MENGAPA DBD BERBAHAYA?


DEMAM BERDARAH DENGUE


Demam Berdarah Dengeu (DBD) di Indonesia dicurigai di Surabaya pada tahun 1968, tetapi konfirmasi virologis baru diperoleh pada tahun 1970. Saat kejadian luarbiasa berlangsung pada tahun 1988, 1039 pasien dirawat di RSCM dengan case-fatality rate (CFR) mencapai 13%. Data bagian Rekam Medik RSCM pada tahun 2000 menunjukkan 314 kasus DBD, dengan CFR 2,2%. Dengan upaya serta berbagai program Departemen Kesehatan RI bersama masyarakat berhasil menurunkan CFR nasional dari8 42,8% pada tahun 1991 menjadi 2% pada saat ini. Meski pelbagai pedoman pengobatan tersedia tetapi dalam tatalaksana pasien seringkali dijumpai keadaan yang membingungkan. Makalah ini dibuat dalam usaha untuk mengatasi kebingungan tersebut di atas.

Gejala Klinis
Seperti kita ketahui diagnosis DBD berdasarkan kriteria WHO (1986). Gejala klinis yang ditemukan adalah seperti terlihat pada tabel di bawah ini:



Nyata terlihat bahwa petekie dan uji coba tourniquet tidak selalu ditemukan pada pasien DBD.

Demam Dengue (DD) merupakan penyakit demam akut selama 2-7 hari, ditandai dengan dua atau lebih manifestasi klinis sebagai berikut:

  • Nyeri kepala
  • Nyeri retro-orbital (nyeri di bagian belakang orbita mata)
  • Mialgia (badan terasa pegal-pegal) atau artralgia (nyeri pada satu sendi atau lebih tanpa disertai peradangan atau keterbatasan gerak sendi)
  • Ruam kulit (rash)

MANIFESTASI PENDARAHAN 

  • Petekie adalah bintik merah kecil di kulit yang merupakan akibat keluarnya sejumlah kecil darah. Petekie sering sulit dibedakan dengan bekas gigitan nyamuk. Untuk membedakannya, regangkan kulit, jika bintik merah pada kulit tersebut hilang maka bukan petekie. Petekie merupakan tanda perdarahan yang sering ditemukan. Tanda ini dapat muncul pada hari-hari pertama demam.
  • Uji bendung/torniquet sebagai manifestasi perdarahan kulit paling ringan dapat dinilai sebagai uji presumtif karena tes itu positif pada hari-hari pertama demam. Di daerah endemis DBD, uji torniket merupakan pemeriksaan penunjang presumtif bagi diagnosis DBD apabila dilakukan pada yang menderita demam lebih dari 2 hari tanpa sebab yang jelas. Uji torniket dilakukan sebagai berikut:
    • Periksa tekanan darah
      • Berikan tekanan di antara sistolik dan diastolik pada alat pengukur yang dipasang pada lengan di atas siku; tekanan ini diusahakan menetap selama percobaan
      • Setelah dilakukan tekanan selama 5 menit, perhatikan timbulnya petekie di kulit lengan bawah bagian medial pada sepertiga bagian proksimal
    • Uji dinyatakan positif bila pada satu inci persegi (2,8 x 2.8 cm) didapat lebih dari 20 petekie
    • Pada penderita DBD, uji torniket umumnya memberikan hasil positif. Pemeriksaan itu dapat memberikan hasil negatif atau positif lemah selama masa syok berat. Bila pemeriksaan diulangi setelah syok ditanggulangi, pada umumnya akan didapat hasil positif, bahkan positif kuat.
  • Leukopenia dan pemeriksaan serologi dengue positif
    • Leukopenia adalah penurunan jumlah sel darah putih (leukosit) ditemukan dalam darah, yang menempatkan individu pada peningkatan risiko infeksi. Nilai normal leukosit:
      • Dewasa  : 4.000 – 10.000/mm3
      • Bayi/Anak         : 9.000 – 12.000/mm3
      • Bayi baru lahir  : 9.000 – 30.000/mm3
  • Pemeriksaan serologi dengue
    • Setelah tubuh terinfeksi virus dengue, berbagai perubahan akan terjadi dalam serum penderita. Viremia terjadi satu minggu setelah terjadinya infeksi, diikuti oleh pembentukan IgM-antidengue. IgM berada dalam waktu yang relatif singkat dan akan disusul segera oleh pembentukan IgG. Sekitar hari kelima infeksi, terbentuk antibodi yang bersifat menetralisasi virus (neutralizing antibody/NT). Titer antibodi NT akan naik dengan cepat, kemudian menurun secara lambat untuk waktu lama, biasanya seumur hidup. Setelah pembentukan antibodi NT, selanjutnya akan timbul antibodi yang mempunyai sifat menghambat hemaglutinasi sel darah merah  (haemaglutination inhibiting antibody/HI). Titer antibodi HI naik sejajar dengan antibodi NT, kemudian turun perlahan, tetapi lebih cepat daripada antibodi NT. Antibodi yang terakhir, yaitu antibodi yang mengikat komplemen (complement fixing antibody/CF), timbul pada sekitar hari ke-20. Titer antibodi itu naik setelah perjalanan penyakit mencapai maksimum dalam waktu 1-2 bulan, kemudian turun secara cepat dan menghilang setelah 1-2 tahun.
Pada dasarnya diagnosis konfirmasi infeksi virus dengue ditegakkan atas hasil pemeriksaan serologik atau hasil isolasi virus. Dasar pemeriksaan serologis adalah membandingkan titer antibodi pada masa akut dengan konvalesen. Teknik pemeriksaan serologik yang dianjurkan WHO ialah pemeriksaan HI dan CF. Kedua cara itu membutuhkan 2 contoh darah. Contoh darah pertama diambil pada waktu demam akut, sedangkan yang kedua pada masa konvalesen yang diambil 1-4 minggu setelah perjalanan penyakit.

