Jadwal imunisasi pada anak dan imunisasi pada kelompok beresiko

IMUNISASI DAN VAKSINASI

PENDAHULUAN

Imunisasi sendiri pada dasarnya adalah pemindahan atau transfer antibodi secara pasif dimana ini merupakan salah satu cara meningkatkan kekebalan seseorang secara aktif terhadap suatu antigen sehingga bila kelak terpajan antigen serupa tidak terjadi penyakit. Sedangkan Vaksinasi berarti pemberian vaksin (antigen) yang dapat merangsang pembentukan imunitas (antibodi) dari sistem imun di dalam tubuh.Keuntungan yang diperoleh dari vaksinasi adalah dapat memperoleh kekebalan seumur hidup terhadap jenis penyakit yang di vaksin.

Imunisasi membentengi tubuh dari penyakit selama puluhan tahun, imunisasi merupakan tindakan pencegahan yang murah dan efektif. Semakin banyak vaksin yang ditemukan semakin tinggi harapan untuk hari esok yang lebih sehat. Imunisasi juga bermanfaat untuk menciptakan kekebalan komunitas, bahkan imunisasi mampu melenyapkan penyakit dari muka bumi.

Vaksinasi adalah pemberian vaksin ke dalam tubuh seseorang untuk memberikan kekebalan terhadap penyakit tersebut. Kata vaksinasi berasal dari bahasa Latin vacca yang berarti sapi - diistilahkan demikian karena vaksin pertama berasal dari virus yang menginfeksi sapi (cacar sapi). Vaksinasi sering juga disebut dengan imunisasi.

Pada anak yang mempunyai risiko tinggi untuk mendapat infeksi, harus di imunisasi berdasarkan prioritas. Misalnya bayi prematur, anak dengan penyakit keganasan, anak yang mendapatkan pengobataan imunosupresi, radioterapi, anak dengan infeksi HIV, transplantasi sumsum tulang/ organ dan spelenektomi.

Pada anak yang pernah menderita reaksi efek samping yang serius setelah imunisasi, harus diberikan imunisasi berikutnya di rumah sakit dengan pengawasan dokter. Penekanan respons imun dapat terjadi pada penyakit defisiensi imun kongenital dan defisiensi imun didapat seperti pada leukimia, limfoma, pasien dengan pengobatan alkilating agents, antimetabolik, radioterapi, kortikosteroid sistemik dosis tinggi dan lama.

JADWAL IMUNISASI DI INDONESIA PADA ANAK

Imunisasi merupakan suatu upaya meningkatkan kekebalan tubuh secara aktif artinya kita tidak memasukan antibodi atau zat kekebalan tubuh kedalam tubuh si penerima, tetapi kita memasukan antigen kedalam tubuh si penerima. Zat yang bersifat antigen ini bila masuk kedalam tubuh akan merangsang tubuh untuk membuat antibodi yang bersifat khusus terhadap antigen tersebut.
Jadwal imunisasi adalah informasi mengenai kapan suatu jenis vaksinasi atau imunisasi harus diberikan kepada anak. Jadwal imunisasi suatu negara dapat saja berbeda dengan negara lain tergantung kepada lembaga kesehatan yang berwewenang mengeluarkannya.

Pelaksanaan imunisasi di Indonesia sudah berlangsung puluhan tahun. Imunisasi di indonesia dilaksanakan mulai dari tingkat posyandu, puskesmas, hingga dokter praktek swasta. Pemerintah sendiri sudah membebaskan biaya untuk imunisasi dasar di posyandi dan puskesmas. Sistim imunisasi di Indonesia ada 2 macam yaitu Imunisasi Dasar dan imuniasasi tambahan

Program Imunisasi dasar adalah pemberian imunisasi pada anak dibawah 1 tahun yang meliputi TBC, Hepatitis, difteri, pertusis, tetanus, polio dan campak. Selain Imunisasi dasar, yang wajib diberikan, Ikatan dokter anak indonesia merekomendasikan beberapa imunisasi tambahan yaitu MMR, imunisasi pneumococus (PVC), imunisasi thyfoid, imunisasi influensa type B, imunisasi influenza, imunisasi hepatitis A, imunisasi rotavirus, imunissi human papiloma virus (HPV).

