Rhinitis atrofi : Penyakit pilek dengan sekret kering berbau busuk


RINITIS ATROFI: PENYAKIT DENGAN KRUSTA BERBAU


PENDAHULUAN
Dewasa ini Penyakit dengan keluhan pilek atau rinitis yang terus menerus dengan sekret atau yang mengering dan berbau busuk sering ditemukan pada masyarakat dengan tingkat sosial ekonomi rendah dan di lingkungan yang buruk dan di negara sedang berkembang. Untuk memastikan apakah penyakit dengan keluhan seperti ini merupakan suatu penyakit yang dikenal dengan Rinitis atrofi, memang perlu pemeriksaan seksama dari dokter THT. Frekwensi penderita rhinitis atrofi wanita : laki adalah 3 : 1. Penyakit ini lebih sering mengenai wanita, usia 1-35 tahun terutama pada usia pubertas.

Rhinitis atrofi atau ozaena adalah infeksi hidung kronik, yang ditandai oleh adanya atrofi progresif pada mukosa dan tulang konka. Salah satu gejala yang timbul adalah mukosa hidung menghasilkan sekret yang kental dan cepat mengering sehingga terbentuk krusta yang berbau busuk. Orang di sekitar penderita yang biasanya tidak tahan dengan bau tersebut, tetapi pasien sendiri tidak merasakannya karena hiposmia atau anosmia (tidak bisa membaui akibat dari penyakit ini).

Etiologi atau penyebab dan patogenesis (Perjalanan penyakit) rinitis atrofi sampai sekarang belum dapat diterangkan dengan memuaskan. Oleh karena etiologinya belum pasti, maka pengobatannya belum ada yang baku. Pengobatan ditujukan untuk menghilangkan faktor penyebab dan untuk menghilangkan gejala. Pengobatan dapat diberikan secara konservatif atau jika tidak menolong, dilakukan operasi.

Menurut pengalaman, untuk kepentingan klinis perlu ditetapkan derajat Rhinitis atrofi sebelum diobati, yaitu ringan, sedang atau berat, oleh karena ini sangat menentukan terapi dan prognosisnya. Biasanya diagnosis ozaena secara klinis tidak sulit. Biasanya discharge berbau, bilateral, terdapat crustae kuning kehijau-hijauan. Keluhan subjektif yang sering ditemukan pada pasien biasanya napas berbau (sementara pasien sendiri menderita anosmia).

Penyakit Rhinitis atrofi sering di kenal juga dengan istilah Ozaena, rinitis fetida, atau rinitis krustosa. Rhinitis atrofi atau Ozaena lebih umum di negara-negara sekitar Laut Tengah dari pada di Amerika Serikat. Menurunnya insidens campak, scarlet fever, dan difteria di Eropa Selatan sejak perang dunia ke II tampaknya timbul bersamaan dengan suatu penurunan tajam dalam insidens Rhinitis atrofi.

DEFENISI
  • Rhinitis atrofi atau ozaena adalah infeksi hidung kronik, yang ditandai oleh adanya atrofi progresif pada mukosa dan tulang konka. Salah satu gejala yang timbul adalah mukosa hidung menghasilkan sekret yang kental dan cepat mengering sehingga terbentuk krusta yang berbau busuk. Orang di sekitar penderita yang biasanya tidak tahan dengan bau tersebut, tetapi pasien sendiri tidak merasakannya karena hiposmia atau anosmia.
    • Atrofi adalah istilah yang menyatakan bahwa ada perubahan pada suatu alat tubuh tertentu, dimana alat tubuh tersebut mengecil atau melisut, dalam hubungan dengan rhinitis atrofi, yang mengalami pengisutan adalah lapisan mukosa dan tulang konka hidung.
    • Krusta adalah bahan cair, yang terdiri dari sekret lendir, darah, serum maupun jaringan nekrotik yang mengering.
    • Hiposmia adalah Hilangnya kemampuan mencium atau membaui suatu aroma tertentu akibat kelainan pada hidung, jika tidak merasakan bau sama sekali maka di sebut anosmia. 

