Komplikasi tumor otak

PENDAHULUAN
  • Tumor otak atau tumor intracranial adalah neoplasma atau proses desak ruang (space occupying lesion) yang timbul di dalam rongga tengkorak baik di dalam kompartemen supratentorial maupun infratentorial, mencakup tumor-tumor primer pada korteks, meningens, vaskuler, kelenjar hipofise, epifise, saraf otak, jaringan penyangga, serta tumor metastasis dari bagian tubuh lainnya.
  • Tumor otak menunjukkan manifestasi klinik yang tersebar. Tumor ini dapat menyebabkan peningkatan TIK serta tanda dan gejala lokal sebagai akibat dari tumor yang menggangu bagian spesifik dari otak. Gejala yang biasanya banyak terjadi akibat tekanan ini adalah sakit kapala, muntah, papiledema (“Choked disc” atau edema saraf optik), perubahan kepribadian dan adanya variasi penurunan fokal motorik, sensori dan disfiungsi saraf kranial Gejala klinik pada tumor intrakranial dibagi dalam 3 kategori, yaitu : Gejala klinik umum, gejala klinik lokal, dan gejala lokal yang menyesatkan (False lokalizing features)
gif maker

KOMPLIKASI TUMOR OTAK
  • GANGUAN FUNGSI LUHUR
    • Komplikasi tumor otak yang paling ditakuti selain kematian adalah gangguan fungsi luhur. Gangguan ini sering diistilahkan dengan gangguan kognitif dan neurobehavior sehubungan dengan kerusakan fungsi pada area otak yang ditumbuhi tumor atau terkena pembedahan maupun radioterapi. 
    • Neurobehavior adalah keterkaitan perilaku dengan fungsi kognitif dan lokasi / lesi tertentu di otak. Pengaruh negatif tumor otak adalah gangguan fisik neurologist, gangguan kognitif, gangguan tidur dan mood, disfungsi seksual serta fatique.
    • Gangguan kognitif yang dialami pasien tumor otak bisa dievaluasi dengan berbagai tes. Di antaranya adalah Sickness Impact Profile, Minesota Multiphasic Personality Inventory (MMPI), dan Mini mental State Examination (MMSE). Komponen kognitif yang dievaluasi adalah kesadaran, orientasi lingkungan, level aktivitas, kemampuan bicara dan bahasa, memori dan kemampuan berpikir, emosional afeksi serta persepsi.
  • GANGUAN WICARA
    • Gangguan wicara sering menjadi komplikasi pasien tumor otak. Dalam hal ini kita mengenal istilah disartria dan aphasia. 
    • Disartria adalah gangguan wicara karena kerusakan di otak atau neuromuscular perifer yang bertanggung jawab dalam proses bicara. Tiga langkah yang menjadi prinsip dalam terapi disartria adalah meningkatkan kemampuan verbal, mengoptimalkan fonasi, serta memperbaiki suara normal. 
    • Afasia merupakan gangguan bahasa, bisa berbentuk afasia motorik atau sensorik tergantung dari area pusat bahasa di otak yang mengalami kerusakan. Fungsi bahasa yang terlibat adalah kelancaran (fluency), keterpaduan (komprehensi) dan pengulangan (repetitif). Pendekatan terapi untuk afasia meliputi perbaikan fungsi dalam berkomunikasi, mengurangi ketergantungan pada lingkungan dan memastikan sinyal-sinyal komunikasi serta menyediakan peralatan yang mendukung terapi dan metode alternatif. Terapi wicara terdiri atas dua komponen yaitu bicara prefocal dan latihan menelan.
  • GANGUAN POLA MAKAN
    • Disfagi merupakan komplikasi lain dari penderita ini yaitu ketidakmampuan menelan makanan karena hilangnya refleks menelan. Gangguan bisa terjadi di fase oral, pharingeal atau oesophageal. Komplikasi ini akan menyebabkan terhambatnya asupan nutrisi bagi penderita serta berisiko aspirasi pula karena muntahnya makanan ke paru. Etiologi yang mungkin adalah parese nervus glossopharynx dan nervus vagus. Bisa juga karena komplikasi radioterapi. 
    • Diagnosis ditegakkan dengan videofluoroscopy. Gejala ini sering bersamaan dengan dispepsia karena space occupying process dan kemoterapi yang menyebabkan hilangnya selera makan serta iritasi lambung. Terapi untuk gejala ini adalah dengan sonde lambung untuk pemberian nutrisi enteral, stimulasi, dan modifikasi kepadatan makanan (makanan yang dipilih lebih cair/lunak).
  • KELEMAHAN OTOT
    • Kelemahan otot pada pasien tumor otak umumnya dan yang mengenai saraf khususnya ditandai dengan hemiparesis, paraparesis dan tetraparesis. Pendekatan terapi yang dilakukan menggunakan prinsip stimulasi neuromusculer dan inhibisi spastisitas. Cara lain adalah dengan EMG biofeedback, latihan kekuatan otot, koordinasi endurasi dan pergerakan sendi.
  • GANGUAN PENGLIHATAN DAN PENDENGARAN
    • Tumor otak yang merusak saraf yang terhubung ke mata atau bagian dari otak yang memproses informasi visual (visual korteks) dapat menyebabkan masalah penglihatan, seperti penglihatan ganda atau penurunan lapang pandang.
    • Tumor otak yang mempengaruhi saraf pendengaran - terutama neuromas akustik - dapat menyebabkan gangguan pendengaran di telinga pada sisi yang terlibat otak.
    • STROKE
      • Seseorang dengan stroke memiliki gangguan dalam suplai darah ke area otak, yang menyebabkan otak tidak berfungsi. Otak sangat sensitif terhadap setiap gangguan dalam aliran darah. Sel-sel otak mulai mati dalam beberapa menit kehilangan pasokan oksigen dan glukosa. 
      • Para gangguan aliran darah dapat terjadi oleh salah satu dari dua mekanisme, yaitu hemorrhagic stroke disebabkan oleh perdarahan dari pembuluh darah kecil yang memasok darah ke otak dan Stroke iskemik disebabkan oleh bekuan darah yang menghalangi aliran darah melalui arteri yang memasok darah ke otak. Ada dua jenis stroke iskemik: Stroke trombotik stroke dan emboli. stroke trombotik disebabkan oleh gumpalan darah yang terbentuk di dalam arteri otak.  stroke emboli disebabkan oleh gumpalan darah yang terbentuk di luar pembuluh darah otak, kemudian gumpalan darah itu berjalan melaui aliran darah dan sampai pada pembuluh darah otak, gumpalan darah ini selanjutnya menyumbat suplay darah ke otak.
      • Pada tumor otak, komplikasi stroke yang timbul dapat berupa Hemorrhagic stroke yang terjadi akibat pecahnya pembuluh darah otak yang tertekan akibat pembesaran tumor.
    • EPILEPSI
      • kejadian sekitar 30% dari tumor otak. Alasannya sebagian besar disebabkan karena rangsangan langsung atau represi dari tumor yang menyebabkan ganguan listrik pada otak dan juga  tumor otak dapat menyebabkan iritasi pada otak yang dapat menyebabkan kejang
    • DEPRESI
      • Depresi dapat disebabkan karena tumor pada pusat emosi (system limbic) atau karena keadaan klinis yang disebabkan oleh tumor tersebut, Gejala yang timbul dapat berupa menangis terus-menerus, kesedihan yang mendalam, social withdrawal, Mudah marah, kecemasan, penurunan libido, gangguan tidur, tingkah lakuyg tidak wajar. Dapat juga karena efek STEROID : mood and sleep changes, ganguan. bipolar (manicdepression).
    • HIDROSEPHALUS
      • Hidrosephalus terjadi apabila tumor yang terbentuk menghalangi aliran LCS, akibatnya aliran LCS akan terhambat dan mengakibatkan terbentuknya hidrosephalus. Selain itu peningkatan tekanan intrakranial juga dapat menghambat aliran LCS.
    • CEREBRAL HERNIA
      • Cerebral hernia adalah kondisi, progresif fatal di mana otak terpaksa melalui pembukaan dalam tengkorak.
      • Tumor otak akan menyebabkan peningkatan tekanan intrakranial, yang kemudian menyebabkan penggeseran parenkim otak ke foramen Magnum atau transtentorial
    • GANGUAN SEKSUALITAS
      • Tumor otak sendiri dapat mempengaruhi seksualitas, terutama jika tumor melibatkan daerah otak yang mengontrol pelepasan hormon yang mempengaruhi libido, termasuk estrogen, progesteron testosteron, dan. Daerah-daerah yang sama dari otak dapat rusak oleh terapi radiasi, yang yang dapat juga mengurangi kesuburan dan libido selain itu dapat pula menyababkan menopouse dini.
    • TERBENTUKNYA GUMPALAN DARAH
      • Adanya Tumor otak menempatkan Anda pada risiko lebih tinggi terjadinya pembekuan darah. Pembekuan ini disebut "trombosis vena dalam" (DVT) dan terjadi di pembuluh darah kaki. Gejala yang DVT meliputi nyeri betis, bengkak, dan perubahan warna kaki, meskipun itu DVT juga bisa terjadi tanpa gejala. Bahaya itu DVT adalah bahwa mereka dapat pecah dan dibawa oleh aliran darah ke paru-paru, di mana mereka menyebabkan "thromboemboli paru" (PTE)-pembekuan darah di arteri paru.
    KOMPLIKASI AKIBAT PENGOBATAN TUMOR
    • Pengobatan tumor dengan kortikosteroid
      • Penggunaan Steroid secara dramatis dapat mengurangi edema sekeliling tumor intrakranial, namun tidak berefek langsung terhadap tumor
      • Efek samping yang dapat timbul dari pengguanaan kortikosteroid dapat berupa Diabetes, Obesitas dan hipertensi, moonface, Pneumonia Pneumocystis, Osteoporosis, perubahan mood dan pola tidur, Kelemahan otot, glukoma, dan lain- lainnya yang dapat di baca di sini
    • Pengobatan Tumor dengan Operasi
      • Beberapa pasien akan mengalami sakit kepala atau merasa nyeri di beberapa bagian tubuh untuk beberapa hari setelah operasi. Namun jangan khawatir, ada obat peredah sakit. Diskusikan setiap nyeri yang dirasakan dengan dokter untuk mendapatkan obat yang tepat dan agar dokter bisa tahu apakah ada penyakit lainnya.
      • Tubuh terasa lemas dan lelah juga salah satu efek yang mungkin terjadi bila menggunakan metode pengobatan tumor ini. Tapi ini akan berlalu. Namun perlu diingat bahwa setiap pasien membutuhkan waktu yang berbedah untuk pulih.
      • Terjadinya penumpukan darah pada otak (Edema), hal inilah yang selalu dimonitor oleh pihak rumah sakit. Ketika pasien menunjukan gejala akan edema, pihak rumah sakit akan memberi obat yang dapat meringankan pembengkakan. Bila tidak berhasil, operasi ke-2 mungkin diperlukan untuk membuang darah.
      • Saat operasi otak, mungkin beberapa jaringan normal dapat tidak sengaja rusak. Bila tidak permanen, kerusakan jaringan ini akan hilang alias sembuh seiring waktu berjalan. Bila permanen, pasien harus melakukan terapi
    • Pengobatan Tumor dengan Terapi Radiasi
      • Beberapa pasien akan mengalami mual dan kelelahan, hal ini memang biasa. Dokter dan perawat akan menyarankan cara – cara yang bisa membantu pasien untuk mengatasi masalah ini.
      • Terapi radiasi ini juga dapat menyebabkan rambut rontok hingga jadinya botak. Biasanya rambut akan tumbuh kembali setelah beberapa bulan. Kadang –kadang, bukan hanya rambut tetapi juga kepala dan telingga akan menjadi berwarna merah, kering dan lembut. Dokter akan menyarankan cara untuk menyembuhkannya.
      • Efek lain dari pengobatan tumor dengan terapi radiasi yang mungkin terjadi adalah sakit kepala dikarenakan jaringan otak membengkak. Dokter akan memataunya serta membeli obat yang dapat mengurangi sakit. Jangan khawatir ini dapat disembuhkan.
      • Kadang –kadang, radiasi dapat membunuh jaringan otak yang sehat (nekrosis radiasi) sehingga akan menyebabkan sakit kepala, kejang bahkan kematian. Pastikan dokter yang menangani Anda ahli agar terhindar dari efek ini.
      • Terapi radiasi para anak dapat menyebabkan rusaknya kelenjar pituitary dan daerah lain di otak sehingga menyebabkan masalah dalam belajar atau memperlambat pertumbuhan. Diskusikan dengan dokter Anda agar bisa mencegah efek yang satu ini.
    • Pengobatan Tumor dengan kemoterapi
      • Kemoterapi adalah pemberian golongan obat-obatan tertentu dengan tujuan menghambat pertumbuhan sel kanker dan bahkan ada yang dapat membunuh sel kanker. Obat itu disebut "sitostatika atau obat anti-kanker
      • Efek samping yang timbul pada kemoterapi dapat berupa
        • Terhadap sumsum tulang: leukopeni , anemi, trombositopenia.
        • Terhadap saluran cerna: mual, muntah, stomatitis, gastritis, diare,ileus.
        • Terhadap kardiovaskuler: kardiomiopati, hipertensi, dekompensasio cordis
        • Terhadap paru : fibrosis
        • Terhadap hepar : fibrosis.
        • Terhadap ginjal : nekrosis tubulus
        • Terhadap kulit: hiperpigmentasi, alopesia atau kebotakan dan ruam-ruam pada kulit.
        • Terhadap syaraf: parestesi, neuropati, , tuli.
        • Terhadap pankreas : pankreatitis.
        • Terhadap uterus : perdarahan.
        • Terhadap kandung kemih: sistitis
        • Efek pada Organ Seksual dan Seksualitas, dimana terjadi penurunan libido dan juga terjadi menopause dini pada wanita