Berikut ini akan saya paparkan Jadwal Imunisasi pada anak, yang direkomendasikan oleh Ikatan Dokter Anak Indonesia 2012


Jadwal Imunisasi Pada anak menurut rekomendasi Ikatan Dokter Anak Indonesia 2011-2012


Umur
Vaksin
Keterangan
Saat lahir
Hepatitis B-1
  • HB-1 harus diberikan dalam waktu 12 jam setelah lahir, dilanjutkan pada umur 1 dan 6 bulan. Apabila status HbsAg-B ibu positif, dalam waktu 12 jam setelah lahir diberikan HBlg 0,5 ml bersamaan dengan vaksin HB-1. Apabila semula status HbsAg ibu tidak diketahui dan ternyata dalam perjalanan selanjutnya diketahui bahwa ibu HbsAg positif maka masih dapat diberikan HBlg 0,5 ml sebelum bayi berumur 7 hari.
Polio-0
  • Polio-0 diberikan saat kunjungan pertama. Untuk bayi yang lahir di RB/RS polio oral diberikan saat bayi dipulangkan (untuk menghindari transmisi virus vaksin kepada bayi lain)
1 bulan
Hepatitis B-2
  • Hb-2 diberikan pada umur 1 bulan, interval HB-1 dan HB-2 adalah 1 bulan.
0-2 bulan
BCG
  • BCG dapat diberikan sejak lahir. Apabila BCG akan diberikan pada umur lebih dari 3 bulan sebaiknya dilakukan uji tuberkulin terlebih dahulu dan BCG diberikan apabila uji tuberkulin negatif.
2 bulan
DTP-1
  • DTP-1 diberikan pada umur lebih dari 6 minggu, dapat dipergunakan DTwp atau DTap. DTP-1 diberikan secara kombinasi dengan Hib-1 (PRP-T)
Hib-1
  • Hib-1 diberikan mulai umur 2 bulan dengan interval 2 bulan. Hib-1 dapat diberikan secara terpisah atau dikombinasikan dengan DTP-1.
Polio-1
  • Polio-1 dapat diberikan bersamaan dengan DTP-1
4 bulan
DTP-2
  • DTP-2 (DTwp atau DTap) dapat diberikan secara terpisah atau dikombinasikan dengan Hib-2 (PRP-T).
Hib-2
  • Hib-2 dapat diberikan terpisah atau dikombinasikan dengan DTP-2
Polio-2
  • Polio-2 diberikan bersamaan dengan DTP-2
6 bulan
DTP-3
  • DTP-3 dapat diberikan terpisah atau dikombinasikan dengan Hib-3 (PRP-T).
Hib-3
  • Apabila mempergunakan Hib-OMP, Hib-3 pada umur 6 bulan tidak perlu diberikan.
Polio-3
  • Polio-3 diberikan bersamaan dengan DTP-3
Hepatitis B-3
  • HB-3 diberikan umur 6 bulan. Untuk mendapatkan respons imun optimal, interval HB-2 dan HB-3 minimal 2 bulan, terbaik 5 bulan.
9 bulan
Campak-1
  • Campak-1 diberikan pada umur 9 bulan, campak-2 merupakan program BIAS pada SD kelas 1, umur 6 tahun. Apabila telah mendapatkan MMR pada umur 15 bulan, campak-2 tidak perlu diberikan.
15-18 bulan
MMR
  • Apabila sampai umur 12 bulan belum mendapatkan imunisasi campak, MMR dapat diberikan pada umur 12 bulan.
Hib-4
  • Hib-4 diberikan pada 15 bulan (PRP-T atau PRP-OMP).
18 bulan
DTP-4
  • DTP-4 (DTwp atau DTap) diberikan 1 tahun setelah DTP-3.
Polio-4
  • Polio-4 diberikan bersamaan dengan DTP-4.
2 tahun
Hepatitis A
  • Vaksin HepA direkomendasikan pada umur > 2 tahun, diberikan dua kali dengan interval 6-12 bulan.
2-3 tahun
Tifoid
  • Vaksin tifoid polisakarida injeksi direkomendasikan untuk umur > 2 tahun. Imunisasi tifoid polisakarida injeksi perlu diulang setiap 3 tahun.
5 tahun
DTP-5
  • DTP-5 diberikan pada umur 5 tahun (DTwp/DTap)
Polio-5
  • Polio-5 diberikan bersamaan dengan DTP-5.
6 tahun.
MMR


polio 6
  • Diberikan untuk catch-up immunization pada anak yang belum mendapatkan MMR-1.
  • Diberikan imunisasi polio yang ke 6
10 tahun
dT/TT
  • Menjelang pubertas, vaksin tetanus ke-5 (dT atau TT) diberikan untuk mendapatkan imunitas selama 25 tahun.
Varisela
  • Vaksin varisela diberikan pada umur 10 tahun.