Penyebab Rhinitis atrofi
  • Etiologi atau penyebab penyakit ini belum diketahui secara pasti. Dahulu diduga penyakit ini disebabkan oleh infeksi organisme tertentu diantaranya Coccobacillus, Bacillus mucosus, Coccobacillus foetidus azaena, Diphtheroid bacilli dan Kleibseilla ozaena.
  • Rinitis Atrofi di klasifikasikan menjadi 2 tipe :
    • Rinitiis Atrofi primer : penyebabnya belum diketahui dengan pasti, ada beberapa teori yang menjelaskan tentang penyebab rinitis atrofi primer :
      • Faktor herediter : penyakit ini diketahui berkaitan dengan hubungan keluarga yang berdekatan. Penelitian oleh Amreliwala tahun 1993 ditemukan 27,4 % kasus bersifat diturunkan secara autosomal dominan dan 67 % diturunkan secara resesif. Penelitian oleh Singh tahun 1992, 20 % kasus ditemukan adanya riwayat satu atau lebih anggota keluarga yang mempunyai penyakit yang serupa.
      • Infeksi : beberapa organisme telah ditemukan pada hidung pasien penderita rinitis atrofi, Terutama seperti kuman Klebsiella ozaena, kuman ini menghentikan aktifitas sillia normal pada mukosa hidung manusia. Selain itu kuman lain yang di temukan pada penderia rinitis atrofi adalah, Coccobacillus foetidus ozaena (Coccobacillus of Perez), Coccobacillus of Loewenberg, Bacillus mucosus (Abel’s bacillus), diphteroids, Bacillus pertusis, Haemophilus influenza, Pseudomonas aeruginosa dan Proteus species, tetapi semua bakteri tersebut tidak dapat dibuktikan sebagai penyebab rinitis atrofi.
      • Defisiensi nutrisi : nutrisi yang buruk disebutkan sebagai faktor penting pada perkembangan rinitis atrofi. Beberapa penulis menyebutkan penyakit ini berhubungan dengan defisiensi Fe (Zat besi). Selain itu  defisiensi vitamin larut lemak (terutama vitamin A) juga dipertimbangkan sebagai salah satu faktor penyebab.
      • Teori developmental : pneumatisasi yang buruk dari sinus maksila, memegang peranan penting terjadinya rinitis atrofi.
      • Defisiensi phospolipid : analisis biokimia dari aspirasi hidung pada kasus rinitis atrofi ditemukan adanya penurunan phospolipid total yang signifikan dibandingkan pada hidung normal.
      • Teori Ketidakseimbangan endokrin : beberapa penulis menyimpulkan defisiensi oestrogen sebagai faktor penyebab rinitis atrofi. Insidensi penyakit ini pada perempuan pubertas, gejala yang memberat pada saat menstruasi dan kehamilan, dan berkurangnya gejala pada beberapa kasus setelah pemberian estrogen, merupakan pendukung teori tersebut.
      • Autoimun : beberapa faktor seperti infeksi virus, malnutrisi, penurunan daya tahan tubuh sebagai faktor pemicu destruksi proses autoimun dengan melepaskan antigen mukosa hidung ke sirkulasi
      • Ketidakseimbangan otonom. Terjadi perubahan neurovaskular seperti deteriorisasi pembuluh darah akibat gangguan sistem saraf otonom
      • Variasi dari Reflex Sympathetic Dystrophy Syndrome (RSDS)
  • Rinitis Atrofi Sekunder
    • Pada keadaan ini umumnya rinitis atrofi disebabkan oleh infeksi hidung kronik seperti sinusitis kronis, tuberkulosis (TBC), sifilis, dan lepra. 
    • Penyebab lainnya yaitu kerusakan jaringan yang luas oleh karena operasi hidung dan trauma serta efek samping dari radiasi. Radiasi pada hidung umumnya segera merusak pembuluh darah dan kelenjar penghasil mukus dan hampir selalu menyebabkan rinitis atrofik

