Showing posts with label radiologi. Show all posts
Showing posts with label radiologi. Show all posts

Pemeriksaan Ct Scan thorax Pada Kanker Paru sebagai alat diagnostik

CT SCAN THORAX

PENDAHULUAN

Kanker paru merupakan salah satu penyakit penyebab kematian tertinggi di dunia. Lebih dari 1,3 juta kasus baru kanker paru dan bronkus di seluruh dunia, menyebabkan 1,1 juta kematian tiap tahunnya. Dari jumlah insiden dan prevalensi di dunia, kawasan Asia, Australia, dan Timur Jauh berada pada tingkat pertama dengan estimasi kasus lebih dari 670 ribu dengan angka kematian mencapai lebih dari 580 ribu orang. Sampai saat ini kanker paru masih menjadi masalah besar di dunia kedokteran.

Di Amerika Serikat kejadian kasus baru kanker paru pada tahun 2005 mencapai 172.570 (laki-laki 93.010 dan perempuan 79.560). Dari kasus tersebut jumlah yang meninggal mencapai 163.510 (laki-laki 90.490 dan perempuan 73.020) dan yang bisa bertahan hidup sampai 5 tahun hanya 15 %.  Di Indonesia, kanker paru menjadi penyebab kematian utama kaum pria dan lebih dari 70 % kasus kanker itu baru terdiagnosis pada stadium lanjut (stadium IIIb atau IV) sehingga hanya 5 % penderita yang bisa bertahan hidup hingga 5 tahun setelah dinyatakan positif.

Ct scan adalah salah satu modalitas utama dalam mendiagnosa kanker paru. Pemeriksaan Ct Scan sangat berarti dalam menilai nodul soliter parenkim paru serta keadaan mediastinum. Ct Scan juga dapat memperlihatkan hubungan kanker paru dengan dinding thorax, bronkus dan pembuluh darah besar dengan jelas. Karena berbagai keunggulannya pemeriksaan CT Scan penting sebagai alat diagnosa untuk penderajatan (staging) kanker paru berdasarkan sistem TNM (Tumor, Nodul, Metastasis). Akurasi CT Scan dalam mendiagnosa kanker paru cukup tinggi. Namun hal tersebut tergantung kepada jenis dan kualitas alat serta teknik pemeriksaan yang tepat.

KANKER PARU

Kanker paru adalah tumor berbahaya (tumor ganas) yang tumbuh di paru-paru. Sebagian besar kanker paru-paru berasal dari sel-sel di dalam paru-paru, tetapi kanker paru bisa juga berasal dari kanker di bagian tubuh lainnya yang menyebar ke paru-paru.

1. Jenis-jenis Kanker Paru (lung cancer)

Secara garis besar kanker paru dibagi menjadi 2 bagian yaitu Small Cel Lung Cancer (SCLC) dan Non Small Cel Lung Cancer (NCLC).
  • Small Cell Lung Cancer (SCLC)
    • Kejadian kanker paru jenis SCLC ini hanya sekitar 20 % dari total kejadian kanker paru. Namun jenis ini berkembang sangat cepat dan agresif. Apabila tidak segera mendapat perlakuan maka hanya dapat bertahan 2 sampai 4 bulan.
  • Non Small Cell Lung Cancer
    • 80 % dari total kejadian kanker paru adalah jenis NSCLC. Secara garis besar dibagi menjadi 3 yaitu:
      • Adenocarsinoma, jenis ini adalah yang paling banyak ditemukan (40%).
      • Karsinoma Sel Sekuamosa, banyaknya kasus sekitar 20 – 30 %.
      • Karsinoma Sel Besar, banyaknya kasus sekitar 10 – 15 %.
    • Sebagian besar pasien yang didiagnosa dengan NSCLC (70 – 80 %) sudah dalam stadium lanjut III – IV.
2. Staging

Pada kanker paru jenis SCLC ada 2 stages yaitu Limited Stage dan Extensive Stage. Sedangkan pada NSCLC staging dilakukan dengan sistem TNM (T=Tumor, N=Kelenjar Getah Bening dan M=Metastase). Kalsifikasi stadium berdasarkan TNM dapat dilihat pada tabel berikut :

Stage NSC Lung cancer
Criterion for staging
Stage I a
T 1
N 0
M 0
Stage I b
T 2
N 0
M 0
Stage II a
T 1
N 1
M 0
Stage II b
T 2 (T 3)
N 1 (N 0)
M 0
Stage III a
T 3 (any T)
N 1 (N 2)
M 0
Stage III b
T 4 (any T)
Any N (N 3)
M 0
Stage IV
Any T
Any N
M 1
KETERANGAN
T = Tumor
T1 : Tumor dengan ukuran kurang dari 3 cm
T2 : Tumor dengan ukuran dan perluasan sbb :
               ·         Ukuran lebih dari 3 cm
               ·         Melibatkan bronkus utama yang letaknya sampai ' 2 cm dari distal karina.
               ·         Perluasan ke pleura viseral.
               ·         Perluasan ke hilus
T3 : Tumor dengan segala ukuran, meliputi :
           •          Tumor menginvasi dinding thorax, diafragma, pleura mediastinalis
           •          Tumor di dalam bronchus primarius, max 2 cm distal dari carina (tetapi tanpa melibatkan carina).
           •          Tumor disertai dg atelektasis atau obstruktive pneumonitis pada seluruh paru.
T 4 : Tumor dengan segala ukuran, meliputi :
            •          Tumor menginvasi mediastinum, cor, pembuluh darah besar, trachea, esophagus, corpus vertebra, atau carina.
            •          Tumor dengan efusi pleura dan efusi pericard maligna.
            •          Tumor dengan nodul satelit tumor yang masih dalam satu lobus pulmo ipsilateral           

N = Status limfonodi regional :
N0 : Tidak ada metastasis limfonodi regional.
N1 : Metastasis di limfonodi regional atau hilar atau limfonodi intrapulmonar sebagai akibat perluasan langsung dari tumor primer.
N2 : Metastasis di limfonodi retrotracheal, midline prevascular, subcarinal dan mediastinal ipsilateral.
N3 : Metastasis nodal hilar contralateral atau mediastinal contralateral, serta nodus supraclavicular dan scalenus contralateral atau ipsilateral.N x : Diskripsi N tambahan (tetapi jarang dipakai) metastasis di limfonodi regional
sulit diperkirakan.

