudah mengerti bahwa benda atau manusia mempunyai nama. Ia mulai mengucapkan “ Mama” bila melihat ibunya. Kemampuan reseptif pada umur 1 tahun mungkin sudah mencapai 10 kata walaupun ia baru menngucapkan 1-2 kata yang berarti. Ia dapat mengikuti perintah sederhana, bila orang menggunakan mimik.
               Umur 2 tahun, anak sudah dapat mengerti kata-kata tanpa mimik. Ia mulai mengucapkan kalimat pendek dengan irama tertentu (immature jargoning), kemudian kata-kata bertambah (mature jargoning). Pada akhir fase ini biasanya anak sudah mengucapkan 25 kata.
                Selama masa ini, menunjuk merupakan hal yang penting. Kemampuan reseptif menyebabkan ia akan melihat ke arah yang ditunjuk. Menunjuk juga merupakan bagian dari kemampuan ekspresif. Ia menunjuk kepada sesuatu yang menarik minatnya, sambil berbicara “Uh,uh,uh” untuk meminta orang dewasa mengambil benda tersebut. Hal ini disebut sebagap protoimperative pointing. Menunjuk juga merupakan bagian dari perkembangan personal-sosial. Dalam hal ini ia menunjuk bukan untuk mendapatkan benda tersebut, tetapi untuk menyatakan bahwa ia mengerti adanya suatu objek yang menarik dan mengharapkan agar mitranya juga merasa tertarik. Hal ini disebut sebagai protodeclarative pointing.
     C. Masa Kombinasi huruf (18-24 bulan ).
               Ia mengatakan kata yang belum tentu sesuai dengan nama bendanya, misalnya ia menunjuk kepada kacamata ayahnya dan berkata “papa” bukan “kacamata”. Ia mengucapkan kombinasi kata yang sering didengarnya, misalnya “ Ma kasih”.
               Kemudian muncul bicara telegrafis. Ia mengucapkan kalimat pendek yang singkat, misalnya “ke luar” berarti “ Saya mau pergi ke luar rumah “.
               Saat ini, 50% diantara kata-kata yang diucapkannya harus dapat dimengerti oleh orang yang asing. Setelah umur 2 tahun, fungsi berbicara dan berbahasa berkembang dengan cepat.

ETIOLOGI
           Keterlambatan bicara [speech delay] merupakan manifestasi dari sejumlah besar gangguan tahapan/ penyimpangan dari tahapan perkembangan bicara normal. Adapun penyebab dari keterlambatan berbicara, yakni :
1.Retardasi Mental
           Retardasi mental merupakan 50% diantara penyebab keterlambatan bicara. Angka kejadian retardasi mental adalah 2-3% didalam populasi, baik berdiri sendiri atau merupakan bagian dari penyakit lain. Diagnosis sering terlambat karena dokter menganggap bahwa anak tidak tampak mengalami retardasi mental, menganggap bahwa anak yang menunjukkan perkembangan motorik kasar normal tidak mungkin mendeteksi retardasi mental sebelum dilakukan uji IQ secara formal.
           Anak yang mengalami retardasi mental menunjukkan urutan tahapan perkembangan yang teratur tetapi terlambat, meliputi keterlambatan bicara reseptif, ekspresif, disertai keterlambatan visuo-motor, komprehensi auditori dan gangguan penggunaan mimik. Perkembangan motorik kasar seringkali normal kecuali bila ada hipotonia. Makin berat retardasi mental, makin lambat komunikasi terjadi. Etiologi hanya dapat ditentukan pada 60-70% kasus, walaupun sudah dilakukan pemeriksaan intensif. Penyebab yang sering ditemukan, misalnya kelainan genetik, infeksi intrauterin, insuffisiensi plasenta, obat-obatan pada ibu hamil, trauma SSP, hipoksia, kernikterus, hipotiroidisme, keracunan, meningitis, ensefalitis dan kelainan metabolik.
           Untuk menegakkan disgnosis, dokter harus selalu menduga danya kemungkinan retardasi mental. Beberapa indikator penting yang lebih dini misalnya wajah dismorfik yang menunjukkan kemungkinan adanya sindroma tertentu atau hipotonia yang menyeluruh. Contoh: pada sindroma Down yang sering menunjukkan hipotonia dengan wajah dismorfik.