Berikut ini jadwal imunisasi menurut american academy of pediatry





MACAM-MACAM IMUNISASI

Imunisasi BCG
  • Imunisasi BCG adalah imunisasi untuk mencegah penyakit TB( tuberculosis). BCG singkatan dari BBacille Calmette-Guerin. 3 tahun sehingga didapatkan basil yang tidak virulen tetapi masih mempunyai imunogenitas(dapat merangsang timbulnya kekebalan tubuh).
  • Vaksin BCG adalah vaksin hidup yang dibuat dari Mycbacterium bovis yang dibiak berulang selama 1-Penyakit TB adalah penyakit yang disebabkan kuman Mycobacterium tuberculosis dan Mycobacterium bovis. Tuberkulosis paling sering mengenai paru-paru tetapi dapat juga mengenai organ – organ lainnya seperti selaput otak, tulang, kelenjar getah bening dan organ lain. Tuberculosis dapat diobati dengan obat anti tuberkulosis(OAT) yang diminum selama minimal 6 bulan. 
  • Imunisasi BCG tidak mencegah infeksi tuberculosis tetapi mengurangi risiko terjadinya tuberkulosis berat seperti meningitis TB (penyakit radang selaput otak oleh kuman TB). Efektivitas imunisasi BCG bervariasi antara 0% – 80%. Hal ini berhubungan dengan beberapa faktor yaitu mutu vaksin yang dipakai dan kondisi anak itu sendiri seperti umur, keadaan gizi dan lain – lain. Efek proteksi akan timbul setelah 8-12 minggu setelah penyuntikan.
  • Imunisasi BCG adalah imunisasi yang paling menyakitkan bagi anak karena cara penyuntikan vaksinnya yang harus intradermal (vaksin harus disuntikkan hanya ke dalam lapisan kulit saja, tidak boleh terlalu dalam hingga menembus lapisan kulit). Karena disuntikan kedalam lapisan kulit yang penuh dengan reseptor syaraf maka suntikkannya lebih sakit dibanding imunisasi lainnya. Imunisasi BCG biasanya disuntikkan didaerah lengan kanan atas. Vaksin BCG diberikan secara intradermal 0,1 mL untuk anak dan 0,05 untuk bayi baru lahir.
  • Imunisasi BCG biasanya akan menimbulkan bekas berupa jaringan parut bulat berdiameter 4-8 mm akibat proses penyembuhan luka/borok yang timbul setelah 3-6 minggu setelah penyuntikan. Borok akan sembuh sendiri dalam 2-3 bulan, tidak perlu terapi apapun. Perlu diingat, imunisasi BCG yang tidak menimbulkan borok/bekas tidak berarti imunisasinya gagal.
 
Cara penyuntikan vaksinnya yang harus intradermal (vaksin harus disuntikkan hanya ke dalam lapisan kulit saja, tidak boleh terlalu dalam
hingga menembus lapisan kulit)
 
