INFLUENZA (FLU) : PENYEBAB, GEJALA DAN PENGOBATAN

INFLUENZA(flu) DAN PENCEGAHANNYA

PENDAHULUAN

Influenza merupakan suatu penyakit infeksi akut saluran pernapasan yang diakibatkan infeksi virus influenza yang terjadi pada saluran nafas atas maupun bawah terutama ditandai oleh demam, menggigil, sakit otot, sakit kepala dan sering disertai pilek, sakit tenggorok dan batuk non produktif. Lama sakit belangsung antara 2-7 hari biasanya sembuh sendiri.

Virus ini sebagian terutama ditularkan dari orang ke orang melalui tetesan setelah orang yang terinfeksi batuk atau bersin, atau melalui bersentuh (mis. ketika seseorang berjabat tangan dengan orang lain). Lebih mudah untuk terkena influenza di tempat yang tertutup atau sesak. Penderita influenza dapat menularkan penyakit dari hari sebelum, sampai beberapa hari setelah gejala mulai timbul.

Kebanyakan penderita sembuh setelah beberapa hari, tetapi bagi penderita tertentu mungkin mengancam nyawa. Untuk mencegah influenza, dapatkan vaksinasi influenza tahunan. Jika Anda menderita influenza, tutup mulut dan hidung saat batuk dan bersin, cuci tangan Anda sebelum menyentuh orang lain, dan tetap tinggal di rumah.

EPIDEMIOLOGI ATAU PENYEBARANNYA

Influenza merupakan penyakit yang dapat menjalar dengan cepat dilingkungan masyarakat. Walaupun ringan penyakit ini tetap berbahaya untuk mereka yang berusia sangat muda dan orang dewasa dengan fungsi kardiopulmonar yang terbatas. Juga pasien yang berusia lanjut dengan penyakit ginjal kronik atau gangguan metabolik endokrin dapat meninggal akibat penyakit yang dikenal sebagai tidak berabahaya ini. Salah satu komplikasi yang serius adalah pneumonia bakterial. Serangan penyakit ini tercatat paling tinggi pada musim dingin dinegara beriklim dingin dan pada waktu musim hujan di negara tropik.

Pada saat ini sudah diketahui bahwa pada umumnya dunia dilanda pandemi oleh influenza 2-3 tahun sekali. Jumlah kematian pada pandemi ini dapat mencapai puluhan ribu orang dan jauh lebih tinggi dari pada angka-angka pada keadaan non endemik.

Reservoir penyakit influenza adalah manusia sendiri.Diduga bahwa reservoir hewan seperti babi, kuda dan burung memegang peran penting sebagai hewan penyebab terjadinya strain virus influenza yang baru, karena terjadinya rekombinasi gen dengan strain-strain virus lain yang berasal dari manusia. Bebek pada saat ini sudah dipastikan dapat dihinggapi oleh semua serotipe utama virus intluenza A yang total berjumlah 30 buah serotipe. Penyebaran penyakit ini adalah melalui media tetesan air (droplet) pada waktu batuk dan melalui partikel yang berasal dari sekret hidung atau tenggorok yang melayang di udard (air bone) terutama di ruang-ruangan yang tertutup dan sesak dipenuhi manusia.

ETIOLOGI ATAU PENYEBAB

Pada saat ini dikenal 3 tipe virus influenza yakni tipe A, B dan C. Ketiga tipe virus ini dapat dibedakan dengan complement fixation test. Tipe A merupakan virus penyebab influenza yang bersifat epidemik. Tipe B biasanya hanya menyebabkan penyakit yang lebih ringan dari pada tipe A dan kadang-kadang saja sampai mengakibatkan epidemi. Tipe C adalah tipe yang diragukan patogenitasnya untuk manusia, mungkin hanya menyebabkan gangguan ringan saja.


Influenza virus tipe A kemudian dibagi lagi berdasarkan Surface Hemaglutinin (H) dan Neuramidase (N) antigen. Infulenza virus tipe A mempunyai 15 subtipe H dan 9 N, tetapi hanya H1,H2, H3, N1 dan N2 yang sering menyebabkan penyakit pada manusia. Influenza virus tipe B dan C mirip, namun H dan N antigennya tidak mempunyai subtipe yang lain. Karena ini keduanya tak mempunyai serotipe yang lain.