2. Gangguan Pendengaran [Hearing Loss]
            Pendengaran mutlak diperlukan untuk berkembangnya bahasa dan bicara, terutama pada tahun-tahun pertama kehidupan [in the first few years of life]. 
            Gangguan pendengaran terdiri dari 4 tipe:
1.        Tipe konduktif,
Paling sering disebabkan oleh otitis media dengan efusi, malformasi telinga tengah atau atresia liang telinga. Keadaan ini dapat dibantu dengan alat bantu dengar.
2.        Tipe kerusakan sensorineural,
Disebabkan kerusakan sel rambut telinga tengah atau saraf otak ke VIII, karena infeksi intrauterin, kernikterus, obat ototoksik, meningitis bakterialis, hipoksia, perdarahan intrakranial, kelainan genetik dan kromosom. Biasanya lebih berat pada frekuensi tinggi dan tidak memberi respons terhadap alat bantu dengar.
3.        Tipe campuran bila masalah terjadi di telinga tengah dan telinga dalam.
4.        Tipe sentral karena kerusakan saraf atau otak.
Pada awalnya, gangguan pendengaran sangat sedikit mempengaruhi keluarnya suara yang bukan merupakan kata-kata, sehingga gangguan pendengaran sering kali nampak setelah berumur 9 bulan. Setelah itu suara berkurang dan anak cenderung menjadi lebih diam.
Ada tidaknya gangguan pendengaran harus selalu dinilai pada saat bayi datang ke dokter. Aberbagai instrumen mulai dari anamnesis, uji pendengaran dengan alt sederhana sampai yang canggih dapat dilaksanakan. Di praktek, dapat digunakan bel, kertas diremas atau suara ketokan sendok pada cangkir.

3.Gangguan Maturitas.
            Developmental language delay/ maturational delay merupakan bentuk keterlambatan bicara yang mungkin paling sering ditemukan. Hal ini disebabkan gangguan pematangan proses neurologis sentral yang diperlukan untuk bicara. Kejadian ini lebih sering pada anak laki-laki, sering pula disertai riwayat keterlambatan bicara pada keluarga. Prognosis cukup baik dan kebanyakan berbicara lancar pada umur sekolah. Biasanya anak dengan maturational delay tidak menunjukkan gangguan kognitif dan gangguan reseptif. 
            Anak dengan maturational delay tidak menunjukkan gangguan kognitif dan gangguan resseptif. 

4. Gangguan  Bicara ekspresif [Expressive Language Disorder]
           Anak-anak ini mempunyai intelegensia non verbal, pendengaran, kemampuan komprehensi, emosi dan artikulai yang normal.  Gangguan disebabkan disfungsi otak yang mengakibatkan ketidakmampuan menterjemahkan gagasan kepada bicara. Anak dapat menggunakan mimik untuk menyatakan kehendak.
           Keadaan ini sulit dibedakan dengan developmental language delay. Anak mengalami kesulitan mengkomunikasikan kebutuhan, pikiran dan maksudnya dengan ucapan yang benar. Perbendaharaan kata yang terbatas, kalimat pendek, tidak lengkap dan tata bahasa kacau, cerita dan kejadian yang disampaikan secara tidak terorganisasi. Untuk menegakkan diagnosis, perlu uji kemampuan bicara atau intelegensia non verbal.
           Sebanyak 50 – 80% diantara anak-anak ini akan mencapai kemampuan berbicara yang normal sebelum umur sekolah. Prognosis kurang baik bila gangguan berbicara ekspresif menetap sampai umur sekolah. Anak-anak ini dapat menunjukkan gangguan lainnya misalnya gangguan membaca dan gangguan pemusatan perhatian. Kadang-kadang anak tampak nortmal, tetapi tetap mengalami kesulitan bila harus menceritakan sesuatu hal yang kompleks.