Interpretasi hasil pemeriksaan berdasarkan kriteria WHO adalah sebagai berikut:

  • Pada infeksi primer, titer antibodi HI pada masa akut, yaitu apabila serum diperoleh sebelum hari ke-4 sakit adalah kurang dari 1:20 dan titer akan naik 4x atau lebih pada masa konvalesen, tetapi tidak akan melebihi 1:1280
  • Pada infeksi sekunder, adanya infeksi baru (recent dengue infection) ditandai oleh titer antibodi HI kurang dari 1:20 pada masa akut, sedangkan pada masa konvalesen titer bernilai sama atau lebih besar dari 1:2560. Tanda lain infeksi sekunder ialah apabila titer antibodi akut sama atau lebih besar daripada 1:20 dan titer akan naik 4 kali atau lebih pada masa konvalesen
    • Dugaan infeksi sekunder yang baru terjadi (presumptive diagnosis) ditandai oleh titer antibodi HI yang sama atau lebih besar dari 1:1280 pada masa akut. Dalam hal ini tidak diperlukan kenaikan titer 4x atau lebih pada masa konvalesen.
Pada saat ini terdapat metode untuk membuat diagnosis infeksi dengue pada masa akut melalui deteksi IgM dan antigen virus, baik sendiri-sendiri maupun dalam bentuk kompleks IgM-antigen dengan memanfaatkan teknik ELISA mikro. Selain itu secara komersial telah beredar dengue blot yang dapat digunakan sebagai uji diagnostik yang cepat pada masa akut untuk memastikan diagnosis infeksi dengue sekunder.
Perbedaan utama antara DD dan DBD adalah pada DBD ditemukan adanya kebocoran plasma.