Siapa saja yang rentan terkena Penyakit Rhinitis atrofi?
  • Penyakit ini lebih banyak menyerang wanita daripada pria, terutama pada umur sekitar pubertas. Menurut beberapa kepustakaan menuliskan bahwa rinitis atrofi lebih sering mengenai wanita, terutama pada usia pubertas. Baser dkk mendapatkan 10 wanita dan 5 pria, dan Jiang dkk mendapatkan 15 wanita dan 12 pria. Samiadi mendapatkan 4 penderita wanita dan 3 pria. 
  • Tetapi dari segi umur, beberapa penulis mendapatkan hasil yang berbeda. Baser dkk mendapatkan umur antara 26-50 tahun, Jiang dkk berkisar 13-68 tahun, Samiadi mendapatkan umur antara 15-49 tahun.
  • Penyakit ini sering ditemukan di kalangan masyarakat dengan tingkat sosial ekonomi rendah dan lingkungan yang buruk dan di negara sedang berkembang.

Bagaimana proses perjalanan penyakit Rhinitis atrofi?
  • Untuk memahami bagaimana sampai terjadinya penyakit ini, ada baiknya jika kita mengenal anatomy dan fisiologi hidung manusia, karena proses penyakit ini berhubungan dengan hidung, sehingga untuk memahaminya haruslah mengerti anatomy dan fisiologi normal hidung. Untuk mengenal anatomy dan histologi, dapat di baca disini 
  • animated gif
    Gambar mukosa hidung
  • Patofisiologi atau perjalanan penyakit dari rhinitis atrofi dimulai dari berbagai etiologi atau penyebab seperti bakteri Klebsiella ozaena, trauma, penyebaran infeksi lokal setempat (contoh: sinusitis maxillaris), efek lanjut dari tindakan bedah, radiasi, dan kemudian akan menyebabkan terjadinya suatu peradangan pada hidung. Jika peradangan ini berlangsung lama dan tidak kunjung sembuh, maka disebut inflamasi kronik. Inflamasi kronik ini akan menyebabkan banyak perubahan anatomi dan fungsi hidung.
  • Perubahan- Perubahan pada hidung ini berupa perubahan histologis rinitis atrofi pada stadium awal berupa proses peradangan kronis dan pada stadium lanjut berupa atrofi dan fibrosis mukosa hidung. Mula-mula sel epitel toraks dan silianya yang merupakan sel epitel yang terdapat pada konka hidung  akan hilang. Epitel ini mengalami  stratifikasi awal dan metaplasia (berubah menjadi sel dewasa yang lain, dalam hal ini sel epitel torak bersilia berubah menjadi epitel gepeng. stadium lanjut, sebagian besar epitel telah menjadi gepeng. 
  • Metaplasia sel epitel torak bersilia menjadi epitel gepeng  tanpa silia ini, akan menyebabkan hilangnya kemampuan pembersihan hidung dan kemampuan membersihkan debris (karena ini merupakan fungsi dari silia, jadi jika silianya telah hilang maka kemampuan  pembersihan hidung dan kemampuan membersihkan debris  juga menghilang),  
  • Akibat selanjutnya kelenjar mukosa mengalami atrofi dan bahkan bisa menghilang, terbentuknya fibrosis jaringan subepitel yang luas, fungsi surfaktan akan menjadi abnorma. Defisiensi surfaktan merupakan penyebab utama menurunnya resistensi hidung terhadap infeksi.
  • Fungsi surfaktan yang abnormal menyebabkan pengurangan efisiensi klirens mucus, dan mempunyai pengaruh yang kurang baik terhadap frekuensi gerakan silia (bulu hidung) sehingga akan membuat bertumpuknya lendir, semakin tipisnya epitel (atrofi konkha) akan membuat rongga hidung semakin membesar, karena itulah terjadi kekeringan, pembentukan krusta, dan iritasi mukosa semakin meluas.
  • Lalu jika bloodsupply juga tidak adekuat, maka akan terjadi nekrosis sel dan jaringan yang bila nanti mengalami proses pembusukan dan bercampur dengan toxin dari mikroorganisme akan menghasilkan pus kehijauan yang berbau busuk yang mengering di sebut krusta. krusta yang merupakan medium yang sangat baik untuk pertumbuhan kuman. Jika krusta terlepas akan membuat epistaksis. 
  • Selain atrofi dari mukosa, juga bisa terjadi atrofi dari mukosa olfaktoria yang bisa menyebabkan penderita mengalami hiposmia atau bahkan anosmia (hilangnya kemampuan untuk mencium aroma)