M = Metastasis Jauh, meliputi :
M0 : Tidak ada metastasis jauh.
M1 : Ada metastasis jauh atau nodul tumor terpisah pada lobus lain dalam pulmo yang sama atau Nodul tumor pada pulmo kontralateral (dinyatakan sebagai M1 jika jenis histloginya sama dengan sel tumo primer.

3. Faktor Penyebab Terjadinya Kanker Paru
  • Perokok, risiko terkena penyakit makin besar seiring dengan banyaknya jumlah rokok yang diisap dan semakin mudanya usia awal merokok.
  • Perokok Pasif, Mengisap asap rokok, perokok pasif juga rentan terkena kanker paru-paru meski kemungkinannya tidak sebesar perokok aktif. Di beberapa keluarga para perokok aktif dapat menjadi 'penyebar' kanker paru karena hubungan genetika.
  • Masuknya zat-zat kimia seperti asbestos, uranium, chromium, dan nikel ke dalam tubuh. namun kasus ini jarang terjadi. Polusi udara juga dicurigai sebagai penyebab kanker paru namun masih sulit dibuktikan.
4. Prosedur Diagnosa

Penegakkan diagnosa kanker paru meliputi pemeriksaan klinis, laboratoium (sputum sitologi dan tumor marker) dan pemeriksaan penunjang yang meliputi : foto thorax, CT Scan, USG, Bone Scaning, PET, MRI dan bronchoscopi. Ketika kanker paru-paru mulai menunjukkan gejala, biasanya terlihat pada pemeriksaan X-ray. Terkadang, secara tidak sengaja, kanker paru-paru yang belum menunjukkan gejala tampak sebagai bintik-bintik pada thorax X-ray yang dilakukan untuk tujuan lainnya. CT scan pada dada perlu dilakukan untuk pemeriksaan yang lebih detil.

Meskipun pemeriksaan dahak atau cairan paru-paru mungkin menunjukkan sel-sel kanker yang telah berkembang, diagnosis kanker paru-paru biasanya dipastikan melalui bronkoskopi. Dengan anestesi lokal, dokter mengarahkan tabung berkamera (bronkoskop) menuju daerah tumor, dimana sampel jaringan yang sangat kecil dapat diambil (biopsi).

Jika hasil biopsi telah memastikan kanker paru-paru, pemeriksaan lain akan dilakukan untuk menentukan tipe kanker dan seberapa jauh penyebarannya. Penyebarannya sel-sel kanker pada limfe (kelenjar getah bening) terdekat dapat dideteksi melalui mediastinoskopi. Sementara teknik pencitraan seperti MRI, CT scan, PET scan, atau bone scan dapat mendeteksi penyebaran kanker di bagian tubuh lainnya.

5. Gejala Kanker Paru

Seseorang yang termasuk golongan risiko tinggi (GRT) jika mempunyai keluhan napas seperti batuk, sesak napas, nyeri dada, sebaiknya segera meneriksakan diri ke dokter spesialis paru.
Tanda dan gejala kanker paru membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk dapat diketahui dan seringkali dikacaukan dengan gejala sakit pada umumnya.
  • Sesak nafas
  • Batuk yang tidak kunjung sembuh (lebih dari 2 minggu)
  • Bunyi menciut-ciut saat bernafas pada bukan penderita asma
  • Batuk berdarah
  • Perubahan warna pada dahak dan meningkatnya jumlah dahak
  • Perubahan suara (menjadi serak) atau suara kasar saat bernafas
  • Kelelahan kronis dan penurunan berat badan secara drastic
  • Bengkak pada leher dan wajah
  • Nyeri saat menarik nafas dalam-dalam

D. PEMERIKSAAN CT SCAN THORAX PADA KANKER PARU

Computer Tomography atau Ct Scan merupakan suatu teknik pemeriksaan secara radiografi dengan system pengambilan gambar dari suatu obyek yang diperiksa secara sectional – axial, dimana berkas sinar X mengitari obyek. Sinar X yang teratenuasi setelah menembus obyek di teruskan ke detector. Oleh Photo Multiplier Tube ( PMT ) sinar X di ubah menjadi signal – signal electron ( listrik ) yang kemudian di perkuat yang kemudian oleh DAS ( data Aquesition System ) signal – signal listrik tersebut diubah menjadi data digital. Data inilah yang kemudian menjadi informasi di komputer dan secara matemetika direkonstruksikan, hasil reconstruksi tersebut akan ditampilkan dalam layar monitor berupa irisan – irisan dari obyek yang dikehendaki dalam bentuk “ Gray Scale Image “ yaitu skala dari hitam ke putih.

Dengan teknik CT scan inilah akan didapat gambaran axial dari penampang tubuh yang diperiksa, dan juga memperlihatkan organ – organ yang pada pemeriksaan radiografi konvensional tidak tampak karena mengalami overlapping dengan organ – organ lain.

CT scan pada pemeriksaan thorax bertujuan untuk melihat letak serta luas massa mediastinum dan kelainan yang terjadi pada mediastinum lainnya, dan digunakan pula untuk menunjukkan nodus limfatikus yang membesar sewaktu menentukan stadium pasien dengan penyakit neoplastik, terutama kasus tomor dan limfoma paru, serta menetukan luas dari carsinoma ataupun tumor yang terdapat pada paru – paru maupun pada mediastinum.