    SEBELUMNYA
    KELANJUTAN

    Tumor otak : macam, gambaran patologi anatomi dan diagnosa tumor otak

    tumor otak
    ANATOMI OTAK
                  JENIS- JENIS TUMOR YANG TERDAPAT DI OTAK


    PENDAHULUAN
    • Tumor otak adalah suatu pertumbuhan jaringan yang abnormal di dalam otak yang terdiri atas tumor otak benigna dan maligna. Tumor otak benigna adalah pertumbuhan jaringan abnormal di dalam otak, tetapi tidak ganas, sedangkan tumor otak maligna adalah kanker di dalam otak yang berpotensi menyusup dan menghancurkan jaringan di sebelahnya atau yang telah menyebar (metastase) keotak dari bagian tubuh lainnya melalui aliran darah. 
    • Tumor otak dibagi menjadi dua tipe yaitu tumor primer dan sekunder. Tumor primer, yaitu tumor yang berasal dari dalam otak sendiri. Bisa berasal dari astrosit, oligodendrosit, ependimosit, fibroblast arakhnoidal, neuroblas-meduloblas. Sedangkan tumor sekunder, yaitu tumor yang berasal dari karsinoma metastasis yang terjadi di bagian tubuh lainnya, contohnya yang paling sering adalah yang berasal dari tumor paru-paru pada pria dan tumor payudara pada wanita.



    KLASIFIKASI
    Berdasarkan frekuensi tumor otak adalah sebagai berikut :

    • Glioma 41%
      • Astrositoma derajat I 40-50%
      • Astrositoma derajat II 5-10%
      • Astrositoma derajat III 2-5%
      • (glioblastoma multiform) 20-30%
      • Medulloblastoma 3-5%
      • Oligodendroglioma 1-4%
      • Ependimoma derajat I-I 1-3%
    • Meningioma 17%
    • Adenoma hipofise 13%
    • Neurilemmoma/neurofibroma 12%
    • Tumor metastasis
    • Tumor pembuluh darah
      • Malformasi arteriovenosa,
      • Hemangioblastoma,
      • Endotelioma
    Berdasarkan lokasi
    • Mengenai lokalisasi tumor otak, dilaporkan bahwa pada orang dewasa kebanyakan di daerah supratentorial, sedangkan pada anak-anak di daerah infratentorial.
    • Tumor-tumor metastasis otak kebanyakan berasal dari paru, traktus digestivus, mammae serta ginjal, dimana 70% terletak dihemisfir serebri, sedangkan 30% di serebelum dan 70% multipel.
    Berdasarkan Insidensi umur :
    • Jenis tumor saraf mempunyai kecenderungan untuk berkembang pada golongan umur tertentu. Tumor primer dari susunan saraf pusat yang berasal dari jaringan embrional banyak dijumpai pada umur di bawah 10 tahun, dan jenis tumor lain berkisar antara umur 20 - 60 tahun. Sedangkan tumor metastasis otak sebagian besar terdapat pada umur 40 - 70 tahun
    • Tumor serebelum lebih sering pada anak-anak dari pada orang dewasa. Glioma batang otak, praktisnya di Pons lebih sering dijumpai pada anak-anak.
    Berdasarkan pemeriksaan histopatologi tumor, digambarkan sebagai berikut :
    • Meduloblastoma, pada dasa warsa I
    • Pinealoma dan astrositoma serebelum, pada dasawarsa II
    • Glioblastoma, pada dasa warsa V
    • Schwannoma, pada dasa warsa V - VI
    Berdasarkan Insidensi jenis kelamin :
    • Laki- laki, tumor otak yang banyak dijumpai pada laki-laki, yaitu :
      • Glioma : astrositoma, glioblastoma dan meduloblastoma
      • tumor-tumor di regio pineale
      • Tumor pituitari
      • Tumor-tumor kongenital
      • Kordoma
    • Pada wanita
      • schwannoma dan meningioma lebih sering dijumpai pada wanita.


    BERIKUT INI AKAN SAYA PAPARKAN JENIS-JENIS TUMOR  OTAK.
    Sebenarnya ada sekitar 120 jenis tumor otak, Berikut akan saya paparkan beberapa saja.