Bagaimana gambaran patologi klinik rhinitis atrofi?
Secara patologi rinitis atrofi dapat dibagi dua yaitu:
  • Rinitis atrofi tipe I
    • Merupakan tipe paling sering (50-80%) dari semua kasus. Dikarakteristikkan dengan adanya endarteritis dan periarteritis pada arteriol terminal akibat infeksi kronis  akan menyebabkan berkurangnya aliran darah ke mukosa. Juga akan ditemui infiltrasi sel bulat di submukosa
    • membaik dengan efek vasodilator dari terapi estrogen
  • Rinitis atrofi tipe II
    • Tipe ini terdapat pada 20-50% kasus dimana terdapat vasodilatasi dari kapiler. Sel endotel dari kapiler yang berdilatasi mempunyai sitoplasma yang lebih dari normal dimana menunjukkan reaksi alkalin fosfatase yang positif pada proses resorbsi tulang. 
    • Pada tipe ini tidak dapat diterapi dengan estrogen
Secara umum Perubahan histopatologi dalam hidung pada rinitis atrofi(Ozaena), yaitu :
  • Mukosa hidung  akan Berubah menjadi lebih tipis.
  • Silia hidung. Silia akan menghilang.
  • Epitel mukosa konka hidung akan terjadi perubahan metaplasia dari epitel torak bersilia menjadi epitel kubik atau epitel gepeng berlapis.
  • Kelenjar hidung akan Mengalami degenerasi, atrofi (bentuknya mengecil), atau jumlahnya berkurang

Apa saja yang di rasakan penderita rhinitis atrofi?
Adapun gejala Klinis dari rinitis atrofi ini yang sering di keluhkan oleh penderita rinitis atrofi (Ozaena) adalah :
  • Hidung tersumbat 
  • sakit kepala atau nyeri pada wajah, 
  • adanya sekret hijau kental serta krusta (kerak) berwarna kuning kehijauan atau kadang-kadang dapat berwarna hitam dan berbau busuk
  • Hidung terasa kering dan epistaksis (hidung berdarah), 
  • Keluhan subjektif lain yang sering ditemukan pada pasien biasanya napas berbau (sementara pasien sendiri menderita anosmia) jadi Orang di sekitar penderita yang biasanya tidak tahan dengan bau tersebut, tetapi pasien sendiri tidak merasakannya karena hiposmia atau anosmia.  
  • Pasien mengeluh kehilangan indra pengecap dan tidak bisa tidur nyenyak ataupun tidak tahan udara dingin. 
  • Meskipun jalan napas jelas menjadi semakin lebar, pasien merasakan sumbatan yang makin progresif saat bernapas lewat hidung, terutama karena katup udara yang mengatur perubahan tekanan hidung dan menghantarkan impuls sensorik dari mukosa hidung ke sistem saraf pusat telah bergerak semakin jauh dari gambarannya.
  • Kadang kala penderita mengeluhkan ganggan pada telinga, ini terjadi karena kekeringan, pembentukan krusta dan iritasi mukosa hidung dapat meluas ke epitel nasofaring dan laring, Keadaan ini dapat mempengaruhi potensi tuba eustachius, berakibat efusi telinga kronik, dan dapat menimbulkan perubahan yang tidak diharapkan pada apparatus lakrimalis, termasuk keratitis sikka 
Secara klinis, Sutomo dan Samsudin membagi rinitis atrofi dalam tiga tingkatan yaitu:
  • Tingkat I  : atrofi mukosa hidung, mukosa tampak kemerahan dan berlendir, krusta sedikit.
  • Tingkat II : atrofi mukosa hidung semakin jelas, mukosa makin kering, warna makin pudar, krusta banyak, keluhan anosmia belum jelas.
  • Tingkat III: atrofi berat mukosa dan tulang sehingga konka tampak sebagai garis, rongga hidung tampak lebar sekali, dapat ditemukan krusta di nasofaring, terdapat anosmia yang jelas.