Efek yang timbul setelah penyuntikan BCG dimana timbul indurasi dan kemerahan di tempat suntikkan yang berubah menjadi pustule, kemudian pecah menjadi luka. Luka tidak perlu pengobatan, akan sembuh secara spontan dan meninggalkan tanda parut
  • Imunisasi BCG diberikan untuk semua bayi. Pemberiannya dijadwalkan sebelum bayi usia 3 bulan. Bila diberikan pada bayi usia lebih dari 3 bulan maka si bayi harus dilakukan tes mantoux terlebih dahulu. Vaksin BCG tidak boleh terkena sinar matahari, harus disimpan pada suhu 2-8 derajat Celcius, tidak boleh beku. Vaksin yang telah diencerkan harus dipergunakan dalam waktu 8 jam.
  • Anak yang tidak boleh di imunisasi BCG adalah :
    1. Bila hasil tes mantoux lebih dari 5 mm
    2. Menderita infeksi HIV
    3. Sedang meminum obat imunosupresi atau sedang mendapat radioterapi
    4. Menderita penyakit keganasan yang mengenai sumsum tulang atau sistem limfe
    5. Menderita gizi buruk
    6. Menderita demam tinggi.
    Imunisasi DPT
    • Imunisasi DPT bertujuan untuk memberikan kekebalan terhadap 3 penyakit penting yaitu difteri, tetanus dan pertusis. Imunisasi DPT termasuk salah satu imunisasi dasar di Indonesia. Imunisasi DPT diberikan sebanyak 3 kali. Diberikan pada anak mulai usia lebih dari 6 minggu dengan interval 1-2 bulan untuk pemberian selanjutnya. Pemberian imunisasi DPT pada anak usia kurang dari 6 minggu tidak dianjurkan karena respon terhadap pertusis tidak optimal. Imunisasi DPT ulangan diberikan 1 kali pada usia 18 bulan. Dan diulang lagi ketika usia 5 tahun. Karena termasuk imunisasi dasar yang diwajibkan maka biaya imunisasi DPT digratiskan pemerintah. Anda dapat melakukan imunisasi DPT anak anda di posyandu atau puskesmas terdekat.
    • Imunisasi DPT diberikan dengan cara menyuntikkan vaksin DPT ke otot anak. Biasanya penyuntikan dilakukan di otot paha. Imunisasi DPT merupakan salah satu jenis vaksin combo. Artinya, dalam satu vaksin mengandung beberapa jenis vaksin untuk beberapa jenis penyakit. Saat ini terdapat 2 jenis vaksin DPT.
      • Yang pertama dengan kandungan seluruh sel kuman pertusis (whole cell pertussis) disingkat dengan DTwP. Vaksin kombo inilah yang tersedia di posyandu dan puskesmas.
      • Yang kedua , yang tidak mengandung kuman pertusis, tapi berisi komponen spesifik toksin dari kuman pertusin, disebut sebagai aseluler pertusis, disingkat DTaP. Keuntungan vaksin yang ini, angka kejadian komplikasi yang ditimbulkan lebih sedikit dibanding vaksin yang whole cell. Artinya, lebih sedikit bikin demam , bengkak,nyeri atau komplikasi lainnya. Kerugiannya, harganya relatif mahal.
      • Biasanya dokter akan menanyakan, bu mau yang bikin panas atau yang tidak panas? Maksud dokternya, vaksin yang bikin panas yang whole cell, sedang yang tidak bikin panas yang aseluler.
    • Reaksi lokal pada bekas tempat penyuntikan berupa kemerahan,bengkak dan nyeri. Kejadian ini terjadi pada 42,9% penerima imunisasi DPT. Demam ringan. Hanya sekitar 2,2% yang mengalami demam tinggi Anak gelisah dan menangis terus menerus selama beberapa jam pasca suntikan, Kejang demam terjadi sebanyak 0,06%, Reaksi alergi dan ensefalopati sangat jarang. Pemberian imunisasi DPT tidak dianjurkan bila anak pada pemberian imunisasi DPT sebelumnya, menunjukkan reaksi alergi berat yang disebut anafilaksis dan jika anak menderita gangguan otak yang disebut ensefalopati ( ditandai penurunan kesadaran dan kejang) pasca pemberian imunisasi DPT sebelumnya.
    Imunisasi Hepatitis B