1. Manfaat CT Scan Thorax Pada Kanker Paru 

Pada kasus kanker paru Ct Scan bermanfaat untuk mendeteksi adanya tumor paru juga sekaligus digunakan dalam penentuan staging klinik yang meliputi :
  • Menentukan adanya tumor dan ukurannya
  • Mendeteksi adanya invasi tumor ke dinding thorax, bronkus, mediatinum dan pembuluh darah besar.
  • Mendeteksi adanya efusi.
  • Mendeteksi adanya penyebaran ke limfonodi dan hepar.
Disamping diagnosa kanker paru CT Scan juga dapat digunakan untuk menuntun tindakan trans thoracal needle aspiration (TTNA), evaluasi pengobatan, mendeteksi kekambuhan dan CT planing radiasi.

2. Teknik Pemeriksaan

Pemeriksaan CT Scan thorax pada kasus kanker paru biasanya dilakukan dengan media kontras melaui intra vena. Scaning dilakukan pre kontras dan post kontras. Teknik pemeriksaan sangat bervariasi tergantung pada jenis CT Scan yang digunakan (CT Generasi III, CT Spiral Single/Dual atau MDCT).
  • Persiapan Pasien
    • Puasa 4-6 jam sebelum pemeriksaan.
    • Periksa laboratorium kadar ureum (BUN) dan creatinin.
    • Pasien diberi penjelasan tentang pemeriksaan yang akan dilakukan dan breathold technique yang digunakan.
    • Cek riwayat asma, alergi dan penyakit lain.
    • Cek vital sign
  • Persiapan Alat
    • Peralatan CT Scan dalam keadaan Stanby
    • Obat kontras non ionik 100-150 cc
    • Peralatan injeksi
    • Obat-obatan emergency
    • Oksigen
    • Suction
  • Teknik Pemasukkan Media Kontras 
    • Single Bolus Injection
      • Teknik ini digunakan pada CT Scan tipe spiral. Media kontras dimasukkan secara injeksi melalui vena cubiti dengan power injektor atau manual (hand). Jumlah media kontras sekitar 60 – 150 cc dengan kecepatan 2-4 cc/detik. Scaning dilakukan antara 30-60 detik sejak pemasukkan kontras. Banyaknya media kontras dan kecepatan injeksi serta delay time tergantung dari berat badan dan organ yang ingin dinilai.
      • Tabel 2 adalah contoh yang menunjukkan besarnya dosis, kecepatan injeksi dan scan delay berdasarkan berat badan.
Berat badan
(kg)
Dosis
(cc)
Flow rate
(Cc/s)
Scan delay
thorax
Thorax + Abdomen
Lebih dari 118
160
3,3
55
42
98-117
140
3,1
53
40
78-97
120
2,8
51
38
64-77
100
2,6
49
36
48-63
80
2,4
46
34
38-47
70
2,2
46
34
*31-37
60
2
46
34
* for pediatrics : dose= kg 2,0, rate = 0,04 + 0,4

    • Drip Infusion
      • Biasanya dipakai pada CT Scan generasi III atau teknik slice by slice, teknik ini tidak dapat memberikan hasil yang baik karena konsentrasi media kontras sangat rendah.
    • Drip Infusion Dilanjutkan Dengan Bolus Injection Yaitu pemasukkan media kontras dengan drip infus yang dilanjutkan dengan injeksi 40-50 cc ketika scaning mencapai daerah yang yang dicuigai kelainan. Teknik ini biasanya digunakan pada pemeriksaan CT Scan thorax dengan menggunakan pesawat CT generasi III atau teknik slice by slice. Konsentrasi media kontras cukup baik dan waktunya cukup lama namun dibutuhkan media kontras dalam jumlah banyak.
 
Add caption

    • Multiple Bolus Injection
      • Teknik ini cocok digunakan pada CT Scan generasi III atau teknik slice by slice. Pemasukan media kontras dengan cara bolus injeksi yang dilakukan berulang-ulang. Injeksi yang pertama sebanyak 30-50 cc dengan flow rate 3-5 cc/detik, scaning dilakukan segera kemudian diikuti dengan injeksi berikutnya sebanyak 10-15 cc setiap ekspose sampai kurang lebih 150 cc.
  • Posisi Pasien
    • Pasien supine dengan posisi kaki dekat gantry (feet first) kedua tangan ke arah kepala. Atur MSP tepat pada longitudinal positioning light. Kemudian pasien dilatih tarik napas dan tahan napas serta diukur lamanya pasien bisa tahan napas.
  • Scanogram
    • Scanogram dibuat AP dari apex sampai upper abdomen
  • Scan Parameter
    • Mode Scan : Slice By Slice atau Spiral (sebaiknya spiral)
    • Area Scaning : Dari apex sampai sampai kelenjar supra renal (±Th.XII) atau sampai krista iliaka
    • Slice Thickness
      • Untuk slice by slice : 10 mm dan 5 mm daerah hilus atau daerah kelainan.
      • Untuk spiral : 5 mm atau lebih kecil
    • Pitch dan Interval 
      • Slice By Slice : Interval/indeks = slice thicknes
      • Spiral : Pitch = 1 – 1,5, interval = slice thickness / lebih kecil
    • FOV : Diatur sesuai dengan ukuran tubuh (280 – 350 mm)
    • Scan Time Rotation
      • Pilih scan time rotation yang kecil sesuai dengan alat yang tersedia.
    • Breathhold Technique
      • Pada scaning teknik spiral, apabila pasien dapat menahan napas dalam jangka waktu yang lama dapat digunakan Single Breathhold (scaning dilakukan dalam sekali tahan napas) sedangkan bila tidak dapat menahan napas dalam jangka waktu lama dapat dilakukan 2 atau 3 kali scaning. Scaning dilakukan pada saat inspirasi penuh.
      • Pada scaning dengan teknik slice by slice setiap slice harus dilakukan pada fase napas yang sama (inspirasi penuh dan tahan napas). Hal ini untuk mengurangi artefak dan anatomical misregistration.
    • Gantry Tilting : None
    • Recon Algoritma : soft tisue/standar dan Lung/HR
  • Post Prosesing
    • Recont Slice Interval. Apabila akan dibuat MPR/3D perlu dilakukan recont slice interval lebih rapat lagi sehingga hasil MPR/3D menjadi lebih halus. Slice interval dibuat lebih rapat menjadi setengah atau sepertiga dari slice thicknes. Recont ini hanya bisa dilakukan pada scan spiral.
    • MPR Dan 3D. MPR dan 3D perlu ditambahkan untuk menambah informasi mengenai letak lesi secara lebih jelas. MPR yang biasa dilakukan adalah sagital dan coronal dan 3D dengan SSD maupun Volume rendering.
    • ROI
      • Pengukuran nilai HU pada lesi dan pada efusi (bila ada). Pengukuran juga dibandingkan antara pre dan post kontras
      • Pengukuran besarnya (diameter) lesi.
    • Window dan Image Enhancement :
      • Window Mediatinum/Soft tisue, untuk memperlihatkan mediastinum, cor, pembuluh darah, dinding thorax, hepar dan soft tissue lainnya.
      • Window lung, untuk menampilkan parenkim paru, fisura pulmonary, air bronkogram.
      • Window Tulang, bila diperlukan untuk menampilkan tulang (vertebra dan costa) apabila ada metastase ke tulang.