5. Bilingualisme
           Anak normal dengan mudah dapat berbicara dalam 2 bahkan 3 bahasa sekaligus. Penelitian membuktikan bahwa kemampuan bilingualisme tidak datang dengan sendirinya, tetapi anak harus menggunakan strategi kognitif, sosial dan linguistik. Sensus pada tahun 1990 di Amerika menunjukkan bahwa 40% diantara anak yang menggunakan bahasa selain bahasa Inggeris dirumahnya menjadi kurang fasih berbahasa Inggeris.
           Bila anak mengalami gangguan berbahasa, kemampuan strategi mereka menjadi berkurang. Lebih sulit lagi bila anak mengalami penyimpangan berbahasa misalnya autisme.
           Secara klinis, bila ada keterlambatan atau penyimpangan berbahasa atau berbicara, strategi bilingualisme harus didiskusikan lagi dengan memperhatikan beberapa hal :
1.        Tentukan bahasa yang paling diperlukannya di kemudian hari.
2.        Tentukan tingkat kemampuan anak dalam kedua bahasa tersebut.
3.        Tentukan motivasi keluarga dan guru sekolah untuk membantu
4.        Tentukan minat anak dalam bahasa tersebut
5.        Diskusikan dengan keluarga
6.        Berikan pelatihan berbicara dan berbahasa secara terstruktur dan intensif.



7.        Autisme
            Autisme merupakan suatu istilah yang masih asing bagi sebagian besar masyarakat, dan perkataan autisme ini berasal dari kata “auto” yang berarti sendiri.
            Jadi autisme merupakan suatu jenis perkembangan pervasif pada anak, yang kompleks dan berat, yang sudah tampak sebelum usia 3 tahun; sehingga membuat mereka tidak mampu berkomunikasi, tidak mampu mengekspresikan perasaan maupun keinginannya, sehingga perilaku dan hubungannya dengan orang lain menjadi terganggu. Biasanya autisme lebih sering ditemukan pada anak laki-laki dibandingkan anak perempuan 2.6 – 4 : 1. 
            Ada 3 kelompok gejala yang harus diperhatikan dalam mendiagnosis autisme, yakni : interaksi sosial, komunikasi verbal/ nonverbal, bermain serta berbagai aktivitas dan minat.  Didalam berkomunikasi anak autis ditandai dengan gangguan komunikasi berupa keterlambatan dan penyimpangan bicara. Mengeluarkan kata-kata yang tidak dimengerti orang lain, meniru (membeo), nada suara yang monoton, tidak dapat bereaksi timbal balik dalam pembicaraan. Mengoceh pada tahun pertama kehidupan tampak kurang dibanding anak lain seusianya. Biasanya mereka tidak menunjuk atau memakai gerakan tubuh untuk menyampaikan keinginannya, tapi dengan mengambil tangan orang tuanya/ orang lain untuk dipakai mengambil objek yang dimaksud.
           Selain itu juga anak autis, terdapatnya gangguan kemampuan interaksi sosial dengan orang lain, serta adanya perilaku yang aneh, ritualistik dan kompulsif. 
           Tidak semua penyandang autisme memperlihatkan gejala berat. Saat ini autisme disebut sebagai Austistic Spectrum Disorder, yakni gejala autisme dapat terlihat dengan banyak variasi kombinasi, dari samar sampai jelas sekali. Oleh karena itu dua anak autistik dapat sangat berbeda satu-sama lain penampakannya maupun ketrampilannya.
           Untuk menegakkan diagnose autisme, digunakan beberapa kriteria:
 1. Kriteria diagnostik dari PPDGJ III : Autisme Masa Kanak dan Autisme tidak khas
 2. Kriteria diagnostik dari ICD-10 : Childhood Autism dan Atypical Autism
 3. Kriteria diagnostik dari DSM IV : Autistic Disorder.           