    • Imunisasi hepatitis B diberikan kepada : Semua bayi baru lahir tanpa memandang status apakah ibunya menderita hepatitis B atau tidak, Orang yang karena pekerjaan berisiko tertular hepatitis B (tenaga medis dll), Orang yang menjalani cuci darah, Orang yang menderita penyakit yang membutuhkan transfusi darah berulang (pasien thalasemia, Pemakai narkoba suntik, Orang yang tinggal serumah dengan pengidap hepatitis B.
    • Vaksin hepatitis B yang merupakan sub unit vaksin virus yang mengandung HbsAg murni dan bersifat non-infectious. Vaksin hepatitis B ini merupakan vaksin DNA rekombinan yang berasal dari HbsAg yang diproduksi melalui teknologi DNA rekombinan pada sel ragi. Sebelum digunakan vaksin harus dikocok terlebih dahulu agar suspensi menjadi homogen. Sebelum disuntikkan, kondisikan vaksin hingga mencapai suhu kamar. Minimal pemberian sebanyak 3 kali disuntikkan di otot paha.
    • Imunisasi pertama diberikan segera setelah lahir. Jadwal imunisasi hepatitis B yang dianjurkan adalah usia 0,1,6 bulan. Interval antara imunisasi hepatitis B pertama dengan imunisasi hepatitis B ke dua minimal 1 bulan. Memperpanjang interval ini tidak mempengaruhi antibody yang terbentuk. Imunisasi hepatitis B yang ketiga merupakan penentu respon antibody. Semakin panjang jarak antara imunisasi hepatitis B yang kedua dengan imunisasi hepatitis B yang ketiga semakin banyak jumlah antibodi yang terbentuk. Bila sesudah imunisasi hepatitis B pertama, imunisasi terputus, segera berikan imunisasi kedua. Sedangkan imunisasi ketiga diberikan dengan jarak minimal 2 bulan dari imunisasi kedua. Bila imunisasi hepatitis B ketiga terlambat, diberikan segera setelah memungkinkan. Anak yang terlambat atau belum pernah mendapat imunisasi hepatitis B dapat diberikan kapanpun anak siap diimunisasi. Tetap dijadwalkan 3 kali pemberian dengan jarak antara yang pertama dan kedua minimal 4 minggu, sedangkan jarak antara imunisasi kedua dan ketiga minimal 8 minggu.
    • Efektivitas imunisasi hepatitis B dalam mencegah infeksi virus hepatitis B adalah 90%-95%. Tingkat proteksi setelah imunisasi dapat diketahui dengan memeriksa kadar anti HBs dalam darah. Bila kadar anti HBs di atas 10 mIU/mL maka dianggap masih memiliki efek proteksi. Pada bayi dan anak, pemeriksaan anti HBs setelah imunisasi hepatitis B tidak dianjurkan. Pemeriksaan ini dianjurkan untuk orang – orang dengan resiko tinggi ertular hepatitis B. Di unit pelayanan statis, vaksin HB yang telah dibuka hanya boleh digunakan selama 4 minggu.Sedangkan di posyandu vaksin yang sudah terbuka tidak boleh digunakan lagi untuk hari berikutnya.
    • Efek samping imunisasi hepatitis B yang terjadi umumnya berupa reaksi local yang ringan seperti kemerahan pada daerah suntikan. Kadang – kadang dapat menimbulkan demam ringan 1-2 hari. Sampai saat ini tidak ada kontra indikasi absolute pemberian imunisasi hepatitis B. Artinya, anak demam, batuk,pilek bukan halangan untuk pemberian imunisasi hepatitis B.
    Imunisasi Polio
    • Imunisasi polio diberikan dengan tujuan untuk mencegah anak terjangkit penyakit polio. atau dengan kata lain pemberian kekebalan aktif terhadap Poliomyelitis. Penyakit Poliomyelitis dapat menyebabkan anak menderita kelumpuhan pada kedua kakinya dan otot-otot wajah.
    • Imunisasi polio ada 2 macam. Yang pertama vaksin virus polio oral. Pemberiannya diberikan dengan cara diteteskan ke mulut bayi. Vaksin jenis kedua berupa vaksin polio inactivated artinya vaksin jenis ini berisi virus polio yang sudah tidak aktif. Pemberiannya dilakukan dengan cara suntikan. Diberikan sebanyak 3 kali dengan jarak 2 bulan. Imunisasi polio diberikan pada bayi baru lahir sebagai dosis awal kemudian diteruskan dengan imunisasi dasar mulai umur 2-3 bulan dengan interval waktu 6-8 minggu. Biasanya diberikan bersamaan dengan imunisasi DPT karena jadwalnya yang bersamaan. Bila pada pemberian imunisasi polio yang diteteskan bayi muntah dalam waktu 10 menit maka pemberiannya harus diulang.