 

3. Keterbatasan CT Slice By Slice dan Keunggulan CT Spiral
  • Keterbatasan CT Generasi III / Teknik Slice by Slice Pada Pemeriksaan Thorax
    • Kemungkinan terjadinya anatomy misregistration lebih besar karena adanya variasi fase napas yang berbeda pada setiap slice.
    • Terjadinya motion artefact dikarenakan scan time rotasion yang cukup lama pada CT Generasi III (2-4 detik).
    • Contras Enhance (konsentrasi media kontras) pada pembuluh darah rendah.
    • Hasil MPR maupun 3D kurang baik karena motion artefact dan misregistration.
  • Keunggulan CT Spiral
    • Scaning lebih cepat dan dapat dilakukan dalam single breathold (1 x tahan napas) sehingga dapat terhindar terjadinya motion artefact dan misregistration.
    • Dapat dilakukan retro recont slice interval terhadap raw data.
    • Contras Enhance (konsentrasi media kontras) pada pembuluh darah jauh lebih baik dengan scan delay dan flow rate yang tepat.
    • Hasil MPR/3D jauh lebih baik.

E. KESIMPULAN
  1. Kanker paru merupakan penyakit penyebab kematian tertinggi termasuk di Indonesia yang biasanya baru diketahui setelah stadium lanjut.
  2. Ct Scan merupakan salah satu modalitas utama dalam diagnosa kanker paru.
  3. Ct Scan dapat mendeteksi kanker paru yang kecil dan mendeteksi penyebarannya sehingga dapat digunakan dalam penentuan staging/stadium kanker paru
  4. Pemeriksaan CT scan pada kasus kanker paru biasanya dilakukan dengan media kontras secara intra vena. Teknik pemasukkan media kontras disesuaikan dengan tipe CT scan yang digunakan.
  5. Scaning dilakukan mulai dari apex sampai kelenjar supra renal atau upper abdomen dengan slice thickness yang tipis dan dengan teknik breathhold yang tepat.
  6. Penggunaan teknik spiral lebih banyak keunggulannya dibanding teknik slice by slice.

KEPUSTAKAAN

  1. Boedjang Nurlela Dkk, 2001, Tumor Di Dalam Toraks, BP FKUI, Jakarta
  2. Bushberg J T, 2003, The Essential Physics of Medical Imaging, 2nd ed, Lippincot Williams and Wilkins, Philadelphia
  3. Chiu Lee C, MD, 1995, Clinical computed Tomography for the Technologist, Second Edition, Raven Press, New York
  4. Halls Steven B., MD, FRCPC, Weight-based intravenous contrast injection parameters for EnhancedCT Scanning. Cross Cancer Institute, Edmonton, Alberta, Canada, available online: http://www.halls.md/ct/ct.htm , akses tanggal 5 April 2007
  5. Jaengsri Nuttawan, 2004, CT Protocol, Radiology Departement Of Takshin Hospital, Bangkok
  6. Neseth, 2000, Procedurs And Documentation For CT And MRI, McGraw-Hill Co, New York
  7. Sharma Sat, MD, FRCPC, FACP, FCCP, DABSM, 2005, Lung Cancer, Non-Small Cell, Emedicine, available online : http://www.emedicine.com/radio/byname/lungcancer- non-small-cell.htm , akses tanggal 5 April 2007
  8. Seeram, 2001, Computed Tomography : Physical Principles, Clinical Application And Quality Control, 2nd, WB. Saunders Company, Philadelphia
  9. Sheila R, 1992, Practical CT Techniques, Springer-Verlag, London
  10. Socinski Mark A.,MD, 2005, Epidemiology, Staging And Treatment Of Lung Cancer, Lineberger Comprehensive Cancer Center University Of North Carolina Chapel Hill, available online: http://www.sirfoundation.org/pdf/06Lung/Socinski.pdf, akses tanggal 26 Maret 2007
  11. Syaifudin, 1997, Anatomi Fisiologi untuk Siswa Perawat, Edisi 2, EGC, Jakarta
  12. Thoeni Ruedi F., MD, 2000, Technical Helical CT Manual On The GE LightSpeed QX/i Scanner, Departement Of Radiology University Of California San Francisco
  13. Wegener, 1992, Whole Body Computed Tomography, 2nd ed, Blackwell Scientific Publication, Oxford
  14.  .......,2006, Kanker Paru Pembunuh Nomer Satu, Info Aktual, Badan Litbangkes Depkes, available online: www.litbang.depkes.go.id/aktual/kliping/kankerparu010306.htm, akses tanggal 26 Maret 2007
  15.  .......,2004, Focus Lung Cancer, Oncology Nursing Society, http://www.lungcancer.org/health_care/focus_on_lc/staging/staging.htm, akses 5 April 07