    ASTROSITOMA
    • Merupakan tumor SSP otak primer kedua terbanyak setelah glioblastoma.
    • Astrositoma serebri dapat terjadi pada semua golongan umur, rata-rata usia 35-40 tahun. Astrositoma yang diferensiasi baik cenderung pada kelompok usia lebih muda, sedang yang anaplastik pada kelompok usia menengah. Predileksi kasus usia dewasa sedikit didominasi oleh laki-laki.
    • Patologi anatomi
      • Astrositoma fibriler secara makroskopis berupa neoplasma difus, lunak berwarna kelabu putih yang menginfiltrasi luas ke dalam otak, sering mengandung kista kecil. Pada dewasa sering melibatkan hemisfer serebral, pada anak di batang otak. Astrositoma protoplasmic cenderung di korteks, lebih ganas daripada tipe fibriler tapi lebih jinak dari glioblastoma.
    • Presentasi klinis-Investigasi diagnostic
      • Gejala klinis berupa sakit kepala ipsilateral terhadap tumor dan muntah. Gejala awal tersering yaitu kejang baik umum maupun fokal, akibat insufisiensi aliran darah yang sesaat yang menimbulkan bangkitan elektrik yang berlebihan. Gejala lain yaitu deficit neurologist fokal, seperti parese, gangguan penglihatan, vertigo, disfasia, diplopia, hemianopsia homonimus, gangguan sensorik. Kadang-kadang terdapat gangguan mental dan penurunan kesadaran.
      • CT scan memiliki akurasi 100% untuk tumor supratentorial. Grade I menunjukan penurunan densitas, sedikit atau tidak ada edem perifokal. Grade II menunjukkan lesi yang hipodens dibanding sekitarnya, edem lebih menonjol.
      • MRI dapat mendeteksi astrositoma yang tidak terdeteksi pada CT scan.
    • Penanganan dan hasil terapi
      • Tindakan operasi radikal biasanya dilakukan pada tumor di daerah aman (lobus frontal hemisfer non dominant), biopsy lebih baik dilakukan pada daerah yang berbahaya (girus motorik). Angka mortalitas tergantung pada keadaan prabedah pasien, steroid, dan antiedem sebelumnya. Radioterapi memperbaiki harapan hidup penderita. Dosis radiasi antara 4500-6000 rad (whole brain) dengan booster 1000 rad pada tumornya sendiri.
      • Tindakan terbaru yaitu dengan radio surgery (gamma knife surgery) bagi tumor astrositoma di daerah sulit (batang otak ) dan tidak bisa dijangkau dengan pisau
    GLIOBLASTOMA
    • Menurut definisinya astrositoma bila asal tumor berhasil diidentifikasi dari sel astrosit, sedangkan glioblastoma bila asalnya tidak diketahui. 
    • Glioblastoma berjumlah kira-kira seperempat dari seluruh tumor intracranial dan separuh dari semua glioma. Kasus terbanyak melibatkan kelompok usia rata-rata 41-60 tahun.
    • Patologi Anatomi
      • Tampil sebagai massa yang berbatas tegas atau neoplasma yang infiltratif secara difus. 60% berupa massa solid dan sisanya kistik. Potongan tumor dapat berupa massa lunak berwarna keabuan atau kemerahan atau berupa daerah nekrosis dengan konsistensi seperti krim kekuningan, atau berupa suatu daerah bekas perdarahan berwarna coklat kemerahan. Sel neoplasma ini mengadakan infiltrasi ke sel normal atau tumbuh invasive mendesak sel normal, bila sampai melibatkan seluruh hemisfer disebut sebagai gliomatosis serebri.
    • Presentasi Klinis-Investigasi diagnostic
      • Nyeri kepala merupakan keluhan utama. Gangguan motorik sebagai keluhan awal. Terdapat perubahan mental, kejang, abnormalitas neurologist berupa refleks abnormal, konfusi dan disorientasi, papiledema, kesadaran yang menurun, gangguan lapang pandang, koma dan parese N. III dan N. VI.
      • CT scan dan MRI merupakan pemeriksaan penunjang yang terbaik. Glioma non anaplastik biasanya merupakan lesi yang hipodens yang batasnya agak jelas dan bentuknya lebih regular serta edema perifokal di sekitar neoplasma. Pada lesi anaplastik kadang tampak edema yang menyerupai jari tangan (fingers like edema) yang meluas ke dalam massa putih otak. Adanya perdarahan intratumoral ditampilkan dengan peningkatan densitas lesi. 
      • Pada glioblastoma dengan pemeriksaan CT scan akan memiliki gambaran yang lusen, dimana perburukan keadaan klinis penderita memiliki korelasi dengan pembesaran ukuran di daerah ini.
    • Penanganan dan hasil terapi
      • Dilakukan operasi dan radioterapi serta kemoterapi. Pada operasi, tumor perlu dibuang sebanyak mungkin untuk mengatasi desakan pada otak dan tidak menambah atau mengakibatkan deficit neurolis yang lebih berat. 
      • Reseksi agresif memberikan five years survival rate lebih panjang, dan meningkatkan efektivitas radiasi karena sel-sel neoplasma yang anoksik merupakan sel yang radioresisten dapat dibuang.
    MENINGIOMA
    • Berasal dari lapisan arachnoid. Relatif sering dijumpai pada orang dewasa, dengan sifat khas yaitu tumbuh lambat dan cenderung meningkatkan vaskularisasi tulang yang berdekatan, hyperostosis tengkorak serta menekan jaringan otak sekitarnya.
    • Insidensinya cenderung meningkat seiring meningkatnya usia penderita. Wanita 2x lebih tinggi risikonya daripada pria.
    • Patologi Anatomi
      • Meningioma intracranial sering mempunyai predileksi lokasi terbanyak di parasagital, selain di sphenoid, konveksitas, dan fossa posterior. Klasifikasi paling sederhana menurut Kernohan dan Sayre adalah meningoteliomatosa, fibromatosa, dan tipe maligna.
      • Tumor meningioma psammomatosa merupakan subtype kelompok meningioteliomatosa, dan yang paling angioblastik adalah hemangioprositoma sehubungan dengan agresivitasnya.Tumor tipe ini sering dijumpai di ventrikel.
    • Presentasi klinis dan investigasi diagnostic
      • Gejala yang timbul akibat tekanan terhadap jaringan atau saraf otak di dekatnya. Tumor ini tumbuh lambat sehingga gejala klinis tidak terlalu menonjol. Kadang ada hyperostosis tulang di sekitarnya, pada foto polos kepala terdapat tanda-tanda peningkatan tekanan intracranial yang berupa hyperostosis tulang, peningkatan vaskularitas, kalsifikasi tipe dan destruksi tulang (jarang).
      • CT scan menampilkan sebagai massa hiperdens yang homogen dengan enhancement zat kontras yang merata.
    • Penanganan dan hasil terapi
      • Terapi operatif radikal maksimal merupakan penanganan terpilih. Secara umum meningioma merupakan tumor yang relative radioresisten.
    MEDULOBLASTOMA
    • Merupakan tumor awal otak primer yang terjadi pada serebelum dan terdiri dari sel-sel kecil yang uniform dan gambaran mitosis yang banyak (spongioblastoma serebeli).
    • Wanita memiliki risiko lebih tinggi dibanding pria. Meduloblastoma yang terletak di lateral umumnya berusia dewasa, sedangkan yang terletak di tengah umumnya anak-anak.
    • Patologi Anatomi
      • Merupakan tumor yang biasanya tumbuh di daerah atap ventrikel IV sebagai lesi yang berbatas tegas dan cenderung untuk menyusup sampai tonsil serebelum dan ekspansi keluar foramen magnum. Konsistensinya lunak, kadang-kadang kenyal. Sering metastasis ke rongga subarachnoid via LCS dan menampilkan bercak-bercak opaque pada subarachnoid atau nodul-nodul seperti kancing.
    • Presentasi klinis-Investigasi diagnostic
      • Gejala awal berupa peninggian tekanan intracranial yaitu nyeri kepala, mual, muntah, gangguan penglihatan. Gejala lain yaitu gejala serebeler (gangguan gaya berjalan).
      • CT scan dan MRI merupakan investigasi diagnostic terpilih.
    • Penanganan dan hasil terapi
      • Dilakukan tindakan operasi pengangkatan tumor minimal sampai sumbatan likuor dapat lancar kembali. Radioterapi dapat meningkatkan five year survival penderita meduloblastoma. Dosis total yang diberikan yaitu 5500 rad terhadap fosa posterior dan 4000-4500 rad pada neuro-aksis.
    EPENDIMOMA
    • Merupakan neoplasma glia yang susunannya didominasi oleh sel-sel ependim. Usia penderita rata-rata 20 tahun dan didominasi oleh pria. Umumnya memiliki predileksi di kompartemen infratentorial dan ventrikel IV. 
    • Pada anak umumnya di infratentorial, sedang pada dewasa di supratentorial.
    • Patologi Anatomi
      • Makroskopis berupa suatu massa yang lunak, pucat, kadang noduler. Tumor intraventrikuler memiliki bentuk sesuai contour ventrikuler atau terpendam dalam massa putih otak. 25 % tumor intraventrikuler terletak dalam ventrikel III, 75 % di dalam atau dekat ventrikel lateral. Tumor ini dapat menembus jaringan otak dan menginvasi dura serta tulang. Ependimoma supratentorial mempunyai komponen kistik, sebaliknya di fossa posterior jarang kistik.
      • Klasifikasi WHO mengelompokkan tumor ini menjadi 4 jenis yaitu miksopapiler, papiler, subependimoma tipe non-anaplastik, ependimoma anaplastik. 
      • Kebanyakan yang menimbulkan gejala klinis yaitu jenis papiler atau anaplastik, sedangkan tipe meksopapiler banyak terdapat di daerah kauda ekuina.
    • Presentasi klinis-Investigasi diagnostic
      • Tumor yang terletak inratentorial memiliki durasi lebih panjang dibanding yang supratentorial, hal ini menandakan sifat yang invasive. Tumor intraventrikuler tidak bergejala sampai menjadi besar sekali.
      • Gejala umumnya papiledema, nyeri kepala, mual, muntah, gejala serebeler (vertigo, ataksia). Kejang jarang dijumpai.
      • Gejala utama dari tumor ventrikel IV adalah keluhan nyeri kepala dan muntah, sedangkan tumor ventrikel lateral sering menampilkan deficit neurologist fokal.
      • CT scan dan MRI merupakan pemeriksaan yang terpilih.
    • Penanganan dan hasil terapi
      • Tindakan operasi bertujuan untuk dekompresi, menghilangkan obstruksi aliran LCS, reduksi terhadap jaringan otak sekitarnya dan menegakkan diagnosa terhadap derajat anaplasia.
      • Indikasi terapi radiasi yaitu konfirmasi adanya tumor. Ependimoma sensitive terhadap radiasi nomor dua setelah meduloblastoma. Pemberian radiasi pascaoperasi eksisi menimbulkan nekrosis tumor, sedang radiasi tanpa operasi dapat meremisi gejala serta pengecilan tumor.
      • Tumor ventrikel IV memiliki risiko lebih besar dibanding tumor supratentorial.
    TUMOR PLEKSUS KHOROID
    • Secara embriologis berasal dari lapisan ependimal tabung neural. Insiden meningkat pada penderita Von Recklinghausen. Gejala radiologist yang khas yaitu hipertrofi dan kalsifikasi pleksus khoroid. 
    • Ventrikel III dan IV merupakan predileksi lokasi pada kasus usia dewasa, sedang pada anak-anak di ventrikel lateral.
    • Patologi Anatomi
      • Makroskopis berupa massa dengan konsistensi lunak, vaskuler, ireguler mirip kembang kol, cenderung berbentuk sesuai contour ventrikel yang ditempati dan berekstensi melalui foramen dalam ventrikel lain sekitarnya atau rongga subarachnoid. Biasanya tumor ini tumbuh mendesak jaringan otak tetapi tidak menginvasi.
      • Hidrosefalus sering dijumpai kemungkinan karena hipersekresi produksi likuor, dan kadang menetap setelah tumor diangkat.
    • Presentasi klinis-Investigasi diagnostic
      • Berupa tanda peninggian tekanan intracranial tanpa disertai gejala neurologist fokal. Tumor intraventrikel IV kadang bergejala nistagmus dan ataksia.
      • Investigasi diagnostic denga CT scan.
    • Penanganan dan hasil terapi
      • Dilakukan pengangkatan tumor, kadang juga dilakukan tindakan pemasangan Ventrikel-peritoneal shunting sebelum dilakukan operasi definitf. 
      • Radiasi tidak berperan pada tumor ini.
    ADENOMA HIPOFISE
    • Merupakan satu-satunya adenoma primer asli dari kavitas cranial sehingga dikelompokkan dalam neoplasma epitel. Puncak distribusi pada umur 35-45 tahun. 
    • Klasifikasi berdasarkan histologis yaitu eosinifili pada akromegali (dipengaruhi oleh Growth hormone) dan basofilik terdapat pada Cushing syndrome (dipengaruhi oleh ACTH). Selain itu juga dapat menyebabkan prolaktinemia karena adenoma hipofise menghasilkan hormone prolaktin jika berlebihan. Panhipopituarism terjadi jika adenoma hipofise tidak berfungsi sama sekali.
    • Patologi Anatomi
      • Tumbuh ekspansif keluar dari fossa hipofise sehingga duramater dan dinding tulang terdesak ke samping bawah sampai sinus sphenoid, dan menekan khiasma dan saraf optic. Bila membesar dapat melibatkan arteri karotis, ke fosa frontal dan ke temporal. Biasanya dibungkus oleh kapsul liat dan mengadung kalsifikasi dan berwarna kecoklatan karena perdarahan intratumoral.
    • Presentasi klinis-Investigasi diagnostic
      • Gejala klinis karena hiper- atau hiposekresi dari hormone hipofise. Keluhan umumnya berupa gangguan penglihatan secara perlahan, nyeri kepala terutama pada wanita akromegali dan tidak memiliki korelasi dengan ukuran adenoma, pada funduskopi terdapat discus optic yang pucat, lapang pandang terganggu berupa hemianopsia bitemporal. Papiledema jarang dijumpai. Proptosis merupakan tanda stasis vaskuler di sinus kavernosus atau telah meluas dari fisura orbitalis superior. Kadang terdapat paresis otot ekstra okuler, terutama mengenai N.III.