Virus A dan B secara morfologi mirip, dan mempunyai lipid envelope dimana terdapat Glikoprotein H dan N. Virus penyebab influenza merupakan suatu orthomyxovirus golongan RNA dan berdasarkan namanya sudah jelas bahwa virus ini mempunyai afinitas untuk myxo atau musin.


Stuktur antigenik virus lnfluenza meliputi antara lain 3 bagian utama berupa : antigen S (atau soluble antigen), hemaglutinin dan neuramidase. Antigen S yang merupakan suatu inti partikel virus yang terdiri atas ribonukleoprotein. Antigen ini bersifat spesifik untuk masing-masing tipe. Hemaglutinin menonjol keluar dari selubung virus dan memegang peranan pada imunitas terhadap virus. Neuramidase juga menonjol keluar dari selubung virus dan hanya memegang peran yang minim pada imunitas. Selubung inti virus, berlapis matriks protein sebelah dalam dan membran lemak di sebelah luarnya.

PATOGENESIS

Siapa saja dapat terkena influenza. Kaum lanjut usia, penderita penyakit lain (misalnya penyakit jantung, penyakit paru-paru atau diabetes) dan anak-anak kecil lebih mungkin mengalami komplikasi.

Transmisi virus influenza lewat partikel udara dan lokalisasinya di traktus respiratorius. Penularan bergantung pada ukuran partikel (droplet) yang membawa virus tersebut masuk kedalam saluran pernapasan. Pada dosis infeksius 10 virus/droplet 50% orang-orang yang terserang dosis ini akan menderita influenza. Mula-mula mengenai sel epitel kolumner bersilia temasuk sel alveoler, sel kelenjar mukosa dan makrofag. Virus akan melekat pada epitel sel di hidung dan bronkus.

Setelah virus berhasil menerobos masuk ke dalam sel, dalam beberapa jam sudah mengalami replikasi. Partikel-partikel virus baru ini kemudian akan menggabungkan diri dekat permukaan sel, dan langsung dapat meninggalkan sel untuk pindah ke sel lain. Virus influenza dapat mengakibatkan demam tetapi tidak sehebat efek pirogen lipopolisakarida kuman bakteri gram negatif.


GEJALA KLINIS

Pada umumnya pasien mengalami gejala sitemik berupa demam, sakit kepala, sakit otot (mialgia), batuk, pilek dan kadang-kadang sakit pada waktu menelan dan suara serak. Gejala-gejala ini dapat didahului oleh perasaan malas dan rasa dingin. Mialgia dapat mengenai seluruh tubuh tetapi paling umum pada kaki dan daerah lumbosakral. Atralgia dapat juga terjadi. Penyakit ini juga memberikan gejala pada mata berupa rasa nyeri pada pergerakan mata, fotofobia dan mata terasa terbakar

Pada pemeriksaan fisik tidak dapat ditemukan tanda-tanda karakteristik kecuali hiperemia ringan sampai berat pada selaput lendir tenggorok. Keluhan pernafasan sering lebih menonjol begitu gejala sistemik menghilang (batuk dan nyeri tenggorokan) menetep selama 1 minggu dimana sering juga disertai rasa tidak enak di daerah substernal. Yang merupakan bukti komplikasi paru adalah adanya Dispnea yang jelas, Hiperpnea, Sianosis, Suara abnormal paru menyeluruh dan Tanda konsolidasi

Gejala-gejala akut ini dapat berlangsung untuk beberapa hari dan hilang dengan spontan. Gejala-gejala biasanya timbul satu sampai tiga hari setelah infeksi, dan Kebanyakan penderita sembuh dalam waktu seminggu. Setelah episode sakit ini, dapat dialami rasa capek dan cepat lelah untuk beberapa waktu. Badan dapat mengatasi infeksi virus influenza melalui mekanisme produksi zat anti dan penglepasan interferon. Setelah sembuh akan terdapat resistensi terhadap infeksi oleh virus yang homolog.