Mamogram : indikasi, kontraindikasi, cara memakai

VIDEO PENJELASAN MAMOGRAM





Apa itu mammograffi?
  • adalah Teknik pemeriksaan pencitraan radiologi dengan menggunakan sinar-X dosis rendah yang menghasilkan gambar dari jaringan payudara bagian dalam, hal ini digunakan untuk menemukan tumor dan untuk membantu membedakan antara non-kanker ( jinak ) dan kanker (ganas) penyakit.
  • Gambaran yang dihasilkan Mammografi (Mammogram) dapat melihat struktur bagian dalam jaringan payudara dengan jelas
  • Selain mammografi, pemeriksaan payudara sendiri dan pemeriksaan oleh dokter secara teratur merupakan cara yang efektif untuk menjaga kesehatan payudara.

Apa kegunaan mamograffi??
  • Skrining mamografi
    • Mamografi memainkan peran sentral dalam deteksi dini kanker payudara karena dapat menunjukkan perubahan pada payudara sampai dua tahun sebelum pasien atau dokter dapat merasakannya. 
    • Pedoman saat ini dari Departemen Layanan Kesehatan dan Kemanusiaan (HHS), American Cancer Society (ACS), American Medical Association (AMA) dan American College of Radiology (ACR) merekomendasikan skrining mamografi setiap tahun untuk wanita, dimulai pada usia 40 tahun. 
    • Penelitian telah menunjukkan bahwa mammogram tahunan berguna sebagai deteksi dini kanker payudara
    • National Cancer Institute (NCI) menambahkan bahwa perempuan yang telah menderita kanker payudara dan mereka yang memiliki risiko kanker payudara karena riwayat genetik  harus  mulai skrining sebelum usia 40.
  • Mamografi Diagnostik
    • Diagnostik mamografi digunakan untuk mengevaluasi pasien dengan temuan klinis yang abnormal-seperti sebagai benjolan payudara atau benjolan-yang telah ditemukan oleh wanita atau dokter. 
    • Mamografi diagnostik juga dapat dilakukan setelah pemeriksaan mammogram abnormal dalam rangka untuk mengevaluasi dan memantau perjalanan penyakitnya
Bila terasa benjolan pada payudara atau kelainan payudara yang lain, Mammografi membantu Dokter apakah benjolan tersebut jinak atau ganas dan membantu menentukan lokasi pertumbuhan tumor. Yang lebih penting, mammografi dapat membantu menentukan terapi yang diperlukan selanjutnya

Apa resiko yang timbul akibat mammografi?
  • Karena mempunyai efek radiasi maka ada kemungkinan penggunaan mammografi dapat menyebabkan kanker, walaupun demikian sangat jarang terjadi karena penggunaan sinar-x yang di pakai biasanya dosis yang kecil (biasanya sekitar 30 kVp), manfaat diagnosis yang akurat jauh melampaui risiko yang timbul.
  • Wanita hamil atau menyusui memiliki resiko efek radiasi pada kandungannya, walaupun demikian efek radiasinya kecil karena dosis sinar-x kecil
  • Pada wanita yang implan payudara Risiko kerusakan pada implan sangat kecil. Namun, kehadiran implan membuat mamografi kurang sensitif dan ada kepentingan yang lebih besar pada pemeriksaan klinis payudara daripada wanita tanpa implan.

Bagaimana prosedur mammografi??
  • Tidak perlu berpuasa sebelum Mammografi
  • Karena dalam produr mammografi dengan kompresi payudara maka Pemeriksaan mamograffi sebaiknya di lakukan Satu sampai dua minggu setelah menstruasi, karena payudara dapat nyeri tekan selama periode menstruasi.
  • Tidak memakai deodorant atau bedak pada ketiak  ataupun kalung atau perhiasan lainnya di dada  sebelum pemeriksaan, karena akan mengganggu gambaran Mammografi dan menyerupai proses keganasan
  • Radiografer yang terlatih akan memandu anda. Anda akan diminta untuk melepas baju dan kemudian ditentukan posisi untuk foto payudara
  • Teknik Pemeriksaan yang tepat di mamografi adalah sangat penting. Positioning dan kompresi adalah komponen penting dari teknik Pemeriksaan mamografi.
  • Pasien akan berdiri di depan mesin mamografi dan satu payudara akan ditempatkan pada pelat sinar-X
  • Satu payudara yang akan di foto akan di tempatkan pada permukaan yang datar yang berisi piring x-ray. Perangkat yang disebut kompresor akan ditekan tegas terhadap payudara untuk membantu meratakan keluar jaringan payudara
  • Pengompresan payudara diperlukan untuk mendapatkan gambar terbaik, sebab jika tidak di lakukan maka  mammogram mungkin kabur, lesi kecil tidak nampak dan jaringan payudara mungkin tidak di gambarkan dengan baik pada hasil foto
  • Kompresi payudara diperlukan dalam mammografi Agar dapat memvisualisasikan payudara yang memiliki ketebalan jaringan yang besar, sehingga dengan kompresi jaringan akan menyebar merata sehingga dapat memberikan gambaran terperinci tentang jaringan payudara, selain itu penggunaan dosis x-ray lebih rendah karena jaringan payudara jumlahnya menjadi lebih tipis apabila di kompres.  Kompresi juga mencegah payudara dari bergerak selama prosedur, sehingga mengurangi atau menghilangkan gambar kabur
  • Pada saat pengambilan foto Anda akan diminta untuk menahan napas.
  • X-ray gambar diambil dari beberapa sudut, ada dua posisi yang umumnya di lakukan yaitu Posisi Craniocaudal dan Posisi miring mediolateral
  • Untuk lebih jelas perhatikan video dibawah ini