Menurut sumber lain, masa tunas demam dengue berkisar 3-15 hari, umumnya 5-8 hari. Permulaan penyakit biasanya mendadak. Gejala prodromal meliputi nyeri kepala, nyeri berbagai bagian tubuh, anoreksi, menggigil, dan malaise. Pada umumnya ditemukan sindrom trias, yaitu demam tinggi, nyeri pada anggota badan, dan timbul ruam (rash). Ruam biasanya timbul 6-12 jam sebelum suhu naik pertama kali, yaitu pada hari ke-3 sampai hari ke-5 dan biasanya berlangsung selama 3-4 hari. Ruam bersifat makulopapular yang menghilang karena tekanan. Ruam mula-mula tampak di dada, tubuh serta abdomen, lalu menyebar ke anggota gerak dan muka.


Gejala klinis timbul mendadak disertai kenaikan suhu, nyeri kepala hebat, nyeri di belakang bola mata, punggung otot, sendi, dan disertai menggigil. Anoreksi dan obstipasi sering dilaporkan, selain itu perasaan tidak nyaman di daerah epigastrium disertai kolik dan perut lembek sering ditemukan. Pada stadium dini penyakit, sering timbul perubahan dalam indera pengecap.


Gejala klinis lain yang sering didapat ialah fotofobi, banyak keringat, suara serak, batuk, epistaksis, dan disuri. Kelenjar limfe servikal dilaporkan membesar pada 67-77% penderita yang disebut sebagai Castelani’s sign yang sangat patognomomik dan merupakan patokan yang berguna untuk membuat diagnosis banding.


Kelainan darah tepi pada penderita demam dengue ialah leukopeni. Neutrofili relatif dan limfopeni pada masa penyakit menular yang disusul oleh neutropeni relatif dan limfositosis pada periode memuncaknya penyakit dan pada masa konvalesen. Eosinofil menurun atau menghilang pada permulaan dan pada puncak penyakit. Hitung jenis neutrofil bergeser ke kiri selama periode demam, sel plasma meningkat pada periode memuncaknya penyakit dan terdapat trombositopeni. Darah tepi menjadi normal kembali dalam waktu 1 minggu.


Komplikasi demam dengue walaupun jarang dilaporkan ialah orkhitis atau ovaritis, keratitis, dan retinitis. Berbagai kelainan neurologis dilaporkan, diantaranya penurunan kesadaran, paralisis sensorium yang bersifat sementara, meningismus, dan ensefalopati.


Diagnosis banding mencakup berbagai infeksi virus, bakteri, dan parasit yang memperlihatkan sindrom serupa.


Dasar penatalaksanaan demam dengue ialah simptomatik dan suportif. Selama demam dianjurkan untuk istirahat baring. Antipiretik diberikan bila diperlukan. Analgesik atau sedatif ringan diberikan untuk penderita dengan keluhan nyeri hebat. Cairan dan elektrolit peroral dianjurkan diberikan pada penderita dengan demam tinggi yang disertai muntah, diare, atau pengeluaran keringat berlebihan.

Sindrom Syok Dengue (SSD)
Seluruh kriteria Demam Berdarah Dengue (DBD) disertai kegagalan sirkulasi dengan manifestasi:

  • Nadi yang cepat dan lemah
  • Tekanan darah turun ( 20 mmHg)
  • Hipotensi (dibandingkan standar sesuai umur)
  • Kulit dingin dan lembab
  • Gelisah
Sindrom syok dengue, menurut sumber lain : pada penderita DBD yang disertai syok, setelah demam berlangsung selama beberapa hari, keadaan umum penderita tiba-tiba memburuk. Pada sebagian besar penderita ditemukan tanda kegagalan peredaran darah yaitu kulit teraba lembab dan dingin, sianosis sekitar mulut, nadi menjadi cepat dan lemah, kecil sampai tidak dapat diraba. 


Tekanan darah menurun menjadi 20 mmHg atau kurang, dan tekanan sistolik menurun sampai 80 mmHg atau lebih rendah. Penderita kelihatan lesu, gelisah, dan secara cepat masuk dalam fase kritis syok. Penderita seringkali mengeluh nyeri di daerah perut sesaat sebelum syok timbul. Nyeri perut hebat seringkali mendahului perdarahan gastrointestinal, dan nyeri di daerah retrosternal tanpa sebab yang dapat dibuktikan memberikan petunjuk terjadinya perdarahan gastrointestinal yang hebat. Syok yang terjadi selama periode demam biasanya mempunyai prognosis buruk.