Pada pasien usia lanjut harus dipastikan apakah lnfluenza juga menyerang paru-paru. Pada keadaan tersebut, pada pemeriksan fisis dapat ditemukan bunyi napas yang abnomal. Mortalitas yang tinggi pada pasien usia lanjut yang terserang pneumonia virus intertisial, disebabkan adanya saturasi oksigen yang berkurang, serta akibat asidosis dan anoreksia. Komplikasi yang mungkin terjadi ada pasien ini adalah infeksi sekunder, seperti pneumonia bakterial. Batuk-batuk kering berubah menjadi batuk yang produktif yang kadang-kadang dapat mengandung bercak-bercak berwarna coklat. Penyakit umumnya akan membaik dengan sendirinya tapi kemudian pasien acapkali mengeluh lagi mengenai demam dan sakit dada. Pemeriksaan sinar tembus dapat menunjukan adanya infiltrat diparu-paru. Infeksi sekunder ini umumnya akibat streptococus pneumonia dan hemophilus influenza.

lnfeksi sekunder yang berat sekali, dikenal sebagai pneumonia stafilokok fulminan dapat terjadi beberapa hari setelah seseorang diserang influenza. Pada pasien, terjadi sesak napas, diare, batuk dengan bercak merah. Hipotensi dan gejala-gejala kegagalan sirkulasi. Dari darah, Stapilokokus aureus sering dapat dibiakan Komplikasi yang sangat jarang tetapi yang dapat juga di jumpai sesudah influenza adalah ensefalomielitis.

DIAGNOSIS

Menetapkan diagnosis pada saat terjadi wabah tidak akan banyak mengalami kesulitan. Di luar kejadian wabah, diagnosis influenza kadang-kadang terhambat oleh diagnosis penyakit lain. Diagnosis pasti penyakit influenza dapat diperoleh melalui isolasi virus maupun melalui pemeriksaan serologis. Untuk mengisolasi virus diperlukan usap tenggorok atau usap hidung dan harus diperoleh sedini mungkin, biasanya pada hari pertama sakit. Diagnosis serologis dapat diperoleh melalui uji fiksasi komplemens atau inhibisi hemaglutinasi. Akan dapat ditunjukan kenaikan titer sebanyak 4 kali antara serum pertama dengan serum konvalesen atau satu titer tunggal yang tinggi. Pada saat ini anti influenza IgM, juga digunakan di beberapa tempat.

Diagnosis cepat lainnya dapat juga di peroleh dengan pemeriksaan antibody fluoresen yang khusus tersedia untuk tipe virus influenza A. PCR dan RT-PCR sangat berguna untuk diagnosa cepat virus lainnya yang dapat pula menyerang saluran napas, antara lain adeno-virus, parainfluenza virus, rinovirus, respiratory syncytial virus, cytomegalovirus dan enterovirus. Keterlibatan berbagai jenis virus ini dapat ditunjukan dengan pemeriksaan serologi atau dengan isolasi langsung.

PENATALAKSANAAN ATAU PENGOBATAN

Pasien dapat diobati secara simtomatik. Demam, sakit kepala dan sakit otot dapat diringankan dengan parasetamol
dan istirahat. Obat oseltamivir 2x75 mg sehari selama 5 hari akan memperpendek masa sakit dan mengurangi keperluan tambah antimikroba untuuk infeksi bakteri sekunder. zanamivir dapat diberikan lokal secara inhalasi, makin cepat obat diberikan, makin baik.

Untuk kasus dengan komplikasi yang sebelumnya mungkin menderita bronkitis kronis, gangguan jantung atau penyakit ginjal dapat diberikan antibiotik. Pasien dengan bronkopneumonia sekunder memerlukan oksigen. Pneumonia stafilokokus sekunder harus diatasi dengan antibiotik yang tahan betalaktamase dan kortikosteroid dalam dosis tinggi.