    Kekurangan mammografi
    • Negatif palsu" bisa terjadi. Ini semuanya berarti mungkin terlihat normal, tetapi kanker sebenarnya hadir. Negatif palsu tidak sering terjadi. Wanita muda lebih mungkin untuk memiliki mammogram negatif palsu dari wanita yang lebih tua. Hal ini karena jaringan payudara lebih padat, membuat kanker lebih sulit untuk spot.
    • "Positif palsu" bisa terjadi. Ini adalah ketika hasil mammogram terlihat seperti kanker hadir, meskipun tidak. Positif palsu lebih sering terjadi pada wanita yang lebih muda daripada wanita yang lebih tua.
    • Tidak semua kanker payudara dapat di deteksi, oleh karena itu di butuhkan pemeriksaan penunjang lainnya
    • Tidak dapat menolong untuk wanita yang mempunyai kanker payudar yang cepat tumbuh dan menyebar sebelum terdeteksi.
    • Jika Anda memiliki implan payudara, pastikan untuk memberitahu fasilitas mamografi Anda bahwa Anda telah mereka ketika Anda membuat janji Anda. Anda akan memerlukan sebuah x-ray teknolog radiologis yang terlatih dalam x-raying pasien dengan implan. Hal ini penting karena implan payudara dapat menyembunyikan beberapa jaringan payudara, yang bisa membuat jika sulit bagi ahli radiologi untuk melihat kanker payudara ketika melihat mammogram Anda.

    Baca juga kanker payudara Di SINI

    DAFTAR PUSTAKA

    • The Health Protection Agency of the United Kingdom Information Booklet produced by NRPB, Chilton, Didcot, Oxon OX110RQ http://www.hpa.org.uk/web/HPAwebFile/HPAweb_C/1194947388410
    • Breast Screen National Accreditation Standards available at: http://www.cancerscreening.gov.au/internet/screening/publishing.nsf/Content/br-accreditation
    • BreastScreen Australia monitoring report 2004-2005 available at: http://www.aihw.gov.au/publications/index.cfm/title/10543
    • Berg et al, Combined Screening With Ultrasound and Mammography vs. Mammography alone in Women at Elevated Risk of Breast Cancer, JAMA 2008: 209(18); 2151-2163
    • NBOCC - Advice about familial aspects of breast cancer and epithelial ovarian cancer - a guide for health professionals, February 2006 available at: http://www.nbcc.org.au/resources/resource.php?code=BOG
    • Sumber link : 

    Barium enema : video prosedur dan indikasi

    Barium Enema Prosedur   Animasi Medis



    Barium Enema adalah
    • pemeriksaan radiografi dari usus besar dan rectum menggunakan suspensi barium sulfat sebagai media kontras. Barium enema merupakan salah satu metode diagnosis.
    • Meskipun barium enema pada awalnya ditujukan sebagai cara untuk mendiagnosa penyakit, perannya telah berubah. dimana sekarang tes ini digunakan sebagai alat skrining untuk orang-orang tertentu yang berisiko untuk menderita  kanker kolorektal.
    • Selain itu barium enema juga dapat mengobati sesuatu kelainan klinik yang di tandai dengan usus besar melipat kedalam dirinya sndiri, ini biasa terjadi pada anak bayi, dimana dengan prosedur barium enema yang berupa tekanan pada saat memasukan bahan kontras dapat mengembalikan posisi usus ke normal.
    Ada Dua teknik pemeriksaan utama yaitu  tunggal dan double kontras enema barium kontras.
    • Single-kontras barium enema.
      • Ini adalah metode yang kurang disukai, biasanya disediakan untuk indikasi berikut: tidak kooperatif, pasien bergerak, obstruksi mekanis akut, pengurangan intususepsi, pengecualian berat patologi, dan evaluasi dari konfigurasi anatomi usus besar. Sebuah densitas rendah (0,1 0,2 g / ml) suspensi barium digunakan untuk "melihat-melalui" efek. Suspensi dijalankan secara perlahan-lahan di bawah bimbingan fluoroscopic, dan film spot diambil dalam pandangan beberapa radiografi, sering dikombinasikan dengan kompresi manual dari usus besar.
    • Double-kontras barium enema.
      • Ini adalah metode yang disukai. Enema barium dikombinasikan dengan insuflasi udara (atau alternatif karbon dioksida) untuk lebih baik "melihat-melalui" efek daripada metode tunggal-kontras. Suspensi barium seharusnya hanya mantel mukosa pada lapisan tipis. Untuk mengaktifkan visualisasi detail anatomi halus en wajah, ini membutuhkan kerapatan yang lebih tinggi dari suspensi (biasanya 0,6-1,1 g / ml). Sebuah relaksan otot polos (20 mg hiosin butylbromide, Buscopan atau 0,5 1,0 mg glukagon) sering disuntikkan intravena pada awal prosedur untuk meredakan kejang usus mungkin. Sebuah kateter balon dapat digunakan untuk mencegah kebocoran dari rektum. Suspensi barium biasanya dijalankan dengan pasien dalam posisi miring rawan atau kiri. Infus dihentikan ketika kolom barium mencapai usus melintang. Udara ini kemudian insufflated, rektum dikeringkan, dan sisa dari usus besar diisi dengan barium dan udara dengan insuflasi udara dikombinasikan dengan perubahan posisi pasien untuk mempromosikan mengisi oleh gravitasi. Pemeriksaan ini mencakup beberapa pandangan radiografi standar. Unit remote control dengan angulasi tabung overcoach memungkinkan tabung lebih disukai. Film Spot diambil dari setiap lesi dilihat fluoroscopically