Tatalaksana sindrom syok dengue sama dengan terapi DBD, yaitu pemberian cairan ganti secara adekuat. Pada sebagian besar penderita, penggantian dini plasma secara efektif dengan memberikan cairan yang mengandung elektrolit, ekspander plasma, atau plasma, memberikan hasil yang baik. Nilai hematokrit dan trombosit harus diperiksa setiap hari mulai hari ke-3 sakit sampai 1-2 hari setelah demam menjadi normal. Pemeriksaan inilah yang menentukan perlu tidaknya penderita dirawat dan atau mendapatkan pemberian cairan intravena.


Penatalaksaaan Syok
Sebagai permulaan terapi, diberikan cairan pengganti yaitu Ringer Laktat. Cairan Ringer Laktat mengandung Na+ 130 mEq/l, Cl-109 mEq/l K+ 4 mEq/1, dan korektor basa dalam bentuk Natrium Laktat 28 mEq/l.


Dalam keadaan berat, cairan harus diberikan secara diguyur, artinya secepat-cepatnya dengan klem terbuka. Dalam keadaan syok yang tidak berat, cairan diberikan dengan kecepatan 20ml/kgBB/jam. Pada penderita dengan syok berat, atau penderita dengan syok tidak berat tetapi tidak memberikan respons, diberikan plasma atau ekspander plasma. Umumnya plasma yang diperlukan berjumlah 20-30 ml/kgBB.


Bila syok sudah diatasi, nadi sudah jelas teraba, amplitudo nadi cukup besar, tekanan sistolik 80 mmHg atau lebih, maka kecepatan tetesan dikurangi menjadi 10ml/kgBB/jam. Karena kebocoran plasma dapat berlangsung 24-48 jam, maka pemberian cairan intravena dipertahankan walaupun tanda-tanda vital telah menunjukkan perbaikan nyata. Hematokrit merupakan indeks yang dapat dipercaya dalam menentukan kebocoran plasma, karena itu pemeriksaan hematokrit perlu dilakukan secara periodik. Kecepatan pemberian cairan selanjutnya disesuaikan dengan gejala klinis vital dan nilai hematokrit.


Dalam masa penyembuhan, cairan dalam ruang ekstravaskular akan direabsorpsi kembali dalam ruang vaskular. Pada keadaan itu pemberian cairan harus dilakukan dengan hati-hati. Menurunnya nilai hemoglobin dan hematokrit pada masa ini jangan diartikan sebagai tanda terjadinya perdarahan gastrointestinal. Evaluasi klinis, nadi, tekanan darah, pernapasan, suhu, dan pengeluaran urin dilakukan lebih sering. Indikasi pemberian transfusi darah ialah pada penderita dengan perdarahan gastrointestinal hebat. Kadang-kadang perdarahan gastrointestinal berat dapat diduga bila nilai hemoglobin dan hematokrit menurun, meskipun perdarahannya sendiri tidak kelihatan. Dalam keadaan itu dianjurkan pemberian darah.


Bila penatalaksanaan tidak tepat, penderita dapat masuk dalam syok berat (profound shock) dan penderita dapat meninggal dalam waktu 12-24 jam. Penatalaksanaan syok yang tidak adekuat akan menimbulkan komplikasi asidosis metabolik, hipoksi, dan perdarahan gastrointestinal yang hebat dengan prognosis buruk. Sebaliknya, dengan pengobatan tepat, masa penyembuhan berlangsung cepat sekali. Penderita menyembuh dalam waktu 2-3 harri. Selera makan yang bertambah merupakan petunjuk prognosis baik.