Bagaimana cara diagnosa rhinitis atrofi?
Diagnosis rinitis atrofi dapat ditegakkan berdasarkan:
  • Anamnesis
    • Pada anamnesis pasien mengeluhkan hidung tersumbat, hidung berdarah, sakit kepala atau nyeri pada wajah, pasien tidak mencium bau busuk tetapi orang lain dapat merasakannya dan adanya sekret hijau kental serta keropeng berwarna hijau.
  • Pemeriksaan klinis
    • Pada pemeriksaan rinoskopi anterior didapati krusta berwarna kuning kehijau-hijauan atau kadang-kadang krusta dapat berwarna hitam terutama pada dinding lateral kavum nasi yang berbau busuk. Setelah krusta diangkat, biasanya akan terjadi perdarahan. Tampak rongga hidung yang sangat lapang dan konka yang atrofi, mukosa hidung yang tipis dan kering. Bisa juga ditemui ulat/larva (karena bau busuk yang timbul). Nasofaring bagian belakang dan bagian atas palatum molle jelas terlihat tanpa hambatan.
  • Pemeriksaan penunjang
    • Pemeriksaan darah rutin dan Fe serum, kultur dan uji sensitifitas sekret hidung, uji serologis (VDRL) untuk menyingkirkan sifilis, uji mantoux dan foto toraks PA apabila rinitis atrofi diduga berhubungan dengan tuberkulosis, foto rontgen dan CT scan sinus paranasal dan pemeriksaan biopsi hidung. 
    • Pada foto rontgen sinus paranasal terdapat osteoporosis konka dan rongga hidung yang lapang.
    • Pada CT scan sinus paranasal terdapat gambaran penebalan dari mukosa sinus paranasal, hilangnya kompleks osteo meatal akibat destruksi bulla etmoid dan prosesus unsinatus, hipoplasia dari sinus maksilaris, pembesaran dari rongga hidung dengan destruksi dari dinding lateral hidung dan destruksi tulang konka inferior dan konka media


    gambar CT scan Rhinitis atrofi

    Apa saja penyakit yang mirip dengan rhinitis atrofi?
    Diagnosa banding rhinitis atrofi
    • Rinitis tuberkulosis
      • Tuberkulosis pada hidung berbentuk noduler atau ulkus, terutama mengenai tulang rawan septum dan dapat mengakibatkan perforasi. Pada pemeriksaan klinis terdapat sekret mukopurulen dan krusta sehingga menimbulkan keluhan hidung tersumbat. Diagnosis ditegakkan dengan ditemukannya basil tahan asam (BTA) pada sekret hidung.
    • Rinitis sifilis
      • Penyebab rinitis sifilis ialah kuman Treponema pallidum. Pada rinitis sifilis yang primer dan sekunder gejalanya hanya adanya bercak pada mukosa. Pada rinitis sifilis tersier dapat ditemukan guma atau ulkus yang terutama mengenai septum nasi dan dapat mengakibatkan perforasi septum. Pada pemeriksaan klinis didapati sekret mukopurulen yang berbau dan krusta. Diagnosis pasti ditegakkan dengan pemeriksaan mikrobiologik dan biopsi.
    • Rinitis lepra
      • Penyebab rinitis lepra adalah Mikobakterium leprae. Lesi pada hidung sering terlihat pada penyakit ini. Pasien mengeluhkan hidung tersumbat oleh karena pembentukan krusta serta adanya bercak darah. Mukosa hidung terlihat pucat. Apabila infeksi berlanjut dapat menyebabkan perforasi septum.
    • Rinitis sika
      • Pada rinitis sika ditemukan mukosa yang kering, terutama pada bagian depan septum dan ujung depan konka inferior. Krusta biasanya sedikit atau tidak ada. Pasien biasanya mengeluh rasa iritasi atau rasa kering yang kadang-kadang disertai dengan epistaksis. Penyakit ini biasa ditemukan pada orang tua dan pada orang yang bekerja di lingkungan yang berdebu, panas dan kering