    Indikasi barium enema
    Prosedur ini sering dilakukan untuk membantu mendiagnosis gejala seperti
    • barium enema digunakan untuk mendeteksi kanker usus besar
    • juga dapat digunakan untuk mendiagnosa dan mengevaluasi sejauh mana penyakit radang usus (IBD) atau penyakit usus lain
    • untuk Radang usus buntu
    • Celiac sprue
    • Kolorektal adenoma (tumor tidak berbahaya)
    • Kolon divertikula (kantong atau kantung di usus besar
    • Polip kolon
    • Penyakit Crohn
    • Diare
    • Divertikulitis usus besar
    • Kronis usus pseudo-obstruksi
    • pendarahan saluran pencernaan
    • Ulseratif kolitis

    Apa resiko yang dapat timbul dari prosedur ini?
    • Selama prosedur enema barium, bahan kontras dapat melubangi usus besar dan tumpahan ke dalam rongga perut . Lapisan rongga perut  dapat terinfeksi (kondisi ini disebut kimia peritonitis ). Usus besar dapat menjadi sempit dan diblokir. Karena masalah inilah maka ada orang tertentu yang tidak di indikasikan melakukan prosedur ini.
    • Adanya efek radiasi dari penggunaan kontras, namun resiko ini di katakan tidak terlalu besar berdampak pada pasien di bandingkan manfaat dari prosedur ini.
    • Bisa mengakibatkan keguguran pada wanita hamil, sehingga sebelum prosedur, sebaiknya di beritahu riwayat kehamilan jika seorang wanita sedang hamil.
    • Kontras iodinasi diberikan rektal dapat menyebabkan reaksi alergi, tapi ini sangat jarang.

    DAFTAR PUSTAKA
    • Bresalier RS. Colorectal cancer. In: Fedlman M, Friedman LS, Brandt LJ, eds. Sleisenger and Fordtran's Gastrointestinal and Liver Disease. 9th ed. Philadelphia, Pa: Saunders Elsevier;2010:chap 123.
    • Pickhardt PJ. Diagnostic imaging procedures in gastroenterology. In: Goldman L, Ausiello D, eds. Cecil Medicine. 23rd ed. Philadelphia, PA: Saunders Elsevier; 2007:chap 135.
    • David C. Dugdale, III, MD, Professor of Medicine, Division of General Medicine, Department of Medicine, University of Washington School of Medicine. Also reviewed by David Zieve, MD, MHA, Medical Director, A.D.A.M., Inc

    pemeriksaan radiologi infeksi sinus paranasal (sinusitis)

                                              PEMERIKSAAN RADIOLOGI  SINUSITIS
    PENDAHULUAN
               Sinus paranasal merupakan salah satu organ tubuh manusia yang sulit di deskripsikan karena bentuknya sangat bervariasi pada tiap individu. Ada empat pasang sinus paranasal, mulai dari yang terbesar yaitu Sinus Maksila, Sinus frontalis, Sinus Edmoid, dan sinus sfenoid.
    (mengenai anatomi sinus dapat di perhatikan pada posting saya sebelumnya di sini)
                Sinus paranasal merupakan hasil pneumatisasi tulang-tulang kepala, sehingga terbentuk rongga di dalam tulang. Semua sinus mempunyai muara (ostium) kedalam rongga hidung. Pada muara sinus, akan bermuara pada konka nasalis, dimana ada 4 macam konka nasalis yaitu konka nasalis inferior, konka nasalis media, konka nasalis superior, dan konka nasalis suprema akan mengalami rudimenter.

    • Konka nasalis Inferior
                   - Letaknya paling bawah, dekat vestibulum nasi
                   - Melekat pada os.Maksila dan labirin etmoid
                   - Terdapat meatus inferior dan muara dari duktus naso lakrimal

    • Konka nasalis Media
                   - Terdapat meatus Media yang merupakan muara dari sinus maksila, etmoid anterior dan 
                      sinus frontal.
    • Konka nasalis superior
                   - Terdapat Meatus Superior yang merupakan muara sinus etmoid posterior dan sinus 
                      sfenoid.

    Kita perlu memahami muara dari sinus- sinus paranasal dalam klinik, karena penting untuk diagnosa klinis sinus apa yang terkena, misalnya ada secret dan lendir di meatus medius yang terletak pada konka nasalis media, maka kemungkinan sinus yang terkena adalah sinus maksila, sinus etmoid anterior, dan sinus frontalis, begitu juga jika ada secret dan lendir di Meatus superior yang terletak pada konka nasalis suprior, maka yang terkena adalah sinus etmoid posterior dan sinus sfenoid.

    Selain itu yang penting di perhatikan juga adalah sinus maksila, dimana sinus ini mempunyai dasar yang sangat berdekatan dengan akar gigi rahang atas, yaitu premolar (P1 dan P2),molar(M1danM2), kadang-kadang juga gigi taring (C) dan gigi molar M3. bahkan akar- akar gigi tersebut dapat menonjol kedalam sinus, sehingga infeksi dari gigi geligi bisa naik keatas menyebabkan sinusitis. Sinusitis maksila paling sering terkena.


    ROTGEN FOTO
    Pada foto rotgen tampak gambarannya, yaitu :

    • Tampak kesuraman pada sinus yang bersangkutan
    • Tampak gambaran air fluit level
    • Atau tampak penebalan dinding mukosa sinusnya
    Untuk infeksi sinusitis pada gambaran radiologi foto rotgen, kita dapat membedakan apakah sinusitis kronis atau sinusitis akut, hal ini di tandai dimana pada sinusitis akut tampak gambaran air fluid level yang hanya akan nampak pada kondisi akut, sedangkan pada kondisi kronis sinusitis pada gambaran radiologinya akan nampak penebalan dinding sinus tetapi tidak nampak air fluid level.