      • Pemeriksaan neuroradiologis untuk membedakan dalam 4 stadium evolusi : mikroadenoma, adenoma dengan pembesaran sella-invasif local, adenoma destruktif, adenoma panivasif.
      • Gambaran foto polos menampilkan dasar sella yang ganda, dorsum sella menipis dan cekung pada garis tengah. CT scan hanya menampilkan adenoma yang telah berekstensi ke suprasellar.
    • Penanganan dan hasil terapi
      • Tujuannya yaitu dekomprasi struktuf saraf khususnya traktus penglihatan dan restorasi sekresi hormonal yang normal. 3 metode dasar terapi :
        • terapi operatif : ekstirpasi transkranial, ekstirpasi trasfenoidal (melalui sela tursika), destruksi stereotaksik
        • terapi radiasi : radiasi volatase tinggi perkutaneus, radiasi partikel berat, implantasi isotop stereotaksik, gamma knife surgery
        • terapi medikamentosa : bromokriptin pada prolaktinoma
      • Hasil terapi ditentukan oleh keadaan tumor, ukuran, dan sifat-sifat pertumbuhan sebelumnya.
    • Komplikasi pascatindakan antara lain :
      • operasi intra/transkranial : hematom intracranial, edema serebri, infeksi luka, meningitis, hidrosefalus, gangguan serebro-vaskuler, gangguan saraf otak, kejang, rinore likuor, gangguan personalitas.
      • Operasi transfenoidal : hemtom intra-/ekstra-selaar, rinore likuor, meningitis, gangguan saraf otak, sinusitis, rhinitis atrofik, kerusakan gigi.
      • Prosedur stereotaksik : perdarahan intratumoral, rinore likuor, meningitis, gangguan saraf otak.
      • Radioterapi : pembengkakan tumor (oprasi cito), nekrosis, radio hipotalamus, pituitary, n. optic.
      • Terapi medika mentosa : nausea, muntah, nyeri ulu hati.
    KRANIOFARINGIOMA 
    • Berasal dari bagian inferior kantong Rathke. Lebih sering terjadi pada anak-anak.
    • Patologi Anatomi
      • Merupakan tumor supraselar mengandung 2 kompunen yaitu padat dan kistik. Bagian padat merupakan massa dengan permukaan rata, lunak, berwarna abu kemerahan, sedangkan bagian kistik konsistensi dan warna tergantung dari ketebalan dindingnya. Adanya deposit kalsium menjadikan tumor mengeras.
    • Presentasi Klinis-Investigasi Diagnostik
      • Durasinya rata-rata 1 tahun. Regio supra sellar menyebabkan gejala deficit neurologist seperti gangguan penglihatan, gangguan endokrin, peninggian intracranial, gangguan psikiatri. Pertumbuhan ekstensif ke frontal atau lobus temporal dapat menimbulkan anosmia atau kejang, ke fossa posterior menyebabkan abnormalitas fungsi saraf otak IV, V, dan VI, traktus piramidalis dan serebelum. Keluhan tersering adalah nyeri kepala, gangguan penglihatan, muntah.
      • Tampilan radiologist pada foto polos tengkorak yaitu perubahan sella, adanya kalsifikasi tumor, pelebaran kanalis optikus, pelebaran sutura, digital marking pada tengkorak. Pada CT scan tampak sebagai massa yang bulat dan berlobul-lobul. Cairan kista memiliki densitas antara likuor dan karingan otak (sesuai dengan kandungan kristal di dalamnya).
    • Pengobatan dan hasil terapi
      • Dilakukan terapi operatif dengan approach melalui subfrontal, subtemporal, transfenoidal atau transvesikuler. Juga dapat dilakukan operasi total terutama pada anak-anak, tetapi dapat menyebabkan gangguan endokrin. 
      • Kombinasi terapi dan radiasi cukup berperan untuk memperpanjang survival dan menghambat tumbuhnya tumor rekuran, serta menekan produksi cairan kista.
    NEUROMA AKUSTIK / NEUROFIBROMA
    • Merupakan tumor otak primer di daerah sudut serebelo-pontin yang paling banyak dijumpai, dibentuk oleh sel Schwann sarung saraf otak VIII yang sebelumnya dikenal schwanomma, neurilemma, perineural fibro-blastoma. 
    • Umumnya tumbuh unilateral, usia rata-rata 47 tahun. Adanya kehamilan diduga mengakselerasi pertumbuhannya.
    • Patologi Anatomi
      • Makroskopis permukaan rata, berkapsul, noduler, berwarna abu kemerahan atau abu kekuningan. Konsistensinya dari keras dan fibrosa sampai kenyal-lunak, tergantung perubahan regresif terutama degenerasi lemak.
    • Presentasi klinis
      • Gejala awal yaitu gangguan pendengaran yang bertahap. Gejala lain : tinnitus, pusing, gangguan keseimbangan, rasa penuh di dalam telinga, nyeri kepala. Tumor yang besar dapat menimbulkan gejala diplopia, suara serak, kesulitan menelan, nyeri pada wajah, ataksia atau sindrom hidrosefalus normotensif.
      • Investigasi diagnostic awal ideal yaitu mencakup pemeriksaan auditory evoke response dan CT scan. Gambaran CT scan yaitu massa homogen hipodens padat bulat atau oval di daerah meatus akustikus internus dan kadang perluasannya ke kanalis auditorius.
    • Penanganan dan Hasil Terapi
      • Terapi standar yaitu dengan tindakan operasi mikro melalui pendekatan suboksipital-transmeatal, translabirin, suboksipital-translabirin, fossa media, fossa media-transtentorial-translabirin, subtemporal-transtentorial, yang disesuaikan dengan ukuran tumor, gejala audiologist dan gejala neurologist penderita.
      • Berdasarkan ukuran dan ekstensi kranialnya, tindakan operatif yaitu :
        • tumor kecil : neuironoma akustik intrakanalikuler atau hanya melibatkan n. VII dan VIII. Tindakan yang terpilih yaitu suboksipital-transmeatal atau translabirin.
        • Tumor medium : diameter 2-3 cm, sudah mulai menekan batang otak dan ada gejal n. V. Tindakan operasi yaitu suboksipital-transmeatal.
        • Tumor besar : berukuran lebih dari 3 cm, disertai hidrosefalus. Tndakan operasi yaitu suboksipital-transmeatal.
    OLIGOASTROCYTOMA
    • Oligoastrocytomas merupakan jenis tumor otak yang termasuk dalam Glioma yaitu tumor yang berasal dari sel-sel glial. Ada beberapa jenis glioma, yaitu seperti glioblastoma, Astrocytoma,Ependimoma. Oligoastrocytoma adalah tumor "glioma campuran" , yang berisi oligodendroglioma abnormal dan sel astrocytoma.
    • Tumor ini sering di temukan pada lobus frontal dan temporal otak, namun demikian tumor ini sebenarnya dapat di temukan di mana saja pada belahan otak., Oligoastrocytomas berkembang pada dewasa muda dan paruh baya (usia 30 sampai 50). Sangat sedikit anak yang didiagnosis dengan oligoastrocytoma
    • Diagnosa 
      • Diagnosadengan  CT-Scan  dan Magnetic Resonance Imaging (MRI) dapat di gunakan sebagai sarana untuk diagnosis, dimana akan nampak gambaran anatomi tumor, ukuran, lokasi atau letak tumor.  Pemeriksaan Histopatologik tumor (biopsi) merupakan sarana terbaik untuk mendiagnosa. Biopsi biasanya dilakukan pada tumor yang tidak dapat diakses untuk mengkonfirmasikan diagnosis dan menentukan grade tumor..
      • Oligoastrocytomas di bagi atas beberapa tingkatan atau kelas, Pada kelas II dianggap tumor yang jinak. Mereka umumnya tumbuh pada tingkat lebih lambat dari anaplastik oligoastrocytomas (kelas III), yang ganas. Oligoastrocytomas mungkin berkembang dari waktu ke oligoastrocytomas anaplastik.
    • Gejala yang paling umum dari oligoastrocytoma adalah kejang, sakit kepala, dan perubahan kepribadian. Gejala lain bervariasi sesuai lokasi dan ukuran tumor.
    • Pengobatan
      • Jika tumor dapat diakses, pengobatan standar untuk oligoastrocytoma adalah operasi pengangkatan sebanyak mungkin jaringan tumor.
      • Pengobatan kemoterapi juga dapat di pertimbangkan. Kemoterapi juga dapat digunakan pada bayi dan anak yang sangat muda untuk menunda terapi radiasi sampai pasien berusia lebih tua.
    OLIGODENDROGIOMA
    • Oligodendroglioma juga merupakan tumor dari jenis glioma yang diyakini berasal dari oligodendrocytes dari otak atau dari sel prekursor glial. Tumor ini dapat ditemukan di manapun dalam belahan otak, meskipun demikian lokasi yang paling umum di temukan ialah di lobus frontal dan temporal.
    • Oligodendroglioma dapat terjadi pada semua usia, termasuk anak-anak. Tumor ini lebih sering terjadi pada pria, dengan 35 sampai 40 tahun
    • Gejala klinis
      • Karena pertumbuhan tumor ini umumnya lambat, gejala oligodendrogliomas sering tidak di sadari dan baru ketahuan setelah di lakukan pemeriksaan. Gejala yang paling umum adalah kejang, sakit kepala yang biasanya di rasakan pada pagi hari, dan perubahan kepribadian. Gejala lain bervariasi sesuai lokasi dan ukuran tumor.
      • Tumor dari lobus frontal dapat menyebabkan kelemahan pada satu sisi tubuh, perubahan kepribadian atau perilaku, dan kesulitan dengan memori jangka pendek. Tumor lobus temporal biasanya "diam," menyebabkan sedikit gejala selain mungkin kejang atau masalah dalam komunikasi bahasa.
    • Diagnostik
      • CT_scan dan MRI merupakan sarana diagnostik untuk menentukan anatomi tumor, ukuran, dan lokasi, Walaupun demikian pemeriksaan histopatologik merupakan prosedur standar diagnostik untuk menentukan tumor dan mengevaluasi tingkat keganasan tumor.
      • Pada gambaran histopatologik, sel-sel tumor oligodendroglioma nampak seperi gambaran fried-egg shape, dimana berdasarkan derajatnya derajat III merupakan jenis tumor  Oligodendroglioma yang ganas.
    • Pengobatan
      • Pengobatan dapat di lakuakn dengan pembedahan, dimana apabila masih dapat diakses tumor tersebut, maka dapat di lakukan pengangkatan.
      • Jika tumor tersebut termasuk dalam stadium II, maka dapat di lakukan tindakan pengangkatan kemudian di lakukan radiasi. Tindakan radiasi dapat di lakukan setelah pengangkatan tumor.
      • Jika tumor termasuk dalam stadium III, maka pengobatan yang di tempuh dengan cara kombinasi antara radiasi dan kemoterapi.
    ATYPICAL TERATOID RHABOID TUMOR (ATRT)
    • ATRT merupakan tumor yang jarang dan terjadi  paling sering pada anak usia 3 tahun atau lebih muda. Tumor ini cenderung tumbuh cepat dan sering menyebar melalui sistem saraf pusat.
    • Lokasi tumor ini Sekitar setengah dari ATRTs ditemukan di otak kecil atau batang otak. Namun, mereka dapat muncul di mana saja di otak atau sumsum tulang belakang. 
    • Tumor ini merupakan tumor yang sangat ganas pada anak, dimana di katakan merupakan penyebab kematian dengan harapan hidup hanya 10%.
    • Gejala klinis
      • Gejala tergantung pada usia pasien, serta ukuran dan lokasi tumor. Gejala yang dirasakan dapat berupa sakit kepala yang di rasakan pada pagi hari setelah bangun tidur atau sakit kepala yang hilang setelah muntah dan mual, rasa mengantuk yang tidak biasa atau perubahan tingkat aktivitas, kehilangan keseimbangan, kurangnya koordinasi, atau kesulitan berjalan, dan ukuran kepala meningkat.
      • Jika tumornya menyebar ke tulang belakang maka akan timbul paraplegia dan perasaan yang abnormal pada kaki
    • Diagnosa penyakit
      • Diagnosis awal tumor dibuat dengan radiografi ( MRI atau CT -scan). Penggunaan MRI lebih baik karena selain memberikan gambaran yang terperinci lokasi tumor, MRI juga dapat mendeteksi metastase tumor. Karena tumor ini sering menyebar ke tulang belakang, maka MRI tulang belakang juga sering di lakukan. 
      • Sulit untuk diagnosis AT / RT hanya dari penelitian radiografi, biasanya ahli patologi harus melakukan analisis sitologi atau genetik dalam mendiagnosa tumor, selai itu Pemeriksaan cairan serebrospinal adalah penting sebab sepertiga pasien akan memiliki penyebaran intrakranial dengan keterlibatan dari cairan cerebrospinal (CSF). 
      • Pada gambaran histopatologik nampak Sel tumor besar, eksentrisitas inti dan nukleolus menonjol. Para jaringan tumor ini berisi berbagai jenis sel termasuk sel rhabdoid, sel spindled besar, epitel sel dan mesenchymal dan daerah menyerupai tumor primitif neuroectodermal (PNET).
    • Pengobatan
      • Pengobatan umumnya melibatkan operasi pengangkatan tumor diikuti dengan kemoterapi. Terapi radiasi dapat dipertimbangkan tergantung pada usia anak dan apakah tumor telah berulang.
    TUBEROUS SKLEROSIS
    • Gejala klinis berupa kelainan kulit, epilepsy, dan retardasi mental. Merupakan astrositoma dengan giant cell yang tidak lazim. Tumor ini berdegenerasi ke glioma maligna. Radioterapi tidak dianjurkan. Dapat bermetastasis ke organ lainnya seperti di hati, mepedu, ovarium, testis, tiroid, dan retina.
    • Tindakan operasi untuk menyingkirkan tumor intraventrikuler yang membesar dengan cara insisi transcallosal dan trasckotikal.
    HIPPEL - LINDAU DISEASE
    • Merupakan penyakit herediter dan timbul pada waktu dewasa, bahkan setelah memiliki anak. Manifestasi klinis yaitu hemangioblastoma serebelar merupakan yang tersering, biasanya berupa kistikdengan nodul dan menekan fossa posterior atau hidrosefalus. Lesi yang berhubungan yaitu angioma retinal, angioblastik meningioma, renal cell carcinoma, feokromositoma, glioma konus, siringomielia, ependimoma.
    • Diagnostik dengan CT scan, oftalmoskopi indirek dengan fluoresensi pada retinal angioma, juga harus di fotokoagulasi untuk mencegah hemorrhagic intraocular yang berat.
    • Terapi yaitu berupa operasi eksisional nodul.