PENCEGAHAN

Yang paling pokok dalam menghadapi influenza adalah pencegahan. Infeksi dengan virus influenza akan memberikan kekebalan rerhadap reinfeksi (infeksi kembali) dengan virus yang homolog atau virus yang sama. Karena sering terjadi perubahan akibat mutasi gen, antigen pada virus influenza akan berubah, sehingga seorang masih mungkin diserang berulang kali dengan galur (strain) virus influenza yang telah mengalami perubahan ini.

Kekebalan yang diperoleh melalui vaksinasi terdapat pada sekitar 70%. Vaksin influenza mengandung virus subtipe A dan B saja karena subtipe C tidak berbahaya. Diberikan 0,5 ml subkutan atau intramuskular. Vaksin ini dapat mencegah terjadinya mixing dengan virus sangat patogen H5N1 yang dikenal sebagai penyakit avian influenza atau flu burung. Nasal spray flu vaccinne (life attenunated influenza vaccine) dapat juga digunakan untuk mencegah flu pada usia 5-50 tahun dan tidak sedang hamil. Vaksinasi perlu diberikan 3 sampai 4 minggu sebelum terserang influenza. Karena terjadi perubahan-perubahan pada virus, maka pada permulaan wabah influenza biasanya hanya tersedia vaksin dalam jumlah terbatas dan vaksin dianjurkan hanya untuk beberapa golongan masyarakat tertentu sehingga dapat mencegah terjadinya infeksi dengan kemungkinan komplikasi yang fatal.

Golongan yang memerlukan imunoprofilaksis atau pencegahan dengan vaksin ini antara lain:
  1. Pasien berusia diatas 65 tahun
  2. Pasien dengan penyakit kronik seperti kardiovaskular, pulmonal, renal, metabolik (termasuk diabetes melitus), anemia berat dan pasien imunokompromaise (atau pasien dengan kekebalan tubuh rendah). Dianjurkan memberikan vaksin setiap tahun menjelang musim dingin atau musim hujan. Pasien yang sedang menderita demam akut sebaiknya ditunda pemberian vaksin sampai keadaan membaik.
  3. Juga mereka yang melaksanakan fungsi pelayanan masyarakat yang vital, memerlukan vaksinasi, seperti misalnya pegawai yang bertugas di unit darurat medis di rumah sakit. Mereka mungkin dapat menularkan penyakit ke pasien yang dirawat.
Pencegahan dengan kemoprofilaksis untuk mereka yang tidak dapat diberikan vaksinasi karena menderita alergi terhadap protein dalam telur dapat diusahakan dengan pemberian rimantadine 200mg dua kali sehari atau amantadine 100mg setiap 12 jam masing-masing selama 4-6 minggu. Juga bila tidak tersedia vaksin, cara pencegahan ini dapat diterapkan. Pemberian amantadine harus hati-hati pada mereka dengan gangguan fungsi ginjal atau yang menderita penyakit konvulsif. Pada usia lanjut cukup di berikan amantadine 100mg sehari mengingat penurunan fungsi ginjal. Juga bersihan kreatini antara 40-60ml/menit berlaku hal yang sama. Pada bersihan kreatini antara 10-15ml/menit dapat diberikan 200mg amantadine sekali seminggu. Meluasnya penyebaran penyakit di masyarakat dapat dicegah dengan mengingkatkan tingkah laku higienik atau kebersihan perorangan.

Jangan menularkan influenza!
Jika Anda mengalami gejala influenza:
  • Tetap berada di rumah sampai Anda lebih sehat
  • Tutup mulut dan hidung Anda dengan tisu sewaktu batuk dan bersin dan buang di dalam tempat sampah setelah dipakai
  • Cuci tangan Anda dengan sabun dan air mengalir selama 10 detik setelah batuk, bersin atau membersihkan hidung, dan sebelum menyentuh orang lain atau benda yang mungkin disentuh oleh orang lain
  • Sewaktu berjumpa dengan dokter, telepon sebelum waktu untuk melihat apakah dokter tersebut dapat memberikan Anda tempat menunggu yang terpisah dan mintalah masker jika Anda sedang batuk dan harus menunggu dekat orang lain.

DAFTAR PUSTAKA

BUKU ILMU PENYAKIT DALAM FK UI