    • Setelah anak mendapat imunisasi polio maka pada tinja si anak akan terdapat virus polio selama 6 minggu sejak pemberian imunisasi. Karena itu, untuk mereka yang berhubungan dengan bayi yang baru saja diimunisasi polio supaya menjaga kebersihan dengan mencuci tangan setelah mengganti popok bayi. Imunisasi polio booster(ulangan/penguat) harus dberikan sebelum masuk sekolah yaitu bersamaan dengan imunisasi booster DPT. Lihat jadwal imunisasi pada gambar jadwal imunisasi diatas.
    • Diperkirakan terdapat 1 kasus polio berkaitan dengan imunisasi polio terjadi setiap 2,5 juta dosis OPV yang diberikan. Hal ini tidak cukup menjadi alasan untuk mengadakan perubahan terhadap kebijakan pemberian imunisasi polio karena imunisasi polio terbukti sangat berguna bagi kesehatan anak. Sebagian kecil anak setelah imunisasi dapat mengalami gejala pusing, diare ringan, nyeri otot. Efek samping berupa paralysis yang disebabkan oleh vaksin sangat jarang terjadi (kurang dari 0,17 : 1.000.000; Bull WHO 66 : 1988). 
    • Anak tidak boleh diberikan imunisasi polio, jika Anak demam tinggi diatas 38,5 derajat Celcius, Anak sedang diare atau muntah, Anak yang sedang mendapat pengobatan obat yang menurunkan kekebalan tubuh, Anak yang menderita kanker atau penyakit hipogamaglobulin dan Anak yang mempunyai riwayat alergi neomisin, polimiksin dan streptomisin.
    Imunisasi Campak
    • Vaksin Campak digunakan untuk  pemberian kekebalan aktif terhadap penyakit Campak(measles atau morbili).Jadwal imunisasi campak berdasar Ikatan dokter anak Indonesia(IDAI) diberikan 2 kali yaitu pada saat anak umur 9 bulan dan umur 6 tahun.Imunisasi campak  oleh WHO untuk kesehatan anak masih tetap dianjurkan diberikan di negara berkembang pada bayi berumur 9 bulan karena angka kejadian campak yang masih tinggi. Saat ini ada 2 macam vaksin campak, yang pertama berisi virus campak yang dilemahkan dan yang kedua berisi virus campak yang dimatikan. Yang banyak dipakai adalah vaksin campak yang berisi virus yang dilemahkan.
    • Sebelum disuntikkan vaksin Campak terlebih dahulu harus dilarutkan dengann pelarut steril yang telah tersedia yang berisi 5 ml cairan pelarut aquabidest. Dosis pemberian untuk vaksin campak yang dilemahkan adalah 0,5 ml disuntikkan secara subkutan pada lengan atas, pada usia 9-11 bulan. Dan ulangan (booster) pada usia 6-7 tahun (kelas 1 SD) setelah  cath-up campaign Campak pada anak Sekolah Dasar kelas 1-6.  Vaksin campak yang sudah dilarutkan hanya  boleh digunakan maksimum 6 jam. 
    • Efek samping Imunisasi campak kadang membuat anak demam hingga 39,5 derajat Celcius pada hari ke 5-6 sesudah imunisasi. Demam berlangsung selama 2 hari. Ruam (bercak-bercak merah) dapat dijumpai pada 5% anak, timbul pada hari ke 7-10 sesudah imunisasi dan berlangsung selama 2- hari. Reaksi berat seperti ensefalitis(radang otak) sangat jarang terjadi. 
    • Imunisasi campak tidak dianjurkan pada ibu hamil, anak dengan imunodefisiensi primer, pasien TB yang tidak diobati, pasien kanker atau transplantasi organ, anak yang mendapat obat imunosupresi (obat penekan system imun) jangka panjang. Anak yang terinfeksi HIV tanpa imunosupresi berat dan tanpa bukti kekebalan terhadap campak, bisa mendapat imunisasi campak.