8.Mutisme Elektif
           Dalam keadaan ini anak tidak bicara karena tidak mau bicara. Mereka dapat bicara pada saat sendiri, bersama kawan yang disukainya dan kadang-kadang dengan orang tuanya, tetapi tidak bicara di sekolah, didepan umum atau dengan orang asing. Lebih sering ditemukan pada perempuan dibandingkan laki-laki. Sebagian diantaranya mengalami defisit berbahasa atau gangguan artikulasi.
           Biasanya keadaan ini mempunyai dasar psikopatologi. Sering disertai gangguan penyesuaian diri, sangat tergantung orang tua, negativistik, pemalu,menarik diri. Keadaan ini dapat menetap beberapa bulan sampai beberapa tahun.

9. Afasia karena gangguan Neurologis.
             Afasia (disfasia) adalah gangguan berbahasa yang menyangkut pengertian dan kemampuan mengutarakan bahasa lisan dan bahasa tertulis, yang disebabkan oleh lesi otak yang didapat.  Sedangkan Gilroy  menyatakan bahwa afasia adalah gangguan berbahasa yang secara primer disebabkan oleh disfungsi  atau lesi hemisfer serebral dominan. Menurut Rosenbeck, Lapointe dan Wertz (cit. Poerwadi,1999), afasia adalah  suatu gangguan atau kerusakan yang didapat dan baru terjadi pada susunan saraf pusat, yang menyebabkan ketidakmampuan untuk mengerti dan merumuskan bahasa. Gangguan berbahasa ini dapat dipengaruhi oleh ketidakberdayaan fisiologis atau gangguan kognisi, tetapi tidak dapat dijelaskan akibat demensia, hilangnya sensorik ataupun disfungsi motorik. 
            Berbagai jenis proses patologis dapat menyebabkan terjadinya afasia. Untuk mempermudah mengingatnya, Poerwadi menggunakan akronim VITAMIN D yang terdiri dari: vaskuler, infeksi, trauma/toksik, anoksik, metabolik, idiopatik, neoplastik dan degeneratif/ demielinisasi.
           Afasia pertama kali dipergunakan oleh Trousseau pada tahun 1864. Pada tahun 1874, Karl Wernicke (1848 – 1905) membedakan dua bentuk afasia yang berbeda, afasia motorik dan afasia sensorik.  Wernicke kemudian mengusulkan bentuk ketiga dari afasia yang disebutnya afasia konduksi dan membuat postulat bahwa afasia konduksi disebabkan oleh putusnya jaras-jaras yang menghubungkan area pendengaran dengan area motorik bicara dengan gejala utamanya parafasia.
          Klassifikasi afasia terbagi atas :
I. Berdasarkan adanya “ expressive-reseptive dichotomy”:
        1.  Afasia motorik ( Broca/ Afasia ekspresif)
-          Bentuk afasia dimana, pasien sukar mengeluarkan kata-kata
-          Diduga disebabkan adanya lesi diosekitar daerah Broca pada lobus frontalis yang dominan.
-          Afasia motorik terberat adalah bila penderita sama sekali tidak dapat mengeluarkan kata-kata.
        2.  Afasia sensorik ( Wernicke/ Afasia reseptif)
             - Bentuk afasia, dimana kemampuan untuk mengerti bahasa verbal dan visual ter   -
                 ganggu atau hilang sama sekali.
             -  Diduga disebabkan adanya lesi pada daerah atau dekat daerah Wernicke pada lobus
                 lobus temporalis yang dominan.

II. Berdasarkan ciri-ciri bicara  spontan,  ada 2 (dua)jenis afasia yang dipakai Evaluasi
     Watson (1975),yakni:
      ---------------------------------------------------------------------------------------------
          Ciri-ciri                 Afasia non-fluent (Broca)              Afasia Fluent (Wernicke)
      ----------------------------------------------------------------------------------------------
      - Kecepatan Bicara            menurun                                     Normal/meningkat
      - Upaya bicara                   meningkat                                  normal 
      - Banyak bicara                 menurun                                     meningkat/logores
      - Prosodi                            disprosodi                                  normal
      - Isi bicara                         substansif                                   gramatika/ sirkumlokusi
      - Panjang frase                   pendek                                       panjang
      - Parafasia                          jarang nyata                               ketiga bentuk parafasia