    SEBELUMNYA
    KELANJUTANNYA

    cara diagnosa dan penatalaksanaan tumor otak

    DIAGNOSIS DAN PENGOBATAN TUMOR OTAK
    PENDAHULUAN
    Tumor disebabkan oleh mutasi DNA di dalam sel. Akumulasi dari mutasi-mutasi tersebut menyebabkan munculnya tumor. Sebenarnya sel kita memiliki mekanisme perbaikan DNA (DNA repair) dan mekanisme lainnya yang menyebabkan sel merusak dirinya dengan apoptosis jika kerusakan DNA sudah terlalu berat. Apoptosis adalah proses aktif kematian sel yang ditandai dengan pembelahan DNA kromosom, kondensasi kromatin, serta fragmentasi nukleus dan sel itu sendiri. Mutasi yang menekan gen untuk mekanisme tersebut biasanya dapat memicu terjadinya kanker.

    PROSEDUR DIAGNOSIS
    Menegakkan diagnosis tumor otak secara klinis tidaklah begitu sulit, terutama apabila penderita menunjukkan trias gejala, berupa nyeri kepala; muntah dan pada pemeriksaan didapatkan papil edema.

    Namun sering kali beberapa tumor otak, hanya menunjukkan gejala gangguan mental sebagai gejala permulaan. Setelah dilakukan anamnesis dan pemeriksaan fisik, masih diperlukan beberapa pemeriksaan tambahan, dimulai cara nontraumatik sampai yang traumatik.

    Diagnosa tumor otak ditegakkan berdasarkan pemeriksaan klinis dan pemeriksaan penunjang yaitu pemeriksaan radiologi dan patologi anatomi. Dengan pemeriksaan klinis kadang sulit menegakkan diagnosa tumor otak apalagi membedakan yang benigna dan yang maligna, karena gejala klinis yang ditemukan tergantung dari lokasi tumor, kecepatan pertumbuhan masa tumor dan cepatnya timbul gejala tekanan tinggi intrakranial serta efek dari masa tumor kejaringan otak yang dapat menyebabkan kompresi, infasi dan destruksi dari jaringan otak. Walaupun demikian ada beberapa jenis tumor yang mempunyai predileksi lokasi sehingga memberikan gejala yang spesifik dari tumor otak. Dengan pemeriksaan radiologi dan patologi anatomi hampir pasti dapat dibedakan tumor benigna dan maligna.
    • Anamnesis
      • Anamnesis merupakan suatu metode wawancara kepada pasien untuk memperoleh data-data dan keterangan medis pasien. Anamnesis dapat di tempuh dengan dua cara yaitu secara autoanamnesis dan secara alloanamnesis. Autoanamnesis merupakan cara memperoleh informasi data pasien langsung pada pasien tersebut, sedangkan alloanamnesis berarti informasi tersebut di dapatkan dari keluarga pasien atau orang yang mengantarkan pasien untuk mengadakan pemeriksaan, ini di lakuakn jika pasien tidak mampu berkomunikasi dengan pasien, misalnya pasien karena gangguan kesadaran ataupun pasien yang masih belum bisa berkomunikasi.
      • Pada anamnesis di peroleh keluhan utama pasien, keluhan tambahan yang di rasakan pasien, Riwayat penyakit sekarang dan riwayat penyakit dahulu, serta riwayat kesehatan keluarga.
      • Pada kasus tumor otak, hendaknya di tanyakan sesuai dengan gejala- gejala klinis dari tumor otak, sehingga dapat di tarik suatu diagnosis tumor otak.  Adanya gejala seperti Nyeri kepala, Muntah, Kejang, Gangguan mental, Pembesaran kepala, Papil edema, Sensasi abnormal di kepala, Nadi lambat dan tensi meningkat, Perubahan respirasi dan False localizing sign (gejala yang tidak semuanya berhubungan dengan gangguan fungsi pada tempat tumor tersebut, biasanya terlihat sebagai gejala fokal dari tempat-tempat yang jauh dari tumor itu sendiri) adalah hal-hal yang perlu di tanyakan
      • Informasi mengenai umur pasien dan jenis kelamin juga merupakan data yang penting, kebanyakan tumor di alami laki-laki. Tumor primer dari susunan saraf pusat yang berasal dari jaringan embrional banyak dijumpai pada umur di bawah 10 tahun, dan jenis tumor lain berkisar antara umur 20 - 60 tahun. Sedangkan tumor metastasis otak sebagian besar terdapat pada umur 40 - 70 tahun
    • X-foto tengkorak
      • Pemeriksaan ini dapat memperlihatkan :
        • Kalsifikasi intrakranial :
          • Pada tumor otak kira-kira 10% mengalami kalsifikasi.
          • Insidensi kalsifikasi tertinggi terjadi pada Kraniofaringioma dan Oligodendroglioma.
        • Displacement calcified pineal gland :
          • Glandula pineale sering mengalami kalsifikasi pada orang dewasa berupa suatu struktur di garis tengah yang tidak akan berpindah ke lateral lebih dari 3 mm pada gambaran foto tengkorak AP. Pergeseran lebih dari 3 mm sebagai indikasi adanya tumor otak.
        • Tanda-tanda tekanan intra kranial yang meningkat :
          • Tanda paling dini dari kenaikan tekanan intrakranial adalah dekalsifikasi prosessus klinoideus posterior, dilanjutkan dengan perubahan yang serupa di lantai dorsum sella tursika. Pada jangka waktu yang lama, keadaan ini dapat mengakibatkan lantai dorsum sella mengembung, hilang atau rusak. Juga dapat disebabkan karena ekspansi adenoma hipofise atau tumor-tumor disekitar sella tursika.
          • Impresio digiti.
          • Pelebaran sutura pada anak-anak.
        • Pembentukan tulang baru (Hyperostosis) :
          • Pada meningioma kira-kira 40% memperlihatkan gambaran hiperostosis, terutama didaerah pterion, tuberkulum sella, serebelepontin dan fosa kranii media. Sedangkan tumor jenis lain sering pada daerah dasar tengkorak.
        • Destruksi tulang :
          • Kira-kira 10% meningioma menunjukkan penipisan tulang. Dapat disebabkan karena infiltrasi tumor pada tulang atau karena erosi tulang disebabkan tekanan dari tumor yang tumbuh perlahan-lahan.
          • Kista epidermoid kadang-kadang dapat ditunjukkan dengan adanya area yang mengalami destruksi.
    • X-foto toraks
      • Banyak tumor metastase otak berhubungan dengan adanya lesi primer di paru.
    • "Computerized Tomography,Scan" (CT scan)  dan MRI
      • Merupakan pemeriksaan yang nontraumatik dan dapat mendeteksi adanya tumor otak kira-kira 95%. CT scan dan MRI memperlihatkan semua tumor intrakranial dan menjadi prosedur investigasi awal ketika penderita menunjukkan gejala yang progresif atau tanda-tanda penyakit otak yang difus atau fokal, atau salah satu tanda spesifik dari sindrom atau gejala-gejala tumor
      • CT Scan merupakan alat diagnostik yang penting dalam evaluasi pasen yang diduga menderita tumor otak. Sensitifitas CT Scan untuk mendeteksi tumor yang berpenampang kurang dari 1 cm dan terletak pada basis kranil. 
      • Gambaran CT Scan pada tumor otak, umumnya tampak sebagai lesi abnormal berupa massa yang mendorong struktur otak disekitarnya. Biasanya tumor otak dikelilingi jaringan udem yang terlihat jelas karena densitasnya lebih rendah. Adanya kalsifikasi, perdarahan atau invasi mudah dibedakan dengan jaringan sekitarnya karena sifatnya yang hiperdens. Beberapa jenis tumor akan terlihat lebih nyata bila pada waktu pemeriksaan CT Scan disertai dengan pemberian zat kontras.
      • Penilaian CT Scan pada tumor otak: 
        • Tanda proses desak ruang yaitu adanya pendorongan struktur garis tengah dan penekanan dan perubahan bentuk ventrikel
        • Kelainan densitas pada lesi: nampak hipodens hiperdens atau kombinasi 
        • kalsifikasi dan perdarahan: Memperlihatkan  Udem perifokal
      • Dibandingkan dengan MRI, rincian tepat dari jaringan lunak (terutama otak, termasuk proses penyakit) kurang terlihat pada CT scan . CT tidak sensitif dalam mendeteksi peradangan dari meninges yaitu selaput yang menutupi otak.
      • MRI umumnya lebih berguna karena memberikan informasi lebih rinci tentang tumor, posisi, jenis dan ukuran. Untuk alasan ini, MRI adalah studi pencitraan yang merupakan pilihan untuk diagnostik, selain itu MRI juga berfungsi untuk memantau pengobatan dan hasil operasi.
    • "Electroencephalography" (EEG) :
      • Tumor pada hemisfer serebri, sering memberi gambaran EEG abnormal pada 75 - 85% kasus. Sedangkan tumor pada fosa posterior sering tidak memberikan kelainan EEG. Tumor otak sendiri tidak memberi aktifitas listrik abnormal. Hanya neuron-neuron yang membuat ini dan neuron-neuron pada daerah dekat tumor menjadi abnormal sedemikian rupa sehingga "hypersynchronisation" dari pelepasanpelepasan listrik dari beribu-ribu atau berjuta-juta sel saraf membentuk gelombang lambat atau gelombang runcing (spike) pada EEG. Mungkin tumor ini memberi kelainan metabolik neuron-neuron didekatnya, dengan tekanan langsung tumor, edema atau dengan merusak enervasi darahnya. Edema serebri mungkin adalah mekanisme yang paling penting.
    • Lumbal pungsi (LP) :
      • Penggunaan LP untuk metidiagnosis adanya tumor otak, sudah banyak ditinggalkan. Lagi pula cara ini harus dikerjakan pada indikasi yang tepat. L.P. masih tetap digunakan pada dugaan adanya meningeal carcinomatosis, granuloma kronis atau adanya dugaan proses desak ruang yang dengan pemeriksaan CT scan negatip.
    • Arteriografi :
      • Dewasa ini pemeriksaan CT scan telah mendesak arteriografi. Arteriografi dapat memberikan tambahan dimensi tumor otak dan serial arteriografi dapat membantu menggambarkan mengenai blood supply dari tumor.
      • Tumor dari kelompok meningioma biasanya sangat vaskuler (banyak pembuluh darah) dan sering menimbulkan pembesaran pada pembuluh darah arteri yang diinervasi. Gambaran yang khas pada meningioma adalah adanya pembuluh darah yang menginervasi tumor oleh cabang-cabang dari sistim karotis eksterna. 
      • Arteriografi juga membantu adanya dugaan proses tumor di fosa posterior, tumor kecil di batang otak atau neurilemmoma akustikus yang tidak tampak pada CT scan.
    • Pneumoensefalografi dan Ventrikulografi :
      • Dapat menunjukkan paling jelas tumor intra ventrikuler dan tumor yang letaknya dalam dekat pada ventrikel, atau mengadakan invasi pada struktur di garis tengah (invading mid line structures).
    • Biopsi
      • Diagnosis definitif dari tumor otak hanya bisa dikonfirmasi dengan pemeriksaan histologis sampel jaringan tumor diperoleh baik dengan cara biopsi otak atau operasi terbuka. 
      • Pemeriksaan histologis sangat penting untuk menentukan perawatan yang tepat dan prognosis yang benar. 
      • Biopsi dapat dilakukan sebagai bagian dari operasi untuk mengangkat tumor, atau sebagai prosedur terpisah. Ada Tiga jenis biopsi sering dilakukan pada pasien dengan tumor otak yaitu
        • Needle Biopsi: Sebuah potongan kecil dibuat dan sebuah lubang kecil, yang disebut lubang duri, yang dibor di tengkorak. Sebuah jarum, sempit berongga dimasukkan melalui lubang, dan jaringan tumor akan dihapus dari inti jarum. Dokter bedah kemudian mengirimkan jaringan tumor ke ahli patologi untuk penelitian dan review.
        • Stereotactic biopsy: Prosedur yang sama seperti biopsi jarum, tetapi dilakukan dengan sistem bimbingan dengan bantuan komputer yang membantu di lokasi dan diagnosis tumor. Komputer, dengan menggunakan informasi dari CT atau MRI scan, menyediakan informasi yang tepat tentang lokasi tumor dan posisinya relatif terhadap banyak struktur dalam otak. Peralatan Stereotactically dipandu mungkin dipindahkan ke dalam lubang duri untuk menghapus sampel tumor. Dokter bedah kemudian mengirimkan sampel tumor ke ahli patologi untuk penelitian dan review. Ini juga disebut biopsi tertutup.
        • Open Biopsi: Sampel jaringan diambil selama operasi sementara tumor yang terbuka. Dokter bedah kemudian mengirimkan sampel ke ahli patologi untuk penelitian dan review.
      • Pemeriksaan ini, dilakukan oleh ahli patologi, biasanya memiliki tiga tahap: pemeriksaan interoperative jaringan segar, pemeriksaan mikroskopik jaringan awal disiapkan, dan pemeriksaan tindak lanjut dari jaringan dipersiapkan setelah pewarnaan imunohistokimia atau analisis genetik.
    • Pemeriksaan Genetic Profiles
      • Profil genetik, atau profil DNA, adalah tes laboratorium yang digunakan untuk menentukan fitur spesifik DNA Anda. Ini adalah prosedur yang relatif baru yang dapat memberikan dokter berbagai informasi yang sangat rinci tentang tumor. Informasi ini dapat digunakan untuk pengobatan dan tindakan khusus terhadap tumor otak. 
      • Profil genetik memberikan informasi dokter anda tentang tumor Anda. Informasi ini dapat membantu dia untuk memilih pengobatan terbaik untuk Anda.
      • Dari perspektif pasien, profil genetik relatif sederhana. Seorang perawat akan mengambil sampel darah Anda, yang akan dikirim ke laboratorium untuk dianalisis. Sesudah pengujian, laboratorium akan mengirimkan hasilnya ke dokter. Dokter akan menentukan program studi Anda pengobatan berdasarkan hasil
    • Pemeriksaan Audiometry:
      • Tes pendengaran yang berguna dalam diagnosis tumor sudut cerebellopontine seperti schwannoma vestibular (neuroma akustik). Biasanya tumor pada daerah ini akan menyebabkan gangguan pendengaran dan di sertai ganguan verigo.