    IMUNISASI PADA KELOMPOK BERISIKO

    Pasien dengan sistim imun tertekan
    1. Mendapat pengobatan kortikosteroid dosis tinggi sama atau lebih dari 20 mg sehari atau 2 mg/kg bb/ hari dengan lama pengobatan lebih dari 7 hari atau dosis 1 mg/ kg bb/ hari lama pengobatan lebih dari 1 bulan.
    2. Pengobatan dengan alkylating agents, antimetabolik dan radioterapi untuk penyakit keganasan seperti leukemia dan limfoma.
    Pada pasien dengan sistem imun yang tertekan, tidak boleh diberikan imunisasi vaksin hidup karena akan berakibat fatal disebabkan vaksin akan bereplikasi dengan hebat karena tubuh tidak dapat mengontrolnya. Vaksin hidup misalnya vaksin polio oral, MMR, BCG. Vaksinasi dengan mikroorganisme hidup dapat diberikan setelah penghentian pengobatan minimal 3 bulan.

    Vaksinasi dengan mikroorganisme mati atau yang dilemahkan dapat diberikan seperti hepatitis B, hepatitis A, DPT, influenza dan Hib, dosis sama dengan anak sehat. Respons imun yang timbul tidak sama dengan anak sehat, sehingga bila kontak dengan pasien campak harus diberikan imunisasi pasif yaitu normal immunoglobulin human dengan dosis 0,2 ml/kg bb/ intramuskular. Untuk profilaksis varisela dosis lebih besar 0,4-1,0 ml/kg bb, bila mungkin sebaiknya diberikan imunisasi spesifik dengan varicella-zoster imunoglobulin namun pada saat ini belum ada di Indonesia.

    Pasien dalam pengobatan kortikosteroid
    • Pada pasien dengan pengobatan kortikosteroid topikal atau injeksi lokal misalnya erosol untuk asma, rinitis alergi, salep kulit, mata, intra artikular, kortikosteroid dosis rendah yang diberikan setiap hari atau selang sehari, dapat diberikan imunisasi dengan vaksin hidup.
    • Sedangkan pada pasien yang mendapat kortikosteroid sistemik dosis tinggi setiap hari atau selang sehari dan lama pemberian kurang dari 14 hari, dapat diberikan imunisasi dengan vaksin hidup segera setelah penghentian pengobataan, namun ada yang menganjurkan setelah penghentian 14 hari.
    • Pada pasien yang mendapat kortikosteroid sistemik dosis tinggi setiap hari atau selang sehari selama lebih dari 14 hari, dapat diberikan imunisasi vaksin hidup setelah penghentian pengobatan 1 bulan. Imunisasi dengan vaksin hidup dapat diberikan pada pasien yang telah menghentikan pengobatan imunosupresif selama 3 sampai 6 bulan dengan pertimbangan bahwa status imun sudah mulai membaik dan penyakit primernya sudah dalam remisi atau sudah dapat dikontrol.
    • Keluarga pasien imunokompromais yang kontak lansung dianjurkan untuk mendapatkan imunisasi polio inaktif, varisela, dan MMR. Vaksin varisela sangat dianjurkan untuk keluarga imunokompromais, oleh karena walaupun dapat terjadi penularan transmisi virus varisela pada pasien tetapi gejala lebih ringan dari pada infeksi alamiah yang akan berakibat lebih buruk dan dapat fatal.
    • Pengecualian unutk penderita leukemia limfosik akut dalam keadaan remisi lebih dari 1 tahun, dapat diberikan imunisasi dengan virus hidup varisela, oleh karena bila mendapat infeksi alamiah dengan varisela dapat fatal.
    • Pasien defisiensi imun kongenital ataupun yang didapat, imunisasi tidak akan memberikan respons maksimal seperti yang diinginkan, sehingga dianjurkan memeriksa titer anitbodi serum setelah imunisasi sebagai data untuk pemberian imunisasi berikutnya.
    Pasien infeksi human immunodeficiency virus (HIV)

    Pasien HIV mempunyai risiko lebih besar untuk mendapatkan infeksi sehingga diperlukan imunisasi, walaupun responsnya terhadap imunisasi tidak optimal atau kurang. Kapan pasien HIV harus diberi imunisasi? Apabila diberikan terlambat mungkin tidak akan berguna karena penyakit sudah lanjut dan efek imunisasi tidak ada atau kurang, namun apabila diberikan dini, vaksin hidup akan mengaktifkan sistim imun yang dapat meningkatkan replikasi virus HIV sehingga memperberat penyakit HIV. Pasien HIV dapat diimunisasi dengan mikroorganisme yang dilemahkan atau yang mati.

    Pasien transplantasi sumsum tulang (TST)

    Resipien transplantasi sumsum tulang alogenik akan menjadi defisiensi imun disebabkan 4 komponen:
    1. Pengobatan imunsupresi terhadap penyakit primer
    2. Kemoterapi dan radioterapi yang diberikan pada pejamu
    3. Reaktivitas imunologi antara graft dan pejamu serta,
    4. Pengobatan imunsupresi yang diberikan setelah transplantasi dilakukan
    Sebaiknya sebelum transplantasi dilakukan, pada resipien diberikan imunisasi terlebih dahulu. Karena terbukti setelah transplantasi imunitas terhadap virus polio, tetanus, dan difteria hampir tidak ada, maka sebaiknya pejamu diberikan imunisasi DPT dan polio sebelum transplantasi dilakukan. Penelitian klinis menunjukan bahwa bila donor diberikan imunisasi difteria dan tetanus sebelum transplantasi dilakukan kemudian segera setelah itu diberikan imunisasi pada resipien dengan antigen yang sama akan memberikan respons yang baik. Hal yang sama dapat dilakukan dengan vaksin inaktif pertusis, Hib, hepatitis B, pneumokok dan IPV.