    Apa saja komplikasi yang dapat timbul pada penyakit rhinitis atrofi?
    Komplikasi yang dapat timbul, berupa :
    • Perforasi septum dan hidung pelana.
      • Pada kasus yang parah dan tidak diterapi, dapat menyebabkan komplikasi berupa destruksi dari tulang dan tulang rawan hidung yang mengakibatkan perforasi septum dan hidung pelana.
    • Faringitis atrofi.
      • Hal ini biasanya terjadi bersamaan dengan rinitis atrofi dimana terdapat mukosa faring yang kering. Krusta yang lepas dapat menyebabkan episoda batuk seperti tercekik.
    • Miasis nasi.
      • Merupakan komplikasi yang jarang ditemui, terutama pada pasien dengan sosio ekonomi yang rendah dimana bau busuk tersebut menarik lalat dari genus Chrysomia (C. Bezianna vilteneauve). Lalat ini meletakkan telurnya yang kemudian menetas menjadi magot. Puluhan sampai ratusan magot dapat memenuhi rongga hidung dimana mereka makan dari mukosa sampai tulang hidung. Mereka membuat terowongan di jaringan lunak hidung, sinus paranasal, nasofaring, dinding faring jaringan orbita, lakrimal, sampai dasar tengkorak yang dapat menyebabkan meningitis dan kematian.

    Bagaimana cara mengobati rhinis atrofi?

    Hingga kini pengobatan medis terbaik rhinitis atrofi hanya bersifat paliatif.Termasuk dengan irigasi dan membersihkan krusta yang terbentuk, terapi sistemik dan lokal dengan endokrin, steroid dan antibiotik; vasodilator; pemakaian iritan jaringan lokal ringan seperti alkohol; dan salep pelumas. Penekanan terapi utamaadalah pembedahan, yaitu usaha-usaha langsung mengecilkan rongga hidung, dandengan demikian juga memperbaiki suplai darah mukosa hidung.

    Pengobatan rinitis atrofi ditujukan untuk menghilangkan faktor penyebab dan gejala. Pengobatan dapat diberikan secara konservatif dan pembedahan.
    • Konservatif
      • Pengobatan utama rinitis adalah konservatif yang dapat diberikan secara lokal ataupun sistemik.
        • Irigasi nasal. Campuran yang ideal untuk irigasi nasal terdiri dari 28.4 gr sodium bikarbonat, 28.4 gr sodium diborate dan 56.7 gr sodium chloride. Satu sendok teh dari campuran tersebut dilarutkan dalam 280 ml air hangat, dan dicucikan ke hidung 3-4 kali sehari.
        • Tetes hidung paraffin. Berguna untuk membasahi mukosa hidung dan membersihkan krusta di kavum nasi.
        • Oestradiol dalam minyak arachis. Kombinasi ini tersedia dalam bentuk tetes hidung dan semprot hidung (10.000 units/ml).
        • Solusio kemicetine anti ozaena. Campuran ini tiap 1 ml terdiri dari 90 mg klorampenikol, 0.64 mg oestradiol diproprionate, 900 IU vitamin D2 dan propylene glycol. Digunakan setelah pencucian hidung.
        • Tetes hidung klorampenikol/streptomisin. Digunakan setelah pencucuian hidung.
        • Injeksi ekstrak plasenta. Sinha, Sardana dan Rjvanski melaporkan ekstrak plasenta manusia secara sistemik memberikan 80% perbaikan dalam 2 tahun dan injeksi ekstrak plasenta submukosa intranasal memberikan 93,3% perbaikan pada periode waktu yang sama. Ini membantu regenerasi epitel dan jaringan kelenjar.
        • Antibiotik. Antibiotik spektrum luas sesuai uji resistensi kuman, dengan dosis adekuat sampai tanda-tanda infeksi hilang. Qizilbash dan Darf melaporkan hasil yang baik pada pengobatan dengan Rifampicin oral 600 mg 1 x sehari selama 12 minggu
        • Vitamin A 3 x 50.000 unit dan preparat Fe selama 2 minggu.
    • Pembedahan
      • Tujuan terapi bedah yaitu :
        • Menyempitkan rongga hidung
        • Regenerasi mukosa hidung
        • Mengurangi pengeringan mukosa hidung
        • Meningkatkan vaskularisasi dari kavum nasi
      • Beberapa teknik operasi yang dilakukan :
        • Young’s operation.
          • Prosedur ini adalah penutupan total salah satu rongga hidung dengan flap. 
          • Tujuan operasi ini adalah mencegah efek kekeringan, mengurangi krusta dan membuat mukosa dibawahnya tumbuh kembali. Tekanan negatif yang timbul pada lubang hidung yang tertutup menyebabkan vasodilatasi dari pembuluh darah sekitarnya. Teknik originalnya dilakukan dengan menaikkan flap intranasal 1 cm dari cephalic ke lingkaran ala nasi. Flap ini akan menutup lubang hidung tepat ditengahnya. 
          • Kekurangan teknik ini adalah sulitnya membuat flap oleh karena flap mudah robek atau timbulnya parut yang dapat menyebabkan stenosis vestibulum
        • Modified Young’s operation
          • Modifikasi tehnik ini dilakukan oleh El Kholy. Prinsipnya yaitu penutupan lubang hidung dengan meninggalkan 3 mm yang terbuka.
          gif animator