III. Berdasarkan klassifikasi Benson (1979) yang didasarkan pada gejala-gejala (sindrom) afasia, atau lokasi lesi, ataupun keduanya. 
1.        Sindroma Afasia Perisylvian
a.        Afasia Broca
b.        Afasia Wernicke
c.        Afasia konduksi
2.        Sindroma Afasia Borderson
a.        Afasia transkortikal motorik
b.        Afasia oleh infark serebral anterior
c.        Afasia transkortikal sensorik
d.        Afasia transkortikal campuran
3.        Sindroma Afasia Subkortikal
a.        Afasia ruang kuadrilateral Marie
b.        Afasia talamik
c.        Afasia striata
d.        Afasia lesi substansia alba
4.        Sindroma afasia tidak terlokalisasikan
a.        Afasia anomik
b.        Afasia global
5.        Aleksia
a.        Aleksia parieto-temporal
b.        Aleksia oksipital
c.        Aleksia frontal.
6.        Agrafia
7.        Sindroma terkait
a.        Afemia
b.        Tuli kata murni
c.        Apraksia berbicara
d.        Salah nama non afasia.
IV. Klassifikasi dari Aphasia Research Center of the Boston Veterans Administration Hospital
1.        Afasia dengan kemampuan pengulangan yang abnormal
a.        Afasia Broca
b.        Afasia Wenicke
c.        Afasia Global
d.        Afasia konduksi
2.        Afasia dengan kemampuan pengulangan yang utuh
a.        Afasia transkortikal campuran
b.        Afasia transkortikal motorik
c.        Afasia transkortikal sensorik
d.        Afasia anomik
3.        Gangguan modalitas tunggal bahasa
a.        Afemia
b.        Tuli kata murni
c.        Aleksia tanpa agrafia
4.        Afasia subkortikal.

10. Cerebral palsy
             Keterlambatan bicara paling sering ditemukan pada anak dengan cerebral palsy. Keterlambatan bicara ini terjadi paling sering mereka-mereka dari golongan athetoid dari cerebral palsy. Biasanya ditandai dengan gangguan pendengaran, incoordination or spasticity of the muscle of the tongue, mental retardasi ataupun defect in the cerebral cortex.

EVALUASI KLINIS
             Kecurigaan mengenai kemampuan bicara harus dimulai pada fase non verbal. Anamnesis dan pemeriksaan fisik yang lengkap dapat membantu memberikan arah diagnosis.
             Anamnesis perkembangan terutama perkembangan berbahasa sangat penting. Riwayat medis termasuk gangguan selama kehamilan, infeksi, asfiksia, prematuritas, penggunaan obat ototoksik, riwayat sikososial, cara keluarga bicara pada anak, riwayat gangguan bicara ataupun gangguan dengar pada keluarga.
             Pemeriksaan fisis meliputi pemeriksaan antropometris dan lingkar kepala, penampilan dismorfik, pemeriksaan neurologis, pendengaran dan penglihatan.
             Beberapa pemeriksaan screening test yang berguna yang berguna untuk menilai tahapan kemampuan bicara reseptif dan ekspresif yakni: The Denver Developmental Screening Test (DDST), The Wechsler Intelligence Scale for Children Revised (WISCR), dan The Wechsler Preschool and Priamary Scale of intelligence (WPPSI).
             Pemeriksaan lain-lain seperti EEG, pencitraan baik MRI ataupun CT Scan, pemeriksaan metabolik, kromosom, DNA hanya dilakukan atas indikasi.

PENGOBATAN
            Pengobatan keterlambatan bicara pada anak-anak biasanya bersifat individual. Perlunya dibentuk tim kesehatan yang terdiri dari dokter, terapis wicara, audiologist, psichologist dan terapi occupasional yang bekerja sama dalam satu tim. Dokter akan memberitahukan penyebab dari keterlambatan bicara dan pengobatannya dalam hal mengkoreksi ataupun mengurangi keterlambatan bicara.
             Pada anak-anak dengan gangguan pendengaran, dapat digunakan alat bantu dengar [hearing aids], lip-reading instruction dan myringotomy.
              Psychoterapi sangat berguna apabila anak dengan mutisme elektif. Hal ini direkomendasikan apabila dijumpai anak dengan anxiety ataupun depressi.