Untuk memudahkan mengikuti perjalanan klinis penderita dengan syok, dibuat data klinis yang mencantumkan tanggal dan waktu pemeriksaan serta memuat hasil pemeriksaan hemoglobin, hematokrit, tekanan darah, nadi, pernapasan, suhu, pengeluaran urin, jenis, dan kecepatan cairan yang diberikan serta jumlah perdarahan gastrointestinal bila ada. Penderita dengan syok berulang, syok yang tidak memberikan respons terhadap pemberian cairan dan yang memperlihatkan perdarahan gastrointestinal hebat bersamaan dengan syok atau setelah syok diatasi, diusahakan untuk dirawat di unit perawatan khusus.


Pemeriksaan Penunjang
Saat ini uji serologi Dengeu dan IgG seringkali diminta untuk diperiksa. Pada infeksi primer, IgM akan muncul dalam darah hari ke-3, mencapai puncaknya pada hari ke-5 dan kemudian menurun serta menghilang setelah 60 - 90 hari. IgG baru muncul kemudian dan terus ada dalam darah. Pada infeksi sekunder, IgM pada masa akut terdeteksi pada 70% kasus, sedang sebagian besar IgG (90%), dapat terdeteksi lebih dini yaitu pada hari ke-2. Apabila ditemukan hasil IgM dan IgG negatif, tetapi gejala tetap menunjukkan kecurigaan DBD, dianjurkan untuk mengambil sampel kedua dengan jarak 3-5 hari bagi infeksi primer dan 2-3 hari bagi infeksi sekunder. Gambar 3. Muncul antibodi IgM dan IgG pada pasien yang terinfeksi virus dengue.


PENATALAKSANAAN
Perjalanan penyakit DBD terbagi atas 3 fase :
  1. Fase demam yang berlangsung selama 2-7 hari
  2. Fase kritis/bocornya plasma yang berlangsung umumnya hanya 24-48 jam
  3. Fase penyembuhan (2-7 hari)
  4. Berdasarkan perjalanan penyakit tersebut maka tatalaksana kasus DBD secara umum dapat dibagi atas 3 fase tadi:
Fase demam
  1. Pengobatan sistomatik dan suportif
    • Parasetamol 10 mg/kg/dosis setiap 4-6 jam (Aspirin dan Ibuprofen merupakan indikasi kontra). Kompres hangat diberikan apabila pasien masih panas.
    • Pengobatan suportif yang dapat diberikan antara lain larutan oralit, jus buah atau susu dan lain-lain
  2. Apabila pasien memperlihatkan tanda dehidrasi dan muntah hebat, koreksi dehidrasi dan apabila cairan intra vena tidak dapat dihentikan, jangan lebih dari 24 jam. Apabila cairan intra vena tidak dapat dihentikan, berikan cairan secukupnya, sekitar separuh kebutuhan rumatan
  3. Semua pasien tersangka dengeu harus diawasi dengan ketat setiap sejak hari sakit ke-3 Selama fase demam, sulit untuk membedakan antara pasien demam dengeu (DD) dengan DBD. Ruam makulopapular dan mialga/artralgia lebih banyak ditemukan pada pasien dengeu. Setelah bebas demam selama 24 jam tanap antipiretik, pasien demam dengeu akan masuk dalam fase penyembuhan, sedangkan pasien DBD memasuki fase kritis. Sebagian pasien ini sembuh setelah pemberian cairan intravena, sedangkan kasus berat akan jatuh ke dalam fase syok.
  4. Pemantauan mealui Pemeriksaan Fisis :  tanda-tanda vital  berupa waspada gejala syok, perabaan hati berupa hati yang membesar dan lunak merupakan indikasi mendekati fase    kritis, pasien harus diawasi ketat dan dirawat di rumah sakit
Pemeriksaaan Laboratorium Darah tepi
  • Leukopenia kurang dari 5000 sel/mm3 dam limfosis, peningkatan limmbosit atipikal mengindentifikasikan dalam waktu 24 jam pasien akan bebas demam serta memasuki fase kritis
  • Trombositopenia mengidentifikasikan pasien memasuki fase kritis dan memerlukan pengawasan ketat di Rumah Sakit
  • Peningkatan nilai Ht 10-20 % mengidentifikasikan pasien memasuki fase kritis dan memerlukan pengobatan cairan intravena apabila pasien tidak dapat minum oral. Pasien harus dirawat dan diberikan cairan sesuai kebutuhan. Penurunan Ht merupakan tanda-tanda perdarahan
Berikan penerangan pada orang tua mengenai pertanda gejala syok yang mengharuskan orang tua membawa anaknya ke Rumah Sakit, antara lain:
  • Keadaan memburuk sewaktu pasien mengalami penurunan suhu
  • Setiap perdarahan
  • Nyeri abdominal akut dan hebat
  • Mengantuk,lemah badan,tidur sepanjang hari
  • Menolak untuk makan dan minum
  • Lemah badan,gelisah
  • Perubahan tingkah laku
  • Kulit dingin dan lembab
  • tidak b.a.k selama 4-6 jam
Indikasi rawat
  • Adanya tanda-tanda syok
  • Sangat lemah sehingga suapan oral tidak dapat mencukupi
  • Perdarahan
  • Hitung trombosit kurang dan sama dengan 100,000/mm3 dan atau peningkatan Ht 10-20%
  • Perburukan ketika penurunan suhu
  • Nyeri abdominal akut hebat
  • Tempat tinggal yang jauh dari Rumah Sakit
Fase kritis (berlangsung 24-48 jam) sekitar hari ke-3 sampai dengan hari ke-5 perjalanan penyakit Umumnya pada fase ini pasien tidak dapat makan dan minum oleh karena anoreksia atau dan muntah
Tatalaksana umum
    • Rawat di bangsal khusus atau sudut tersendiri sehingga mudah mengawasi. Catat tanda vital, asupan dan luaran cairan dalam lembar khusus
    • Berikan oksige pada kasus syok
    • hentikan perdarahan dengan tindakan yang tepat
    • Hindari tindakan prosedur yang tidak perlu, seperti pemasangan pipa nasogastrik pada perdarahan saluran cerna
Kewaspadaan perlu ditingkatkan pada pasien dengan resiko tinggi, seperti:
    • Bayi
    • DBD derajat III dan IV
    • Obesitas
    • Perdarahan masif
    • Penurunan kesadaran
    • Mempunyai penyulit lain, seperti talasemia
    • Rujukan