          JIKA INGIN MENYAKSIKAN VIDEO OPERASI YOUNG'S

        • Launtenschlager operation
          • Dengan memobilisasi dinding medial antrum dan bagian dari etmoid, kemudian dipindahkan ke lubang hidung.
          • Pada operasi ini, antrum maksila dibuka dengan operasi Caldwell- Luc. Dinding medial antrum dimobilisasi kearah medial dengan membuat potongan berbentuk U dengan menggunakan bor, apabila mungkin, mukosa kavum nasi yang tipis karena penyakit ini jangan sampai rusak. 
          • Tulang antrum medial dengan konka inferior diluksasi kearah medial dengan bertumpu pada area etmoid.
        • Implantasi submukosa dengan tulang rawan, tulang, dermofit, bahan sintetis seperti Teflon, campuran triosite, plastipore dan fibrin glue
        • animated gif
          GAMBAR IMPLANT MUKOSA
        • Transplantasi duktus parotis ke dalam sinus maksila (Wittmack's operation) dengan tujuan membasahi mukosa hidung.

    Bagaimana prognosis rinithis atrofi?

    • Bila pengobatan konsevatif adekuat yang cukup lama tidak menunjukkan perbaikan, pasien dirujuk untuk dilakukan operasi penutupan lubang hidung. Prinsipnya mengistirahatkan mukosa hidung pada nares anterior atau koana sehingga menjadi normal kembali selama 2 tahun. Atau dapat dilakukan implantasi untuk menyempitkan rongga hidung.
    • Penyakit ini dapat menetap bertahun-tahun dan ada kemungkinan untuk sembuh spontan pada usia pertengahan. Dengan operasi diharapkan perbaikan mukosa dan keadaan penyakitnya