    PENENTUAN TUMOR OTAK GANAS DAN JINAK
    Sifat-sifat keganasan tumor otak didasari oleh morfologi makroskopis dan histologis neoplasma, dikelompokkan :
    • Benign (jinak) : 
      • makroskopis menunjukkan batas yang jelas, tidak infiltratif, dan hanya mendesak organ-organ sekitarnya, biasanya dijumpai pembentukan kapsul serta tidak adanya metastasis maupun rekurensi setelah dilakukan pengangkatan total. 
      • Histologis menunjukkan struktur sel yang regular, pertumbuhan lambat tanpa mitosis, dentsitas sel yang rendah dengan diferensiasi struktur yang jelas parenkim, stroma yang tersusun teratur tanpa adanya formasi baru
    • Maligna (ganas) : 
      • makroskopis yang infiltratif atau ekspansi destruktif tanpa batas yang jelas, tumbuh cepat serta cenderung membentuk metastasis dan rekurensi pasca-pengangkatan total. 
      • Histologis menunjukkan meningkatnya selularitas, pleomorfisme, walaupun susunan sel dan jaringan masih baik, diferensiasi sel kurang begitu jelas, disproporsi rasio nucleus terhadap sitoplasma, multinukleus, formasi sel-sel raksasa, tumbuh cepat dengan mitosis yang banyak, area nekrosis, pertumbuhan patologis dan neoformasi terutama seperti bentuk-bentuk fistula atau sinusoidal (pintas arteri-vena)
    Yang menjadi kriteria keganasan klinis tumor otak adalah tampilan tingkah laku yang diinduksi serta diperankan oleh :
    • volume efektif tumor (termasuk edema sekelilingnya)\
    • efek massa yang ada (termasuk herniasi)
    • keterlibatan dengan aliran likuor (hidrosefalus)
    • keterlibatan arteri (infark)
    • keterlibatan pusat-pusat vital (hipotalamus, batang otak)
    Umumnya kasus tumor otak merupakan manifestasi dari peninggian intrakranial, sebaliknya gejala neurologist yang bersifat progresif, walaupun tidak jelas ada tanda-tanda peninggian intrakranial, perlu dicurigai adanya tumor otak.

    PENGOBATAN
    Pemilihan jenis terapi pada tumor otak tergantung pada beberapa faktor, antara lain: kondisi umum penderita, tersedianya alat yang lengkap, pengertian penderita dan keluarganya, dan luasnya metastasis.
    Pengobatan tumor otak pada umumnya membutuhkan intervensi dari bidang bedah saraf. Makin dini diagnosa ditegakkan dan makin mudah dicapai lesinya, makin baik hasilnya.

    Pada prinsipnya pengobatan meliputi pengelolaan/penurunan dari tekanan intrakranial, tindakan operatif, pemberian radiasi dan obat-obat khemoterapi.
    • Pengelolaan/penurunan dari tekanan intrakranial
      • Penggunaan Steroid secara dramatis dapat mengurangi edema sekeliling tumor intrakranial, namun tidak berefek langsung terhadap tumor.
    • Tindakan operatif
      • Pembedahan dilaksanakan untuk menegakkan diagnosis histologik dan untuk mengurangi efek akibat massa tumor. Kecuali pada tipe-tipe tumor tertentu yang tidak dapat direseksi. 
      • Pembedahan pada tumor otak bertujuan utama untuk melakukan dekompresi dengan cara mereduksi efek masa sebagai upaya menyelamatkan nyawa serta memperoleh efek paliasi. 
      • Dengan pengambilan massa tumor sebanyak mungkin diharapkan pula jaringan hipoksik akan terikut serta sehingga akan diperoleh efek radiasi yang optimal. Diperolehnya banyak jaringan tumor akan memudahkan evaluasi histopatologik, sehingga diagnosis patologi anatomi diharapkan akan menjadi lebih sempurna.
      • Berbagai studi melaporkan bahwa dengan tindakan reseksi komplit akan diperoleh ketahanan hidup yang makin lama, perbaikan pada defek neurologis yang lebih nyata. 
      • Peningkatan kemampuan ahlibedah saraf untuk melakukan pengangkatan total tumor menjadi lebih baik dengan kemajuan teknologi terutama di bidang pencitraan. Dikalangan neuro-onkologi telah disepakati semua tumor otak primer dilakukan upaya pengambilan jaringan otak secara kraniotomi ataupun stereotacticneedle biopsy. 
      • Kraniotomi dilakukan guna mengeluarkan jaringan tumor sebanyak-banyaknya kemudian dilakukan radioterapi tanpa/dengan kombinasi kemoterapi dosis rendah dan dilanjutkan dengan dosis penuh.
    • Radioterapi
      • Tumor diterapi melalui radioterapi konvensional dengan radiasi totalsebesar 5000-6000 cGy tiap fraksi dalam beberapa arah. Kegunaan dari radioterapi hiperfraksi ini didasarkan pada alasan bahwa sel-sel normal lebih mampu memperbaiki kerusakan subletal dibandingkan sel-sel tumor dengan dosis tersebut. Radioterapi akan lebih efisien jika dikombinasikan dengan kemoterapi intensif.
      • Radioterapi merupakan salah satu modalitas penting dalam penatalaksanaan proses keganasan. Berbagai penelitian klinis telah membuktikan bahwa modalitas terapi pembedahan akan memberikan hasil yang lebih optimal jika diberikan kombinasi terapi dengan kemoterapi dan radioterapi.
      • Sifat dan lokasi tumor otak seringkali menimbulkan proses desak ruang yang akan meningkatkan tekananintrakranial, terlebih pada kasus metastasis tumor ganas pada intrakranial akancepat menimbulkan edema serebri yang akan memperburuk tekanan intrakranial.
      • Sebagian besar tumor otak bersifat radioresponsif (moderately sensitive),sehingga pada tumor dengan ukuran terbatas pemberian dosis tinggi radiasi diharapkan dapat mengeradikasi semua sel tumor. Namun demikian pemberian dosis ini dibatasi oleh toleransi jaringan sehat disekitarnya. Semakin dikit jaringan sehat yang terkena maka makin tinggi dosis yang diberikan. Guna menyiasati hal ini maka diperlukan metode serta teknik pemberian radiasi dengan tingkat presisi yang tinggi.
      • Perencanaan radiasi seperti 3-dimensional conformal theraphy, penggunaan multi leaf collimators dan IMRT (Intensity Modulated Radiation Therapy) merupakan metode radiasi yang saat ini digunakan dan masih terus dikembangkan. 
      • Stereotactic Radiosurgery (SRS) merupakan metode radiasi yang bertujuan untuk memberikan dosis radiasi setinggi mungkin pada lesi jaringan otak dengan meminimalkan dosis yang diterima oleh jaringan sehat sekitar tumor. Digunakan alat leksel gamma knife yang menggunakan sumber radiasi Cobalt-60. metoderadiasi lain menggunakan sumber radiasi sinar X pada alat Linier accelerator (Stereotactic Radiotheraphy, SRT). Selain berbeda pada sumber, metode pemberiannya juga berbeda. Pada SRS radiasi diberikan dalam fraksi tunggal mengingat perencanaan dan pelaksanaannya yang lebih rumit, hal ini berbeda dengan SRT dimana radiasi dapat diberikan dalam beberapa fraksi. Baik SRS maupun SRT, berkombinasi dengan radiasi eksterna seluruh otak, terbukti memberikan hasil yang efektif. Sebanyak 94% dan 73% tumor terkontrol pada bulan ke-13 dan 26. Disamping tumor otak SRS dilaporkan juga memberikan hasil yang baik dibandingkan dengan microsurgery pada kasus neuroma akustikus dalam hal timbulnya neuropati fasial dan trigeminus, lama perawatan, gangguan pendengaran serta kekambuhan. Lesi non maligna intrakranial lain yang tercatat dapat memberikan hasil pengobatan yang baik adalah arterio venous malvormation (AVM).
      • Intensity Modulated Radiation Therapy (IMRT) merupakan pengembangan metode konformal yang menjamin akurasi radiasi. Di negara maju penggunaan peralatan ini sudah merupakan hal yang biasa namun karena penggunaannya belum lama maka pelaporan yang dipublikasikan belum banyak dan masih kontroversi. Sebagai pengembangan IMRT saat ini telah beredar dipasaran peralatan cyberknife, sebuah alat dengan dasar kerja kombinasi antara teknologi robotik dengan radiasi
    • Kemoterapi
      • Jika tumor tersebut tidak dapat disembuhkan dengan pembedahan, kemoterapi tetap diperlukan sebagai terapi tambahan dengan metode yang beragam. Pada tumor-tumor tertentu seperti meduloblastoma dan astrositoma stadium tinggi yang meluas ke batang otak, terapi tambahan berupa kemoterapi dan regimen radioterapi dapat membantu sebagai terapi paliatif. 
      • Terapi lain berupa terapi Kombinasi radio-kemoterapi mulai dikembangkan. Peningkatan ketahanan hidup selama 1 tahun sebanyak 10% dan 2 tahun sebanyak 8,6%. Nitrosourea (BCNU) merupakan regimen yang paling efektif

    PROGNOSIS
    • Pada umumnya prognosis ditentukan oleh faktor keganasan dan lokalisasi dari tumor otak.
    • Makin ganas jenis tumor seperti glioblastoma atau meduloblastoma prognosisnya makin buruk dan tidak tergantung dari letak tumor. Sebaliknya tumor-tumor yang timbulnya perlahan seperti meningioma, relatif memberikan prognosis yang lebih baik. Disamping itu, tumor-tumor yang terletak di bagian yang sukar dicapai akan memberikan prognosis yang kurang baik. Demikian juga dengan tumor-tumor metastasis akan memberikan prognosis yang jelek.




    1. Ausman JI. Intracranial neoplasms. In : Baker AB & Bakker LB. Rived ed. Vol I Chap Clinical neurology. Philadelphia: Harper and Row Publ. 1981; pp. 6 - 103.
    2. Chusid JG. Correlative neuroanatomy and functional neurology 17thed. Mauzen Asia (ptc) Ltd, 1979.
    3. De Jong RN. The Neurologic Examination 4thed. Hagertown, Maryland, New York, London : Harper Row Publ. 1979.
    4. Gilroy J and Meyer IS. Tumor of the central nervous system. In: Medical Neurology 2nded., Mac Milian Pub Co, 1975; pp. 591 - 645.
    5. Merrit HH. Tumors in a Textbook of Neurology. 5thEd. Tokyo: Igaku Shoin Ltd 1973; pp. 377 - 388.
    6. Smelltzer, Suzanne C dan Brenda G. Bare. 2001. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Brunner dan Suddarth Volume 3. Jakarta : EGC
    7. Djoko W, L :Ilmu Bedah Syaraf Satyanegara edisi 3, Jakarta : Gramedia Pustaka Utama, 1998.
    8. Lindsay KW, Bone I, Callander R. Neurology and Neurosurgery Ilustrated. Oxford: ELBS. 1991. p298,301.