Tatalaksana Cairan
Indikasi pemberian cairan intravena:
    • Trombositopenia, peningkatan Ht 10-20%, pasien tidak dapat makan dan minum melalui oral
    • Syok
Jenis cairan pilihan
    • Kristaloid (jenis cairan pilihan diantaranya: ringer laktat dan ringer asetat terutama pada fase syok)
    • Koloid (diidentifikasikan pada keadaan syok berulang atau syok berkepanjangan)
Jumlah cairan
    • Selama fase kritis pasien harus menerima sejumlah cairan rumatan ditambah defisit 5-8 % atau setara dehidrasi sedang
    • Pada pasien dengan berat badan lebih dari 40 kg, total cairan intravena dengan dua kali rumatan
    • Pada pasien obesitas, perhitungkan cairan intravena berdasarkan berat badan ideal.

Tetesan
    • Pada kasus non syok, untuk pasien dengan berat badan (BB) dengan BB<15 kg, awali dengan 6-7 ml/kg/jam. Antara 15-40 kg awali dengan tetesan sebanyak 5 ml/kg/jam, sedangkan pada anak dengan BB>40 kg cairan cukup 3-4 ml/kg/jam. Untuk kasus DBD derajat III, mulai dengan tetesan 10 ml/kg/jam
    • Kasus DBD derajat IV, berikan cairan 10 ml/kgBB atau tetesan lepas selama 10-15 menit sampai tekanan darah dan nadi dapat diukur, kemudian turunkan sampai 10 ml/kg/jam