KESIMPULAN
         Keterlambatan bicara [speech delay] adalah apabila kemampuan bicara seorang anak kurang dibandingkan populasi normal. Terjadinya penyimpangan ini terutama dalam pola berbahasa yang tidak sesuai dengan usia kronologisnya.
         Keterlambatan bicara dapat disertai atau tanpa disertai gangguan kognitif. Keterlambatan bicara dapat berupa gangguan bicara ekspresif dan reseptif.
         Perkembangan seorang anak dalam 2 tahun pertama kehidupan adalah perkembangan neurologis, setelah itu mulai bercampur dengan perkembangan psikologis. Menurut Pusponegoro HD, perkembangan bicara yang dini berlangsung dalam tiga tahapan yakni: fase pra bicara (0-10 bulan), fase naming (10-18 bulan) serta masa kombinasi huruf (18-24 bulan).
        Adapun penyebab dari keterlambatan bicara yang paling sering ditemukan yakni: retardasi mental, gangguan pendengaran dan gangguan maturitas.
        Perlu sekali adanya kerjasama tim antara dokter umum, dokter anak, dokter syaraf, psikolog, terapis wicara, audiologis dan terapi occupasional. Biasanya terapis wicara memegang peranan penting sebagai salah satu anggota dari tim rehabilitasi itu sendiri

KEPUSTAKAAN
  1. Leung AKC, Kao CP. Evaluation and Management of the Child with speech delay. American Academy of Family Phsychians, 1999;1-11.
  2. Pusponegoro HD. Gangguan Komunikasi. Dalam : Partdede D, Bakri A, et al. ed. Buku Naskah Lengkap Kuliah Umum PIT IDAI I, Palembang,2001; 67-81.
  3. Setyono B. Terapi Wicara untuk Praktisi Pendidikan dan Kesehatan. Cetakan I. Jakarta: Balai Penerbit FK UI,1992;11-29.
  4. Kusumoputro S. Afasia: Gangguan Berbahasa. Cetakan I. Jakarta: Balai Penerbit FK UI,1992;11-29.
  5. Maria BL. Current management in child neurology. 3rd ed. London: BC Decker Inc, 2005.
  6. Adams RD, Viktor M, Ropper AH. Principle of Neurology. 6th ed. New York: McGraw-Hill;1997: 472 – 488.
  7. Kaplan HI, Sadock BJ, Grebb JA. Sinopsis Psikiatri. Edisi 8th . Binarupa Aksara, 2006.
  8. Poerwadi T. Defenisi dan klassifikasi Afasia. Neurona,1999, Jan;16 (1-2): 11-20.
  9. Moore GP, Hicks DM, Abbott TB. Gangguan Bicara dan Bahasa. Dalam : Ballenger J. editor. Penyakit THT. Jilid 1,1994.
  10. Busari JO, Wegelaar NM. How to investigate and manage the child who is slow to speak. BMJ 2004;328:272-276.
  11. Marbun MD. Gangguan Bahasa (Afasia), Klassifikasi, diagnose dan pengobatan . Majalah Kedokteran Nusantara edisi Khusus. Jan,1990;147-158.
  12. Helping the child with elective mutism. IAPAC/ ASHA HIV-related communication disorders committee. Available from URL : http//www. elective mutism/ BMJ.com/htm.
  13. Menkes JH. Child Neurology. 5th ed., 1995.
  14. Lumbantobing SM. Anak dengan Mental Terkebelakang. Edisi I. Balai Penerbit FK UI,1995.
  15. Yunus S. Anatomi dan Sindromologi Afasia. Neurona 1999. Jan;16(1-2):1-10.
  16. Widyawati I. Kriteria Diagnostik Gangguan Autistik. Disampaikan pada lokakarya penatalaksanaan anak autistik, Jakarta, 22-23 Nov,1997;1-13.
  17. Sutadi R. Autisme ? Apakah itu . Bulletin Yayasan Autism. Mei 1999;1:1-2.
  18. UCB Pharma. Petunjuk Penanganan Pasien Afasia. Perdossi. Sept 1998;1-16.