    Walaupun pada foto rotgen kita bisa membedakan sinusitis akut dan sinusitis kronis berdasarkan penebalan mukosa dinding sinus, tetapi penebalan dinding sinus itu bukan hanya karena infeksi kronis sinusitis, melainkan juga karena proses fibrotik atau sikatric, pada foto rotgen sendiri, kita tidak dapat apakah penebalan dinding mukosa sinus itu di sebabkan oleh infeksi kronis atau karena fibrosis dinding mukosa sinus.
    Untuk membedakannya haruslah dengan modalitas pemeriksaan S.P.N (Sinus para nasal) dengan CT-scan, dimana pada CT-Scan :
    • Jika dengan CT-scan kontras tampak enchancement, berarti menunjukan proses peradangan sinusitis kronis.

    CT SCAN
               Teknik pemeriksaan CT-Scan SPN merupakan pemeriksaan radiologi untuk mendapatkan gambaran irisan dari sinus paranasal baik secara aksial maupun coronal. CT-Scan SPN memberikan tampilan yang memuaskan atas sinus dan dapat menilai opasitas, penyebab, dan jenis kelainan dari sinus. CT-Scan SPN baik dalam memperlihatkan dekstruksi tulang dan mempunyai peranan penting dalam perencanaan terapi serta menilai respon terhadap radioterapi. Hal-hal tersebut merupakan kelebihan CT-Scan SPN dibandingkan dengan foto polos SPN biasa 

    Indikasi pemeriksaan CT-Scan SPN (sinus para nasal)
    • Sespect mass, lesi atau tumor.
    • Infeksi atau alergi 
                    - Udara dalam sinus digantikan oleh cairan/ mukosa yang menebal hebat atau kombinasi 
                      keduanya
    • Mukokel
                   - Merupakan sinus yang mengalami obstruksi. CT-Scan SPN jelas memperlihatkan 
                     ukuran dan luas mukokel.
    • Karsinoma sinus atau rongga hidung
                   - CT-Scan SPN baik dalam menampakkan dekstruksi tulang akibat tumor, luas dan 
                      invasi tumor.


    Teknik Pemeriksaan
    Pemeriksaan CT-Scan SPN dengan kasus mass menggunakan dua jenis potongan , yaitu potongan axial dan potongan coronal.
    1. Potongan Axial
    a) Posisi pasien : pasien berbaring supine di atas meja pemeriksaan. Kedua lengan di samping tubuh, kaki lurus ke bawah dan kepala berada di atas headrest (bantalan kepala ). Posisi pasien diatur senyaman mungkin.
    b) Posisi objek : kepala diletakkan tepat di terowongan gantry, mid sagital plane segaris tengah meja. Mid axial kepala tepat pada sumber terowongan gantry
    gambar posisi pasien potongan axial


    2. Potongan Coronal  
    Potongan coronal merupakan teknik khusus.
    Posisi pasien : pasien berbaring prone di atas meja pemeriksaan dengan bahu diganjal bantal. Kepala digerakkan ke belakang (hiperekstensi) sebisa mungkin dengan membidik menuju vertikal. Gantry sejajar dengan tulang-tulang wajah.
    Posisi objek : kepala tegak atau digerakkan ke belakang (hiperekstensi) sebisa mungkin dan diberi alat fiksasi agar tidak bergerak
    gambar pasien posisi coronal
    Gambaran Air Fluid Level pada sinus paranasal, dapat di sebabkan oleh :
    • Pencucian sinus oleh suatu proses
    • Adanya fracture tulang di sinus atau tidak dekat sinusnya, misalnya sinus sphenoidalis
    • Kelainan- kelainan akibat penyakit darah, misalnya penyakit Von Willebarnd diesease yang menyebabkan pendarahan mukosa sinus.
    Anda dapat memperhatikan beberapa foto rotgen sinusitis di bawah ini.

    Foto rotgen sinusitis

    Spoiler
    :




    Judul

    Spoiler
    :





    SLIMING CAPSUL
    Suplement pelangsing terbaik. Lulus Standard GMP (Good Manufacturing Practice) dan uji tes SGS. Pesan sekarang Juga!!!
    sikkahoder.blogspot
    ABE CELL
    (Jamu Tetes)Mengatasi diabetes, hypertensi, kanker payudara, mengurangi resiko stroke, meningkatkan fungsi otak, dll.
    sikkahoder.blogspot
    MASKER JERAWAT
    Theraskin Acne Mask (Masker bentuk pasta untuk kulit berjerawat). Untuk membantu mengeringkan jerawat.
    sikkahoder.blogspot
    ADHA EKONOMIS
    Melindungi kulit terhadap efek buruk sinar matahari, menjadikan kulit tampak lenih cerah dan menyamarkan noda hitam di wajah.
    sikkahoder.blogspot
    BIO GLOKUL
    Khusus dari tanaman obat pilihan untuk penderita kencing manis (Diabetes) sehingga dapat membantu menstabilkan gula darah
    sikkahoder.blogspot


    ADVERTISE HERE Ads by Sikkahoder
    Body Whitening
    Mengandung vit C+E, AHA, Pelembab, SPF 30, Fragrance, n Solk Protein yang memutihkan kulit secara bertahap dan PERMANEN!!
    Sikkahoder.blogspot
    PENYEDOT KOMEDO
    Dengan alat ini, tidak perlu lg memencet hidung, atau bagian wajah lainnya untuk mengeluarkan komedo.
    Sikkahoder.blogspot
    Obat Keputihan
    Crystal-X adalah produk dari bahan-bahan alami yang mengandung Sulfur, Antiseptik, Minyak Vinieill. Membersihkan alat reproduksi wanita hingga kedalam.
    Sikkahoder.blogspot
    DAWASIR
    Obat herbal yang diramu khusus bagi penderita Wasir (Ambeien), juga bermanfaat untuk melancarkan buang air besar dan mengurangi peradangan pada pembuluh darah anus
    Sikkahoder.blogspot
    TERMOMETER DIGITAL
    Termometer digital dengan suara Beep. Mudah digunakan, gampang dibaca dengan display LCD dan suara beep ketika selesai mendeteksi suhu.
    Sikkahoder.blogspot


    ADVERTISE HERE Ads by Sikkahoder