Penyesuaian tetesan
Setelah masa kritis terlampaui maka pasien akan masuk dalam fase penyembuhan, yang mana pada saat ini keadaan overload mengancam. Pada pasien DBD cairan intravena harus diberikan dalam jumlah minimal agar sirkulasi intrvaskuler tetap memadai, sebab apabila lebih banyak cairan yang diberikan akan terjadi kebocoran ke dalam rongga pleura dan abdominal yang menyebabkan distres pernafasan di kemudian hari. Tetesan intravena harus disesuiakan dengan :
    • Kondisi klinis: penampilan umum, pengisisan kapiler, nafsu makan
    • Tanda vital: tekanan darah, suhu tubuh, frekuensi nafas
    • Hematokrit
    • Luaran urin
Enam sampai 12 jam pertama setelah syok, tekanan darah dan nadi merupakan parameter penting untuk menentukan tetesan, tetapi kemudian perhitungkan semua parameter sekaligus sebelum mengatur tetesan.


Pemantauan syok
    • Setelah resusitasi awal, pantau pasien 1 samapai 2 jam. Apabila tetesan tidak dapat dikurangi manjadi <10 ml/kg/jam, oleh karena tanda vital tidak stabil (tekanan nadi sempit, cepat dan lemah), ulangi pemerikasaan Ht
    • Apabila ada kenaikan, ganti cairan dengan koloid (pilihan:dextran-40) dengan tetesan 10 ml/kg/jam, siapkan darah dan nilai kembali pasien untuk kemungkinan pemberian transfusi darah apabila diperlukan
    • Pada pasien derajat IV:
      • Apabila nilai Ht awal rendah, pikirkan kemungkinan perdarahan internal dan pantau nilai Ht lebih sering, berikan transfusi darah segera
      • Koreksi gangguan metabolit dan elektrolit, seperti hipoglikemia, hiponatremia, dan asidosis
      • Setelah 6 jam, apabila Ht menurun, meski telah diberikan sejumlah besar cairan pengganti, tetesan tidak dapat diturunkan sampai < 10 ml/kg/jam, maka pertimbangkan untuk pemberian transfusi darah segera

Cairan koloid pilihan
    • Dextran-40 (10% dekstran dalam normal salin) hiperonkogenitas (osmolaritas 3X dari plasma), sehingga dapat mengikat volume lebih baik. Cairan koloid lain, atau plasma sendiri merupakan plasma pengganti dan mempunyai osmolaritas 1-1,4X daripada plasma
    • Tetesan dextran-40 harus 10 ml/kg/jam sehingga dapat mempertahankan osmolaritas maksimum ketika diberikan kepada pasien
    • Dosis maksimum dekstran-40 adalah 30 ml/kg/jam. Jangan memberikan lebih dari sejumlah ini karena akan menyebabkan gagal ginjal akut

Indikasi transfusi darah
    • Kehilangan darah bermakna, mis. > 10% volume darah total (Total volume darah=80 ml/kg). Berikan darah sesuai kebutuhan. Apabila packed red cell (PRC) tidak tersedia, dapat diberikan sediaan darah segar
    • Pasien dengan perdarahan tersembunyi. Penurunan Ht dan Tanda Vital yang tidak stabil meski telah diberi cairan pengganti dengan volume yang cukup banyak, berikan sediaan darah segar 10 ml/kg/kali atau PRC 5 ml/kg/kali
Indikasi transfusi trombosit : hanya diberikan pada perdarahan masif. Dosis: 0,2 U/kg/dosis

Fase penyembuhan
Secara umum, sebagian besar pasien DBD akan sembuh tanpa komplikasi dalam waktu 24-48 jam setelah syok. Indikasi pasien masuk ke dalam fase penyembuhan adalah:
    • Keadaan umum membaik
    • Meningkatnya nafsu makan
    • Tanda vital stabil
    • Ht stabil dan menurun sampai 35-40%
    • Diuresis cukup
    • Dapat ditemukan confluent petechial rash
    • Sinus bradikardi
Cairan intravena harus dihentikan segera apabila memasuki fase ini. Apabila nafsu makan tidak meningkat dan perut terlihat kembung dengan atau tanpa penurunan atau menghilangnya bising usus, kadar kalium harus diperiksa oleh karena terjadi fase hipokalemia pada fase ini (fase diuresis). Buah-buahan atau jus buah atau larutan oralit dapat diberikan untuk menanggulangi gangguan elektrolit ini