    Kuku : Kelainan pada dasar dan lipatan kuku

    KELAINAN DASAR DAN LIPATAN PADA KUKU

    STRUKTUR ANATOMY  DASAR DAN LIPAT KUKU
    • Dasar kuku (Nail bed)
      • Dasar kuku merupakan bagian kulit yang ditutupi kuku, yaitu dari batas lunula sampai ke hiponichium. Sebagian sel epidermis dasar kuku menyatu dengan lempeng kuku, yaitu bagian ventral lempeng kuku. Pada dasar kuku yang matur tidak terdapat granula keratohialin, tetapi pada beberapa keadaan patologis dasar kuku menunjukkan lapisan granular, dan terdapat produksi stratum korneum yang sama dengan epidermis normal. Produksi sel-sel tanduk dalam keadaan seperti ini dapat mendorong lempeng kuku ke atas.
    • Lipat kuku
      • Lipat kuku proksimal dan lateral merupakan batas dan pelindung struktur dan menolong arah pertumbuhan kuku. Lipat kuku proksimal merupakan perluasan dari epidermis pada dorsum kuku yang melindungi matriks dan kutikula adalah produk keratinnya. Struktur ini sangat panting, karena penyakit kuku yang terbanyak, paronikia kronik, terutama mengenai daerah ini. 
      • Lipat kuku terdiri dari dua lapis epidermis yaitu bagian dorsal, yang membentuk dorsal epidermis jari dan bagian ventral yang menutupi lempeng kuku yang baru dibentuk. Proses keratinisasi tidak berbeda dengan epidermis di tempat lain. Lapisan tanduk bagian ventral menjadi melekat dengan permukaan lempeng kuku yang baru dibentuk dan bergerak ke distal untuk jarak pendek. Lapisan tanduk ini disebut kutikula. Penyakit yang mengenai lipat kuku proksimal mempengaruhi lempeng kuku yang baru dibentuk.
    • Struktur subkutan
      • Dermis pada apendiks kuku dibatasi oleh falang di bawahnya, dan tidak terdapat jaringan subkutis. Dermis dan epidermis dasar kuku bersatu dengan gambaran tongue in groove. 
      • Daerah dermis ini mengandung banyak kapiler yang memberi wama pink, serta badan glomus. Darah dialirkan dari arteri digitalis yang mempunyai banyak cabang dorsal, ventral dan cabang untuk lipat kuku proksimal. 
      • Bagian distal membentuk rantingranting proksimal dan distal yang memberi makan pulpa, dasar kuku dan hiponikium. Jalannya saraf sesuai dengan pembuluh darah.

    KELAINAN PADA DASAR DAN LIPAT KUKU
    Kelainan pada dasar dan lipat kuku dapat dibagi menjadi:
    1. Kelainan pada lipat kuku
    2. Kelainan pada dasar kuku
    3. Kelainan lain yang dapat terjadi pada dasar dan lipat kuku:
      • Kelainan yang berhubungan dengan penyakit kulit
      • Kelainan yang berhubungan dengan penyakit sistemik
      • Clubbing
      • Kelainan pigmentasi
      • Penyakit herediter/kongenital
      • Tumor
      • Trauma

    KELAINAN PADA LIPAT KUKU
    Kelainan yang sering terjadi pada lipat kuku adalah paronikia.


    Paronikia
    • Lipat kuku dapat terkena infeksi, antara lain oleh bakteri, jamur ataupun yang lainnya. Gambaran klinis paronikia adalah merah, bengkak, dapat terjadi akumulasi Pus dan pemisahan lipat kuku dari lempeng kuku, sehingga meninibulkan ruangan yang tidak ada pada kuku normal.
    • Beberapa penulis membagi paronikia menjadi paronikia akut dan paronikia kronik.
      • Paronikia akut
      • gif animator
        paranoika akut
        • Paronikia akut merupakan keluhan yang sering terjadi dan biasanya disebabkan oleh stafilokokus. 
        • Keadaan ini dapat didahului oleh trauma lokal, misalnya kuku pecah, atau menggigit kuku, atau dapat pula terjadi tanpa trauma pendahuluan. Juga sering terjadi sebagai komplikasi paronikia kronik, bila terkena organisme lain, termasuk streptokokus, Pseudomonas pyocyaneaceae, organisme koliform dan Proteus vulgaris. 
        • Gejalanya adalah bengkak yang nyeri pada lipat kuku dan dapat mengeluarkan pus. 
        • Bila letaknya cukup superfisial,'dapat dengan mudah didrainase melalui insisi dengan menggunakan skalpel yang tajam, tanpa anestesi. 
        • Lesi yang lebih dalam paling baik diobati dengan antibiotika dulu, tetapi bila tidak cepat membaik, diperlukan insisi dengan anestesi. 
        • Beberapa pengarang menganjurkan pengangkatan sepertiga lempeng kuku untuk menambah drainase dan mempercepat penyembuhan.
      • Paronikia kronik
      • gif maker
        paranoika kronis
        • Ini merupakan satu dari keluhan kuku tersering yang ditemui pada praktek dermatologi.
        • Paronikia kronik sering terjadi pada orang yang tangannya banyak terkena air, terutama orang-orang dengan tangan yang dingin. Sering terjadi pada orang yang diabetik. Lebih sering pada wanita dari pada pria. Dapat timbul pada umur berapa saja, tetapi kasus tersering adalah antara 30 sampai 60 tahun. Kadang-kadang terlihat pada anak-anak, terutama akibat pengisapan jari atau jempol. Merupakan penyakit yang dominan pada ibu-ibu rumah tangga dan orang yang mempunyai pekerjaan tertentu seperti juru masak, pelayan bar, pedagang ikan.
        • Gejala dimulai sebagai pembengkakan ringan, jauh lebih ringan daripada paronikia akut. Kutikula dapat hilang dan pus dapat terbentuk di bawah lipat kuku. Keadaan ini biasanya disebabkan oleh infeksi Candida albicans.
        • Eksaserbasi akut dapat terjadi dan biasanya disebabkan oleh infeksi bakteri sekunder. Berbagai organisme dapat ditemukan, termasuk Stafilokokus aureus atau albus, Proteus vulgaris, Escherichia coli dan Pseudomonas pyocyanea. Pada kasus yang lama ukuran kuku dapat berkurang dan kesan ini diperbesar oleh pembesaran lipat kuku.
        • Bagian yang sangat penting pada pengobatan paronikia kronik adalah menjaga agar tangan tetap kering. Untuk pekerjaan yang banyak berhubungan dengan air, pasien dianjurkan untuk memakai sarung tangan karet. Dapat digunakan timol 2-4%, atau alkohol 95% untuk meningkatkan kekeringan.
        • Anti jamur topikal seperti him mikonasol, klotrimasol, nistatin atau amfoterisin B sebaiknya diberikan. Barlow dkk menganjurkan penggunaan antibiotika topikal pada siang hari dan anti jamur topikal pada malam hari.
        • Bila lebih parah dianjurkan memberikan eritromisin per oral, karena mereka selalu menemukan stafilokok patologik yang sensitif terhadap antibiotik ini pada keadaan ini. 
        • Norton menganjurkan untuk mencoba memberikan ketokonasol oral bila terapi antijamur topikal tidak memberikan hasil yang baik. Pada pasien dengan tangan dingin, dianjurkan untuk memberikan vasodilator.

    KELAINAN PADA DASAR KUKU
    Dua macam kelainan yang sering terjadi pada dasar kuku adalah onikolisis dan perdarahan.

    Onikolisis
    • Onikolisis merupakan pemisahan lempeng kuku dari dasar kuku. Bila seluruh kuku terpisah, disebut onikomadesis.
    • Mekanisme pemisahan lempeng kuku belum diketahui, tetapi berhubungan dengan banyak penyakit dan keadaan. Daerah yang terpisah berwama pucat disebabkan karena kehilangan refleksi cahaya dari dasar kuku. 
    • Baran membedakan onikolisis sebagai onikolisis idiopatik dan onikolisis sekunder.
      • Onikolisis idiopatik merupakan pelepasan lempeng kuku dari dasar kuku yang tidak nyeri, yang timbul tanpa sebab yang jelas.
      • Onikolisis sekunder
      • How to make a gif
        Gambar onikolisis, tampak
        warna putih memperlihatkan
        pemisahan lempeng kuku
        dari dasar kuku
        • Banyak keadaan yang dapat menyebabkan onikolisis, merupakan satu dari gejala kuku, yang tersering terjadi. Penyebab onikolisis ini dapat dikelompokkan sebagai berikut:
          1. Kelainan dennatologik : psoriasis, infeksi jamur, dermatitis
          2. Penyakit sistemik : gangguan sirkulasi, hipertiroidism, yellow nail syndrome
          3. Trauma : trauma minor, kasus karena kerja kimiawi : kosmetik kuku, fluorourasil 5% topikal pada ujung jari.
          4. Obat.
        • Pengobatan
          • Pasien dianjurkan untuk memotong sebanyak mungkin kuku yang lepas dan memberi sulfasetamid 15% dalam alkohol 50% atau preparat steroid topikal yang mengandung antibiotik dan nistatin pada dasar kuku dua atau tiga kali sehari, atau menggunakan mikonasol hidrokonison him. Perlekatan kembali lambat dan kuku yang terlepas harus dipotong kembali beberapa kali bila perlu. 
          • Tujuan pengobatan adalah untuk mencegah infeksi menjadi menetap di bawah kuku yang terlepas, karena ini menyebabkan penebalan dasar kuku dan mencegah perlekatan kembali. Timol 4% dalam khloroform dianjurkan untuk mencegah infeksi dan maserasi lebih lanjut dari dasar kuku, tetapi sering pula diberikan timol 2%, selama pasien dapat mentolerir, dan biasanya efektif.
    Perdarahan
    • Perdarahan pada kuku umumnya timbul setelah trauma pada daerah kuku; ukuran dan bentuknya, seperti yang terlihat pada kuku tergantung lokasi dan besarnya perdarahan. 
    • Perdarahan ke dalam dasar kuku dapat tampak sebagai splinter hemorrhages atau sebagai hematoma yang Was dan nyeri.
    • Splinter hemorrhages adalah tanda unik yang timbul hanya pada dasar kuku dan terbentuk akibat hubungan struktur epidermal-dermal pada dasar kuku. Pada dasar kuku rigi epidermal adalah rigi longitudinal yang cocok dengan tongueingroove fashion dengan yang dari epidermis. Dalam rigi dermal inilah perdarahan kecil timbul, seringkali mengenai dua atau tiga rigi, dan memberi gambaran longitudinal tampak seperti pecah (splinter). Bagian dari perdarahan yang tinggal di dermis di reabsorbsi, sedang bagian di epidermis atau di lapisan tanduk kemudian melekat pada lempeng kuku, dan bergerak ke distal dengannya.
    • Penyebab yang tersering adalah trauma minor, selain itu splinter haemorrhages juga sering timbul pada berbagai penyakit sistemik, termasuk endokarditis bakterialis subakuta, rheumatoid arthritis yang berat, stenosis mitral, ulserasi peptik, hipertensi dan neoplasma maligna. Dalam praktek dermatologi, sering ditemukan berhubungan dengan psoriasis, dermatitis, dan infeksi jamur pada kuku.
    • Pada hematoma yang besar, dapat menimbulkan rasa nyeri. Nyeri yang timbul pada hematoma ini mungkin dapat dikurangi dengan menusuk lempeng kuku dengan alat yang tajam, kauter atau bor kecil.