    Bayi prematur

    Bayi prematur dapat diimunisasi sesuai dengan umur kronologisnya dengan dosis dan jadwal yang sama dengan bayi cukup bulan. Vaksin DPwT atau DtaP, Hib, dan OPV diberikan pada usia 2 bulan. Bila bayi masih dirawat pada usia 2 bulan sebaiknya diberikan IPV, bila akan diberikan OPV pemberian ditunda sampai saat bayi akan dipulangkan dari rumah sakit unutk menghindari penyebaran virus polio kepada bayi lain yang sedang dirawat. Pada bayi prematur, respons imun kurang bila dibandingkan bayi cukup bulan terhadap imunisasi hepatitis B, sehingga pemberian vaksin hepatitis dapat dilakukan 2 cara:
    • Prematur dengan ibu HbsAg positif harus diberikan hep B bersamaan dengan HBIG pada 2 tmepat yang berlainan dalam waku 12 jam. Dosis ke 2 diberikan 1 bulan kemudian, dosis ke 3 dan ke 4 diberikan usia 6 dan 12 bulan.
    • Permatur dengan ibu HbsAg negatif pemberian imunisasi dapat dengan :
      • Dosis pertama saat lahir, ke II umur 2 bulan, ke II dan ke IV umur 6 dan 12 bulan. Titer diperiksa setelah imunisasi ke IV.
      • Dosis pertama diberikan saat bayi sudah mencapai berat badan 2000 gr atau sekitar 2 bulan. Vaksinasi hepatitis B peratama dapat diberikan bersama sama DPT, OPV (IPV) dan Hib. Dosis hepatitis B ke II diberikan 1 bulan kemudian dan ke II usia 8 bulan. Titer antibodi diperiksa setelah imuniasi ke II
      • Saat ini telah beredar vaksin kombinasi hepatitis B dengan DPT (Tritanrix, Glaxo, smith Klein). Untuk bayi berumur kurang dari 6 minggu tidak dianjurkan jadi tidak dapat diberikan sebagai imuniasai pertama pada bayi baru lahir.
    Air Susu Ibu dan Imunisasi
    • Tidak terdapat kontra indikasi pada bayi yang sendan menyusui bila ibunya diberikan imunisasi baik dengan bakteri/virus hidup dan kuman yang dilemahkan. Sebaliknya, air susu ibu tidak akan menghalangi seorang bayi untuk mendapakan imunisasi.

    VAKSIN KOMBINASI

    Vaksin kombinasi merupakan gabungan beberapa antigen tunggal menjadi satu jenis produk antigen untuk mencegah penyakit yang berbeda atau antigen dari galur multipel dari organisme penyebab penyakit yang sama. Alasan utama pembuatan vaksin kombinasi adalah:
    1. Vaksin kombinasi lebih praktis daripada vaksin terpisah, sehingga dapat meningkatkan cakupan imunisasi.
    2. Mengurangi biaya
    3. Mengurangi biaya pengobatan
    4. Memudahkan penambahan vaksin baru ke dalam program imunisasi yang telah ada.
    5. Untuk mengejar imunisasi yang terlambat
    6. Walaupun harga vaksin kombinasi kadang kadang lebih mahal bila dibandingkan dengan vaksin terpisah, apabila dihitung pengeluaraan total termasuk biaya berobat, transportasi, kecemasan anak dan orang tua, biaya pengadaan dan penyimpanan, maka secara ekonomis menjadi lebih murah.
    Di samping keuntungannya, vaksin kombinasi mempunyai beberapa kekurangan, yaitu:
    1. Terjadinya ketidakserasian kimiawi/fisis, sebagai akibat percampuran beberapa antigen beserta ajuvan-nya.
    2. Sulit dihindari adanya perubahan respons imun sebagai akibat interaksi antara antigen dengan antigen lain atau antara antigen dengan ajuvan yang berbeda.
    3. Pemakainan vaksin kombinasi dapat membingungkan para dokter dalam menyusun jadwal imunisasi, apalagi bila dipergunakan vaksin dari pabrik yang berbeda.

    Bacaan sebelumnya
                                          •         Imunisasi dan vaksin sebagai upaya pencegahan primer
                                          •         Cara pemberian imunisasi
                                          •         Kejadian ikutan pasca imunisasi