    BACA JUGA ANATOMI, STUKTUR MIKROSKOPIS DAN FISIOLOGI HIDUNG NORMAL DISINI

    DAFTAR PUSTAKA
    • Soetjipto D, Mangunkusumo E. Hidung . Dalam : Buku Ajar Ilmu Penyakit Telinga Hidung Tenggorok . Edisi ke 3. Jakarta : FKUI, 1997; 91-3, 113-4.
    • Mangunkusumo E. Rinitis Atrofi. Dalam : Penatalaksanaan Penyakit dan Kelainan Telinga Hidung Tenggorok. Jakarta : FKUI, 1992; 90-2.
    • Weir N, Wood DG. Infective Rhinitis and Sinusitis. Dalam : Scott-Brown's Otolaryngology. 6th ed. Oxford : Butterworth - Heinemann, 1997; 4/8/26-7.
    • Ramalingam KK, Sreeramamoorthy B. A Short Practice of Otolaryngology. Madras : All India Publisher, 1993; 202-5.
    • Kumar S. Fundamental of Ear,Nose & Throat Diseases and Head - Neck Surgery. Calcutta : The New Book Stall, 1996; 218-21.
    • Lobo CJ, Hartley C, Farrington WT. Closure of the Nasal Vestibule in Atrophic Rhinitis-A new non surgical technique. J Laryngol Otol 1998; 112 : 543-6.
    • Sayed RH, Elhamd KA, Kader MA. Study of Surfactant Level in Cases of Primary Atrophic Rhinitis. J Laryngol Otol 2000; 114 : 254-9.
    • Baser B, Grewal DS, Hiranandani NL. Management of Saddle Nose Deformity in Atrophic Rhinitis. J Laryngol Otol 1990 ; 104 : 404-7.
    • Jiang R,Hsu C,Chen C. Endoscopic Sinus Surgery and Postoperative Intravenous Aminoglycoside in the Atrophic Rhinitis. Am J Rhinol 1998 ; 12 : 325-33.
    • Groves J,Gray RF.A Synopsis of Otolaryngology. 4th Bristol:Wright, 1985; 193-411.
    • Maqbool M. Textbook of Ear, Nose and Throat Diseases. 6th ed New Delhi : Jaypee Brothers, 1993; 264-7.
    • Massegur H.Atrophic Rhinitis-Pathology, Etiology and Management. Dalam : XVI Congress of Otorhinolaryngology Head and Neck Surgery. Sydney, 1997; 1403-6.
    • Maran AGD. Disease of the Nose, Throat and Ear. Singapore : PG Publishing, 1992; 40-1.
    • Colman BH. Disease of the Nose, Throat and Ear and Head and Neck. 14th ed Singapore : ELBS, 1987; 26-7.
    • Becker W, Naumann HH, Pfaltz CR. Ear, Nose and Throat Diseases. A Pocket Reference. 2nd ed. New York : Georg Thieme Verlag, 1994; 218-9.
    • Hagrass, Gamea AM, Sherief SG.Radiological and Endoscopic Study of the Sinus Maxilla in Primary Atrophic Rhinitis.J Laryngol Otol 1992 ;106: 702-3.
    • Bertrand B, Doyen A, Elloy P. Triosite Implants and Fibrin Glue in the Treatment of Atrophic Rhinitis:Technique and Results. Laryngoscope 1996; 106 : 652-7.
    • Ballenger JJ. Penyakit Telinga ,Hidung, Tenggorok , Kepala dan Leher. Edisi 13. Jilid 1. Alih Bahasa : Staf Ahli Bag. THT FKUI. Jakarta : Bina Rupa Aksara, 1994; 1-4, 10-5, 229.
    • Hilger PA. Hidung : Anatomi dan Fisiologi Terapan. Dalam : Boies (ed), Buku Ajar Penyakit THT.Edisi 6, Alih Bahasa : Wijaya, C. Jakarta: EGC, 1996; 173-82, 221-2.
    • Samiadi D. Laporan Penanggulangan Beberapa Kasus Rinitis Atrofi. Dalam : Kumpulan Naskah Ilmiah Konas VII Perhati. Ujung Pandang, 1986; 549-55.
    • Mewengkang N, Samsudin, Sutomo. Penutupan Koana dengan Flap Faring pada Penderita Ozaena Anak. Dalam : Kumpulan Naskah Ilmiah Konas VII Perhati. Ujung Pandang: 1986; 576-80.
    • Naumann HH. Head and Neck Surgery. Indication, Technique, Pitfalls. Vol.1. New York : Georg Thieme Publishers, 1980; 349-51, 381-2.
    • Montgomery WW. Surgery of the Upper Respiratory System. 3rd Baltimore : Williams & Wilkins, 1996; 492, 499.