    KELAINAN LAIN YANG DAPAT TERJADI PADA DASAR DAN LIPAT KUKU



    Kelainan yang berhubungan dengan penyakit kulit
    • Psoriasis
    • gif maker
      psoriasis pada kuku
      • Perubahan kuku sering terjadi pada psoriasis. Kelainan yang sering terjadi adalah pitting, onikolisis dan perubahan warna serta penebalan subungual dan kelainan lain pada lempeng kuku.
      • Onikolisis (distal atau lateral) yang timbul merupakan akibat lesi psoriatik yang timbul pada hiponychium dan bagian distal dasar kuku. Penebalan subungual adalah akibat lesi psoriatik yang mengenai hiponychium dan bagian distal dasar kuku dalam waktu yang lebih lama daripada onikolisis, menyebabkan penebalan lapisan tanduk di bawah lempeng kuku.
      • Pengobatan psoriasis kuku biasanya ditujukan pada pengobatan psoriasis kulit. Bersihnya psoriasis generalisata biasanya diikuti dengan penyembuhan yang terlambat dari kuku. 
      • Pengobatan psoriasis dengan metotreksat biasanya membawa penyembuhan pada kuku. Ada tenggang waktu dari saat obat diberikan sampai suatu kuku baru yang normal terlihat tumbuh dari bawah lipat kuku proksimal. 
      • Terapi PUVA mungkin dapat berguna. Aplikasi kortikosteroid potensi kuat secara topikal dengan oklusi dapat ditambahkan. Suntikan lokal pada matriks kuku dan/atau dasar kuku dengan jarum atau Dermojet dapat menolong. Untuk prosedur ini dipakai triamsinolon yang diencerkan dengan NaCl normal sampai konsentrasi 5mg/ml. Ditentukan daerah yang paling banyak terkena, dan 0,1 ml solutio dusintikkan dalam 2 atau 3 daerah terpisah pada interval 3 sampai 4 minggu. Ada yang berpendapat bahwa pengobatan ini tidak untuk penggunaan rutin, karena bagaimanapun ada kemungkinan transfer infeksi virus dari satu pasien ke yang lain, karena aparatus ini sulit untuk disterilisasi dan sering terjadi relaps.
    • Penyakit Darier
    • animated gif
      kelainan kuku penyakit darier
         
      • Darier penyakit ini juga dikenal sebagai 'follicularis keratosis. Ini adalah gangguan genetik langka yang dimanifestasikan terutama oleh perubahan kulit dan kuku.
      • Gejala-gejala dan tanda-tanda penyakit Darier sangat bervariasi antara individu. Beberapa memiliki tanda-tanda yang sangat halus yang tidak menunjukkan gejala dan hanya ditemukan pada pemeriksaan dengan teliti, gejala klinis meliputi Ruam kulit, Lesi pada tangan dan kuku dan Lesi yang mempengaruhi selaput lendir
      • Manifestasi penyakit Darier pada kuku adalah garis merah dan putih longitudinal, rigi longitudinal, lempeng kuku yang rapuh yang menunjukkan iregularitas bentuk V pada tepi distal, dan subungual hiperkeratosis.
    • Liken Planus
    • gif animator
      Kelainan kuku
      pada linken planus
         
      • Lichen planus merupakan keluhan kulit biasa. Hal ini diduga disebabkan oleh reaksi kekebalan yang abnormal diprovokasi oleh infeksi virus (seperti hepatitis C ) atau obat. Sel-sel inflamasi tampaknya salah mengira sel kulit sebagai asing dan menyerang mereka.
      • Kelainan ini tidak hanya terjadi pada kuku, namun dapat juga terjadi pada kulit terutama di bagian depan pergelangan tangan, punggung bawah, dan pergelangan kaki, selain itu bisa terdapat pada mukosa mulut, vagina atau penis dan pada kulit kepala
      • Pada dasar kuku dapat ditemukan papul-papul merah-ungu yang dapat terlihat melalui lempeng kuku, juga hiperkeratosis subungual difus. 
      • Berbagai derajat perubahan lempeng kuku dapat ditemukan, dan manifestasi lanjut adalah pembentukan pterigium bila matriks hancur.
      • Pengobatan penyakit ini sama dengan yang diterangkan pada psoriasis. Bila inflamasi parah, penggunaan kortikosteroid sistemik dapat dicoba untuk mencegah hilangnya kuku secara permanen.
    • Alopecia areata
    • gif maker
      Kelainan kuku
      pada alopecia areata
      • Kata alopecia sendiri dalam dunia kedokteran bermakna secara umum untuk menyebut (kondisi) kebotakan. Ketika rambut tiba-tiba rontok (biasanya pada kulit kepala). Biasanya bentuknya terlokalisir pada sebuah atau lebih area yang umumnya membentuk lingkaran kulit kepala yang bersih dari rambut, dan tidak ada tanda-tanda kelainan spesifik lain yang tampak kasat mata, termasuk tidak nyeri ataupun gatal. Jika ada kelainan lain yang tampak, mungkin saja itu bukan alopecia areata.
      • Alopecia Areata pada umumnya dianggap sebagai kondisi dimana tubuh menyerang dirinya sendiri sehingga menyebabkan rambut rontok lalu membentuk pitak. Alopecia areata kadang-kadang berhubungan dengan kondisi autoimun lain seperti gangguan alergi, penyakit tiroid , vitiligo , lupus , rheumatoid arthritis , dan kolitis ulseratif. Umumnya jarang terjadi pada usia sebelum 3 tahun, meski bisa terjadi pada semua usia. Dan paling sering pada anak-anak usia 5-12 tahun, atau pada dewasa usia antara 30 sampai 60 tahun.
      • Alopecia Areata juga dapat terjadi pada kuku, pada kuku gangguan yang terlihat berupa pitting dan penyok pada kuku, dan permukaan kasar (trachyonychia). Kadang-kadang leukonikia, onycholysis, onychomadesis, bintik-bintik di lunula.
    • Dermatitis
      • Kuku dapat terkena segala bentuk dermatitis yang mengenai tangan, dan terutamā lipat kuku posterior. Perubahan biasanya distrofik, berakibat kasarnya permukaan lempeng kuku,pitting yang kasar dan beberapa perubahan warna. Rigi melintang dapat tampak pada kuku yang terkena. Dermatitis pada ujung jari dapat disertai onikolisis.
      • Tidak ada pengobatan spesifik dibutuhkan, perubahan pada kuku-kuku akan sembuh perlahan-lahan bila dermatitis terkontrol..
    • Herpetic whitlow
      • Penyakit ini jarang terjadi,dan lebih sering terdapat di antara perawat. Ini disebabkan oleh inokulasi virus herpes simplex dan muncul sebagai bula tunggal atau berkelompok dekat dengan kuku, dan dapat memberi gambaran seperti sarang tawon.
      • Mula-mula jemih, kemudian bula dapat menjadi purulen dan dapat pecah dan diganti oleh krusta. Lesi ini dapat sangat nyeri.
      • Diagnosis ditegkkan dengan menemukan virus dari bula baru dan dengan pemeriksaan sitologik dari dasar bula. Terapi sesuai dengan pengobatan herpes simpleks di daerah lain.
    Kelainan yang berhubungan dengan penyakit sistemik

    • Perubahan yang berhubungan dengan gangguan metabolik..
      • Terry's nails. 
        • Terdapat pada pasien dengan sirosis dan dianggap berhubungan dengan hipoalbuminemia. Seluruh ujung kuku proksimal berwarna putih sebagai akibat perubahan pada dasar kuku, sedang 1 atau 2 mm distal kuku sering berwarna merah muda.
      • Garis Muehrcke. 
        • Adalah garis-garis paralel putih yang ber-pasangan terlihat pada pasien dengan hipoalbuminemia. Garis-garis ini tidak bergerak keluar dengan pertumbuhan kuku dan dianggap disebabkan karena perubahan pada dasar kuku.
      • Half and half nails
        • Dilaporkan sering terjadi pada gagal ginjal. Pada kondisi ini bagian proksimal kuku putih dan 20 sampai 50 persen distal merah. Ini juga dihubungkan dengan perubahan dasar kuku. Perubahan ini tidak seluruhnya spesifik karena dapat dijumpai pada orang normal atau pasien dengan penyebab lain yang tidak berhubungan. Lebih jauh, ada variasi berbeda dalam presentasi kuku yaitu putih dan merah pada penyakit ginjal dan hati. 
      • Yellow nails 
        • Ditemukan pada pasien dengan edema kronik. Kelainan ini dianggap disebabkan oleh kelainan pada saluran limfatik.
    • Perubahan yang berhubungan dengan Gangguan sirkulasi
      • Perubahan kuku berhubungan dengan sirkulasi perifer yang terganggu. Pada situasi tertentu, kuku sangat terpengaruh pada efek dingin. 
      • Arteri digitalis akan spasme, menyebabkan fenomena Raynaud. Sejumlah perubahan terjadi pada penyakit Raynaud yang lama. 
      • Rigi longitudinal, penipisan, pecah longitudinal dan brittle adalah perubahan yang sering timbul. Onikolisis, dan pterigium juga dapat ditemukan. Perubahan yang sama pada kuku dapat disebabkan oleh kelainan oklusif pembuluh darah oleh sebab lain. 
      • Iskemi digitalis akuta dapat menyebabkan blue toe syndrome yang disebabkan oleh mikroemboli dari sumber yang lebih proksimal pada cabang arteri.
      • Perubahan lain yang lebih jarang pada gangguan sirkulasi adalah pembentukan pterigium. Ini disebabkan oleh destruksi parsial matriks dan fusi epitel lipat kuku dorsal dan dasar kuku.
      • Pengobatan harus ditujukan pada penyakit yang menyebabkannya dan pasien harus dianjurkan untuk menjaga tangannya hangat setiap waktu. Vasodilator kadang-kadang menolong.
    • Periungual telangiektasis
      • Telangiektasis pada lipat kuku dapat terlihat pada berbagai penyakit dan pada beberapa orang normal. Perubahan ini sering terlihat pada lupus eritematosus, walaupun tidak dapat dipakai sebagai tanda diagnostik penyakit ini.
    Clubbing


    • Clubbing jari-jari, telah dikenal sejak dulu sebagai tanda dari penyakit yang mendasarinya, tetapi temyata clubbing idiopatik dapat timbul sejak lahir tanpa penyakit yang mendacarinya. Pada fase dini, hanya terjadi hilangnya sudut normal antara lempeng kuku dan lipat kuku posterior. Sudut yang dibuat antara iipat kuku proksimal dan lempeng kuku (sudut Lovibond) melebihi 180 derajat. Pada orang normal sudut ini kurang dari 180 derajat. Selanjutnya falang distal membesar dan dapat terjadi pembesaran kuku.
    • Kebanyakan kasus clubbing jari terjadi pada pasien dengan penyakit paru-paru yang kronik atau penyakit jantung sianotik, tetapi juga terlihat pada pasien dengan penyakit timid dan beberapa penyakit abdominal, termasuk sirosis biller, dan kolitis ulseratif.
    Kelainan pigmentasi
    • Perubahan warna sehubungan dengan pigmentasi dapat pula terjadi pada dasar kuku, antara lain disebabkan oleh penyakit sistemik seperti Peutz-Jeghers, yang memberi warna hitam oleh pigmen melanin, maupun oleh obat anti malaria seperti khlorokuin yang memberi warna biru-coklat.
    Penyakit herediter
    • Sejumlah penyakit yang diturunkan dapat mengenai dasar kuku antara lain penyakit Darier-White, yang mengakibatkan hiperkeratosis dan perubahan warna pada dasar kuku, dan pachyonychia congenita yang menyebabkan hipertrofi pada dasar kuku.
    • Pada pachyonychia congenita, perubahan terutama adalah hipertrofi dasar kuku. Saat lahir kuku tampak normal, tetapi segera sesudahnya perubahan warna kuning-coklat tampak. Perubahan ini berlanjut sampai lempeng kuku terangkat.
    • Pada akrodermatitis enteropatika, suatu penyakit resesif yang berhubungan dengan defisiensi zink yang disebabkan karena absorbsi metal yang buruk dari usus, dapat mengenai daerah periungual. Proses eksematosa yang mengenai lipat kuku proksimal dan lateral dapat menyebabkan perubahan pada lempeng kuku.

    SEBELUMNYA
    SELANJUTNYA
    DIAGNOSA PENYAKIT MELALUI KANKER KUKU