Indikasi pulang
    • Paling tidak 24 jam tidak demam tanpa antipiretik
    • Secara klinis tampak perbaikan
    • Nafsu makan baik
    • Nilai Ht stabil
    • Tiga hari sesudah syok
    • Tidak ada sesak nafas atau takipnea
    • trombosit kurang dari dan sama dengan 50.000/mm3 

BACA JUGA PEMBAHASAN LEBIH LENGKAP TENTANG DEMAM BERDARAH LAINNYA  DI SINI 


Share On

Technorati LinkedIn StumbleUpon

Judul Artikel: MENGAPA DBD BERBAHAYA?

Ilmu pengetahuan adalah tiket ke masa depan. Hari esok dimiliki oleh orang-orang yang mempersiapkan dirinya sejak hari ini..Tidak penting seberapa lambat Anda berjalan, selama Anda tidak berhenti.. Saya hanyalah seorang penulis kampung yang berusaha membagi secuil ilmu buat pembaca..Semoga yang saya sharing di sini bisa bermanfaat. Silahkan masukan email Anda pada kotak di bawah ini untuk mendapatkan update artikel, atau jika ingin bertanya, dapat melalui FB atau twitter saya dibawah ini.. Salam hangat dari MAUMERE, FLORES, NTT.


Your information will not be shared. Ever.
Comments
0 Comments
SLIMING CAPSUL
Suplement pelangsing terbaik. Lulus Standard GMP (Good Manufacturing Practice) dan uji tes SGS. Pesan sekarang Juga!!!
sikkahoder.blogspot
ABE CELL
(Jamu Tetes)Mengatasi diabetes, hypertensi, kanker payudara, mengurangi resiko stroke, meningkatkan fungsi otak, dll.
sikkahoder.blogspot
MASKER JERAWAT
Theraskin Acne Mask (Masker bentuk pasta untuk kulit berjerawat). Untuk membantu mengeringkan jerawat.
sikkahoder.blogspot
ADHA EKONOMIS
Melindungi kulit terhadap efek buruk sinar matahari, menjadikan kulit tampak lenih cerah dan menyamarkan noda hitam di wajah.
sikkahoder.blogspot
BIO GLOKUL
Khusus dari tanaman obat pilihan untuk penderita kencing manis (Diabetes) sehingga dapat membantu menstabilkan gula darah
sikkahoder.blogspot


ADVERTISE HERE Ads by Sikkahoder
Body Whitening
Mengandung vit C+E, AHA, Pelembab, SPF 30, Fragrance, n Solk Protein yang memutihkan kulit secara bertahap dan PERMANEN!!
Sikkahoder.blogspot
PENYEDOT KOMEDO
Dengan alat ini, tidak perlu lg memencet hidung, atau bagian wajah lainnya untuk mengeluarkan komedo.
Sikkahoder.blogspot
Obat Keputihan
Crystal-X adalah produk dari bahan-bahan alami yang mengandung Sulfur, Antiseptik, Minyak Vinieill. Membersihkan alat reproduksi wanita hingga kedalam.
Sikkahoder.blogspot
DAWASIR
Obat herbal yang diramu khusus bagi penderita Wasir (Ambeien), juga bermanfaat untuk melancarkan buang air besar dan mengurangi peradangan pada pembuluh darah anus
Sikkahoder.blogspot
TERMOMETER DIGITAL
Termometer digital dengan suara Beep. Mudah digunakan, gampang dibaca dengan display LCD dan suara beep ketika selesai mendeteksi suhu.
Sikkahoder.blogspot


ADVERTISE HERE Ads by Sikkahoder